Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jepang Kehilangan: 2 Panda Kembar Terakhir Kembali ke China dalam 7 Hari

2026-01-23 | 20:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T13:14:13Z
Ruang Iklan

Jepang Kehilangan: 2 Panda Kembar Terakhir Kembali ke China dalam 7 Hari

Xiao Xiao dan Lei Lei, dua panda kembar raksasa terakhir di Jepang, akan mengakhiri masa tinggal mereka yang populer di Kebun Binatang Ueno Tokyo pada 27 Januari 2026, sebelum kembali ke Tiongkok, menandai pertama kalinya Jepang tanpa seekor pun panda raksasa dalam lebih dari setengah abad. Kepulangan kedua panda berusia empat tahun ini, yang telah menjadi ikon kebanggaan dan daya tarik besar bagi wisatawan, terjadi di tengah ketegangan diplomatik yang meningkat antara Beijing dan Tokyo.

Keputusan pengembalian Xiao Xiao dan Lei Lei, yang lahir di Kebun Binatang Ueno pada Juni 2021, merupakan bagian dari perjanjian pinjaman standar Tiongkok yang menyatakan bahwa semua keturunan panda yang lahir di luar negeri adalah milik Tiongkok. Orang tua mereka, Shin Shin dan Ri Ri, tiba di Jepang pada tahun 2011 sebagai bagian dari kolaborasi penelitian pemuliaan. Sebelumnya, kakak perempuan mereka, Xiang Xiang, juga telah kembali ke Tiongkok pada Februari 2023, dengan kepergiannya yang disiarkan langsung di televisi lokal dan menyisakan kesedihan di kalangan penggemar Jepang. Selain itu, empat panda lainnya dari taman hiburan Adventure World di Prefektur Wakayama telah dipulangkan ke Tiongkok pada Juni 2025, meninggalkan Xiao Xiao dan Lei Lei sebagai panda terakhir di Jepang.

Sentimen publik Jepang terhadap panda-panda ini sangat mendalam. Permintaan untuk melihat Xiao Xiao dan Lei Lei untuk terakhir kalinya mencapai puncaknya, dengan aplikasi lotre untuk slot kunjungan terakhir pada 25 Januari 2026, melebihi 24,6 kali lipat dari ketersediaan. Banyak penggemar menyatakan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam atas kepergian mereka.

Implikasi ekonomi dari kepergian panda-panda ini bagi wilayah Ueno diperkirakan signifikan. Katsuhiro Miyamoto, seorang profesor emeritus ekonomi di Universitas Kansai, memperkirakan bahwa hilangnya panda dari Kebun Binatang Ueno akan mengakibatkan kerugian ekonomi tahunan setidaknya ¥15,4 miliar (sekitar $104 juta USD). Dampaknya melampaui kebun binatang itu sendiri, memengaruhi hotel, penginapan, restoran, kafe, dan toko suvenir di seluruh lingkungan. Data historis menunjukkan bahwa setelah kematian panda Ling Ling pada April 2008, jumlah pengunjung Kebun Binatang Ueno turun di bawah 3 juta untuk pertama kalinya dalam enam dekade.

Secara historis, panda raksasa telah lama menjadi alat penting dalam "diplomasi panda" Tiongkok, melambangkan persahabatan dan niat baik antara Tiongkok dan negara-negara penerima. Jepang pertama kali menerima panda pada tahun 1972, Kang Kang dan Lan Lan, menyusul normalisasi hubungan diplomatik dengan Tiongkok, yang segera menjadi sensasi nasional. Namun, penarikan panda-panda ini juga dapat mengindikasikan ketegangan dalam hubungan bilateral.

Pengembalian Xiao Xiao dan Lei Lei kali ini terjadi di tengah memburuknya hubungan Tiongkok-Jepang. Laporan menunjukkan bahwa tanggal kepulangan mereka bahkan dipercepat sekitar satu bulan dari jadwal semula pada Februari 2026, setelah konsultasi antara otoritas Jepang dan Tiongkok. Ketegangan diplomatik semakin memanas menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tentang kemungkinan kontingensi Taiwan, yang memicu kritik tajam dari Tiongkok. Duta Besar Tiongkok Fu Cong mengutuk komentar Takaichi sebagai "risiko serius terhadap perdamaian di Asia dan dunia."

Masa depan program pinjaman panda antara kedua negara masih diselimuti ketidakpastian. Meskipun beberapa pemerintah daerah dan kebun binatang Jepang telah menyatakan minat untuk meminjam panda baru, belum ada tanda-tanda kemajuan di tengah ketegangan yang ada. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyatakan harapannya agar pertukaran melalui panda dapat terus berlanjut. Namun, dengan kepergian Xiao Xiao dan Lei Lei, Jepang akan memasuki era tanpa panda, sebuah simbol diplomatik yang telah terjalin kuat selama lebih dari lima dekade. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Jepang akan menavigasi diplomasi budaya dan upaya konservasi tanpa duta besar berbulu yang paling dicintai ini.