Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap dari Bulusaraung: Black Box dan Tiga Korban Kecelakaan ATR 42-500 Ditemukan

2026-01-22 | 08:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T01:19:17Z
Ruang Iklan

Terungkap dari Bulusaraung: Black Box dan Tiga Korban Kecelakaan ATR 42-500 Ditemukan

Tim SAR gabungan berhasil menemukan kotak hitam pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyusul ditemukannya tiga dari sepuluh korban setelah insiden jatuhnya pesawat di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Pesawat yang membawa tujuh awak dan tiga penumpang itu dinyatakan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar sebelum puing-puingnya ditemukan sehari kemudian di medan terjal yang sulit diakses. Penemuan kotak hitam pada Rabu, 21 Januari 2026, menjadi kunci penting untuk mengungkap penyebab kecelakaan yang telah diklasifikasikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT tersebut menjalankan misi patroli maritim untuk KKP. Saat mendekati Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) menginstruksikan pendaratan ke landasan pacu 21. Namun, petugas ATC mendeteksi pesawat tidak berada pada jalur pendaratan yang seharusnya dan memberikan arahan koreksi posisi, tetapi komunikasi kemudian terputus. Lokasi kecelakaan berada di ketinggian sekitar 5.100 kaki di puncak Gunung Bulusaraung, sebuah wilayah pegunungan yang curam dan berhutan lebat di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.

Proses pencarian dan evakuasi menghadapi tantangan besar akibat kondisi geografis yang ekstrem, dengan puing-puing dan korban ditemukan di dalam jurang yang curam. Pada Selasa, 20 Januari 2026, dua korban berhasil dievakuasi, seorang laki-laki dan seorang perempuan, dengan jasad dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Korban ketiga, yang belum diketahui jenis kelaminnya, ditemukan pada Rabu, 21 Januari 2026, pada pukul 12.30 WITA di lereng gunung. Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya Mohammad Syafii, menyatakan bahwa tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap korban lainnya dan bagian badan pesawat, menghadapi cuaca buruk berupa hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin.

Kotak hitam, yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), ditemukan utuh di bagian ekor pesawat, tersangkut sekitar 150 meter di bawah puncak Gunung Bulusaraung. Kolonel Dodog Triyo Hadi, yang terlibat dalam operasi penyelamatan, menjelaskan bahwa upaya pencarian difokuskan pada bagian belakang badan pesawat. Setelah lokasinya dipastikan, tim teknis melepaskan perangkat tersebut dari dudukannya di ekor pesawat. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono memastikan perekam penerbangan telah tiba di Jakarta pada hari yang sama dan menyatakan bahwa investigasi akan segera dimulai untuk memeriksa komunikasi terakhir kokpit dan menyinkronkan data ketinggian dari perekam penerbangan dengan fluktuasi cuaca lokal yang tercatat pada hari kecelakaan. Ketujuh awak pesawat yang terdaftar adalah Kapten Andy Dahananto sebagai pilot, Farhan Gunawan sebagai co-pilot, Hariadi sebagai petugas operasi penerbangan, Restu Adi P dan Dwi Murdiono sebagai teknisi pesawat, serta Florencia Lolita dan Esther Aprilita sebagai kru kabin. Tiga penumpang dari KKP diidentifikasi sebagai Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Noval.

Insiden ini kembali menyoroti tantangan keselamatan penerbangan di Indonesia, terutama dalam menghadapi kondisi geografis dan cuaca yang kompleks. Kecelakaan serupa, seperti jatuhnya Trigana Air Flight 267 jenis ATR 42-300 di Papua pada 2015, juga diklasifikasikan sebagai CFIT, di mana investigasi menemukan bahwa kru menyimpang dari jalur penerbangan standar dan sistem EGPWS tidak berfungsi. Kasus Adam Air Flight 574 pada 2007 juga menunjukkan kompleksitas penyelidikan kecelakaan udara di Indonesia, di mana penemuan kotak hitam dan proses pemulihan sempat terhambat. Data dan analisis dari kotak hitam pesawat IAT ATR 42-500 ini akan menjadi krusial untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan kesalahan manusia, masalah teknis, atau kondisi lingkungan. Hasil investigasi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perbaikan prosedur keselamatan penerbangan, khususnya untuk rute-rute dengan tantangan medan dan cuaca serupa, serta untuk meningkatkan pengawasan terhadap operasional pesawat di wilayah pegunungan Indonesia guna mencegah insiden tragis di masa mendatang.