:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471808/original/039879100_1768296394-unnamed_-_2026-01-13T151841.748__1_.png)
Liburan ke Jepang, yang sebelumnya sering diasosiasikan dengan biaya tinggi, kini semakin terjangkau bagi pelancong Indonesia, didorong oleh depresiasi yen Jepang dan munculnya strategi perjalanan hemat. Dengan nilai tukar yen terhadap rupiah yang berada di kisaran 106.19 hingga 106.26 pada 13 Januari 2026, perjalanan ke Negeri Sakura menjadi lebih menarik secara finansial, memicu lonjakan kunjungan wisatawan dari Indonesia.
Data dari Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat peningkatan signifikan wisatawan Indonesia. Sebanyak 293.400 wisatawan Indonesia berkunjung ke Jepang dari Januari hingga Juli 2024, naik 27,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut melonjak menjadi 350.600 wisatawan dari Januari hingga September 2024. Secara keseluruhan, kunjungan wisatawan Indonesia mencapai rekor baru 517.600 orang sepanjang tahun 2024, melebihi 429.382 pengunjung pada tahun 2023. Fenomena ini tidak terlepas dari pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar AS yang juga memengaruhi biaya perjalanan secara keseluruhan.
Namun, daya tarik ekonomi ini juga berhadapan dengan tantangan. Pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan kenaikan pajak turis, berpotensi dari 1.000 yen menjadi 3.000 hingga 5.000 yen, untuk mengatasi masalah overtourism dan mendanai infrastruktur. Kyoto bahkan berencana menaikkan pajak penginapan hingga 10.000 yen per malam mulai tahun 2026. Sejumlah destinasi, seperti Kastil Himeji mulai Maret 2026 dan Kuil Nanzoin sejak Mei 2025, telah menerapkan harga tiket masuk yang berbeda antara turis asing dan warga lokal. Penerapan sistem izin perjalanan elektronik JESTA juga berpotensi menambah biaya sekitar Rp300.000 bagi wisatawan bebas visa.
Strategi cerdas menjadi kunci bagi wisatawan Indonesia yang ingin menikmati Jepang dengan anggaran terbatas. Tiket pesawat menjadi komponen biaya awal terbesar, dengan bulan September tercatat sebagai periode termurah untuk penerbangan pulang pergi dari Jakarta ke Jepang, dengan rata-rata sekitar Rp6.543.314. Sebaliknya, bulan Desember dan Maret merupakan periode termahal. Maskapai berbiaya rendah seperti Scoot, Cebu Pacific, Indonesia AirAsia, VietJet Air, Peach Airline, dan Super Air Jet menawarkan pilihan kompetitif, dengan penerbangan sekali jalan ke Tokyo mulai dari Rp1.922.200 di bulan Februari. Memesan tiket pulang-pergi di luar musim puncak atau jauh-jauh hari dapat menghasilkan penghematan signifikan, dengan beberapa penawaran termurah mencapai Rp3.913.043 untuk pulang pergi Jakarta-Jepang.
Akomodasi juga menawarkan fleksibilitas anggaran. Hotel kapsul, yang kini berevolusi menjadi lebih mewah dan unik, dapat menjadi alternatif terjangkau dibanding hotel konvensional. Tarifnya bervariasi, mulai dari sekitar 4.000 hingga 6.500 yen per malam untuk pengalaman yang lebih nyaman di Tokyo. Rata-rata harga hostel di Tokyo sekitar Rp786.969 per malam, dengan beberapa penawaran di asrama mulai dari 2.000 hingga 3.000 yen per orang. Pilihan penginapan seperti hostel dan guest house di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka dapat ditemukan dengan harga mulai dari Rp200.000 hingga Rp500.000 per malam.
Dalam hal transportasi, kenaikan harga Japan Rail Pass (JR Pass) pada 1 Oktober 2023, mencapai 77 persen, mendorong pencarian alternatif. Wisatawan kini beralih ke JR Pass regional seperti JR Hokuriku Arch Pass seharga 24.500 yen untuk area terbatas, atau tiket Shinkansen sekali jalan untuk rute spesifik seperti Tokyo-Osaka. Bus malam jarak jauh juga menawarkan opsi yang lebih hemat dan berpotensi menghemat biaya akomodasi. Di dalam kota, penggunaan kartu IC seperti Suica atau Pasmo, serta tiket harian seperti Tokyo Subway Ticket yang menawarkan perjalanan tanpa batas 24 jam seharga 800 yen (sekitar Rp85.000), menjadi pilihan cerdas. Untuk rute jarak jauh tertentu, penerbangan domestik dari maskapai seperti ANA dan JAL bisa lebih cepat dan terjangkau dibandingkan Shinkansen.
Aspek kuliner di Jepang juga dapat ditekan biayanya tanpa mengurangi pengalaman. Minimarket atau "konbini" seperti 7-Eleven, Family Mart, dan Lawson menawarkan berbagai pilihan makanan siap saji yang lezat dan terjangkau, seperti onigiri (nasi kepal) mulai dari 130 yen (sekitar Rp14.000), sandwich mulai dari 280 yen (sekitar Rp30.000), dan bento (kotak makan siang) seharga sekitar 400 yen (sekitar Rp43.000).
Jepang juga kaya akan destinasi wisata gratis atau berbiaya rendah yang tak kalah memukau. Dek observasi di Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo menawarkan panorama kota yang menakjubkan tanpa biaya. Kuil Senso-ji di Asakusa dan Taman Nara, dengan rusa-rusanya yang ikonik, juga dapat dinikmati secara gratis. Berjalan-jalan di Harajuku atau Shibuya untuk menikmati budaya jalanan, atau bersantai di Ueno Park yang terkenal dengan musim sakuranya, merupakan aktivitas yang minim biaya.
Pergeseran tren dari perjalanan mewah ke liburan hemat di Jepang menunjukkan adaptasi wisatawan Indonesia terhadap kondisi ekonomi dan semakin bervariasinya pilihan perjalanan. Meskipun kebijakan baru terkait pajak turis dan biaya masuk destinasi berpotensi memengaruhi total pengeluaran di masa depan, perencanaan yang matang dan pemanfaatan opsi hemat yang tersedia tetap memungkinkan pengalaman eksplorasi Jepang yang kaya dan berkesan.