Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ledakan Wisata Yoga: Kuil di Ambang Penutupan Abadi

2026-01-22 | 16:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T09:19:27Z
Ruang Iklan

Ledakan Wisata Yoga: Kuil di Ambang Penutupan Abadi

Denpasar, Indonesia — Gelombang pasang pariwisata yoga global, sebuah industri bernilai miliaran dolar, kini menciptakan dilema kritis bagi kuil-kuil suci di destinasi populer seperti Bali, Indonesia, dan Rishikesh, India, dengan ancaman nyata degradasi spiritual dan potensi penutupan permanen. Peningkatan drastis jumlah wisatawan yang mencari pencerahan spiritual melalui yoga, yang nilainya diperkirakan mencapai USD 174,16 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan tumbuh menjadi USD 245,25 miliar pada tahun 2030, membanjiri situs-situs suci, mengikis keaslian budaya, dan membebani infrastruktur lokal. Konflik antara tujuan komersial pariwisata dan kesucian tempat ibadah kini mendorong beberapa komunitas untuk mempertimbangkan langkah-langkah drastis guna melindungi warisan mereka dari kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

Transformasi tempat-tempat suci menjadi daya tarik wisata memicu kekhawatiran yang mendalam di kalangan penjaga budaya dan umat. Ketika logika komersial menggantikan logika religius sebagai prinsip operasional dominan, kuil-kuil mengalami transformasi mendasar dari ruang sakral menjadi atraksi wisata, yang mengakibatkan pemisahan bentuk ritual dari isinya, marginalisasi umat, dan gangguan mekanisme transmisi budaya. "Pariwisata modern, bahkan ketika bersifat religius, mereduksi ruang sakral menjadi destinasi yang harus ditaklukkan daripada wilayah yang harus dihormati," demikian laporan Outlook India pada Maret 2025.

Di Bali, salah satu pusat yoga dunia, dampak overtourism terasa nyata. Biaya hidup meningkat, dan bentrokan budaya sering terjadi ketika wisatawan melanggar tempat-tempat suci. Pemerintah daerah Bali bahkan telah membentuk unit polisi pariwisata pada Februari lalu untuk menangani turis bermasalah dan memastikan kepatuhan terhadap aturan berpakaian di kuil-kuil, satu-satunya wilayah mayoritas Hindu di Indonesia. Pedoman pengunjung yang baru diterbitkan oleh Love Bali, platform pariwisata yang didukung pemerintah, secara eksplisit melarang wanita menstruasi memasuki area kuil suci (Utamaning Mandala & Madyaning Mandala) sejalan dengan kepercayaan tradisional Bali tentang ketidakmurnian spiritual. Aturan ini mencerminkan upaya yang berkembang untuk mengatasi perilaku tidak hormat oleh wisatawan yang telah menjadi perhatian serius di pulau tersebut, yang pada tahun 2024 menerima lebih dari 6,3 juta kedatangan internasional, melampaui rekor pra-pandemi.

India, sebagai tempat lahir yoga, juga mengalami lonjakan signifikan dalam pariwisata spiritual pasca-COVID-19, yang kini menyumbang hampir 60% dari total pariwisata domestik. Kota-kota seperti Rishikesh, yang dikenal sebagai 'Ibu Kota Yoga Dunia,' dan Varanasi, dengan ghat-ghat sucinya, menarik jutaan pengunjung, yang sayangnya juga membawa tantangan overtourism, tekanan infrastruktur, gangguan komunitas lokal, dan dilusi budaya. Keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kebutuhan untuk melestarikan kesucian situs-situs religius menjadi sangat penting.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa komersialisasi berlebihan pada warisan religius dapat secara sistematis mengganggu ruang temporal dan fungsional kuil. Penelitian di Thailand menemukan konflik spasial antara kegiatan turis dan religius sangat sering terjadi, gangguan ritme religius tradisional dilaporkan secara luas, dan menurunnya minat di kalangan biksu muda terhadap pendidikan agama cukup teramati. Sebuah studi etnografi tentang kuil-kuil Hindu juga menyoroti bagaimana transaksi finansial, seperti darshan berbayar dan ritual berbasis donasi, dapat menciptakan stratifikasi ekonomi dan mengubah pengalaman religius, membuat beberapa umat yang lebih tua menyatakan ketidaknyamanan atas monetisasi ibadah.

Kekhawatiran global terhadap keberlanjutan pariwisata di situs warisan dunia dan tempat-tempat suci terus meningkat. Organisasi seperti UNESCO telah menyoroti bahwa influx wisatawan, meskipun memberikan manfaat ekonomi, dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup penduduk, menyebabkan kerumunan, tekanan lingkungan, dan ketegangan pada sumber daya lokal. Beberapa situs telah ditutup sementara untuk rehabilitasi lingkungan akibat pariwisata berlebihan, seperti Maya Bay di Thailand. Meskipun bukan kuil, preseden ini menggarisbawahi langkah ekstrem yang mungkin diperlukan untuk melestarikan situs-situs yang terancam.

Masa depan pariwisata yoga menuntut pendekatan yang lebih berkelanjutan dan penuh hormat. Para ahli menyarankan strategi manajemen yang terdiferensiasi, termasuk sistem klasifikasi kuil, jam khusus untuk umat, dan dana perlindungan budaya, untuk menyeimbangkan manfaat ekonomi dengan pelestarian religius. Mendesain ulang pengalaman pengunjung, membatasi jumlah wisatawan, menyebarkan pengunjung ke lokasi yang kurang dikenal, dan menerapkan pajak pariwisata adalah beberapa solusi yang diajukan untuk memerangi overtourism. Tanpa tindakan proaktif dan kolaborasi antara pemerintah, industri pariwisata, dan komunitas lokal, semakin banyak kuil dan situs suci yang menghadapi ancaman kehilangan esensi spiritual mereka, bahkan hingga pertimbangan penutupan permanen untuk melindungi kesucian yang tersisa. Ini bukan hanya tentang melindungi bangunan fisik, tetapi juga menjaga jiwa budaya dan spiritual yang telah membentuk peradaban selama berabad-abad.