
Gelombang kedatangan wisatawan pasca-pandemi telah membawa dampak meresahkan di salah satu lanskap alam paling ikonik di Jepang, Hutan Bambu Arashiyama di Kyoto, yang kini menghadapi kerusakan parah akibat tindakan vandalisme oleh turis. Fenomena "wisata gangguan" atau "meiwaku" ini telah menyebabkan ratusan batang bambu di situs Warisan Dunia UNESCO tersebut dicoret-coret dengan ukiran nama, inisial, dan pesan pribadi.
Inspeksi terbaru pada November 2025 mengungkap setidaknya 350 batang bambu di Hutan Bambu Arashiyama, sebuah Distrik Pemandangan Indah Nasional, telah dirusak dengan ukiran menggunakan benda tajam seperti pisau atau kunci. Kerusakan ini memicu kemarahan publik setelah insiden sekelompok turis Malaysia tertangkap kamera mengukir huruf "M" pada batang bambu, yang kemudian disiarkan oleh program berita Jepang NEWS 23 dan viral di media sosial.
Hutan Bambu Arashiyama, yang terletak di bagian barat laut Kyoto, telah menjadi daya tarik wisatawan domestik dan internasional sejak Periode Heian (794-1185) dan merupakan salah satu lokasi paling banyak difoto di Jepang. Namun, lonjakan wisatawan global, dengan Jepang mencatat hampir 27 juta kunjungan hingga September 2024 dan 36,87 juta kunjungan internasional sepanjang tahun itu, merupakan angka tertinggi dalam sejarah pariwisata negara tersebut, telah memperburuk masalah vandalisme ini.
Ishikawa Keisuke, ketua Asosiasi Jalan Perbelanjaan Arashiyama dan pemilik toko khusus barang-barang bambu, menyatakan keprihatinannya. "Sangat menyedihkan grafiti tersebut merusak pemandangan yang indah. Sangat menyedihkan juga bahwa kita harus mengeluarkan uang untuk memperbaikinya. Kami sangat ingin mereka menghentikannya," katanya. Kerusakan ini bersifat permanen; ukiran yang dalam dapat membahayakan kesehatan bambu karena semua pohon bambu terhubung oleh akarnya, dan kerusakan pada satu batang dapat memengaruhi seluruh rumpun.
Menanggapi masalah yang terus berlanjut, Pemerintah Kota Kyoto sedang mempertimbangkan untuk menebang batang bambu yang rusak paling parah demi alasan keamanan dan estetika. Sebelumnya, upaya sukarelawan telah dilakukan untuk menutupi coretan dengan selotip hijau untuk menyamarkan kerusakan dan mencegah tindakan serupa. Polisi Prefektur Kyoto menegaskan bahwa tindakan mengukir bambu termasuk tindak pidana perusakan properti. Insiden ini bukan yang pertama; laporan dari tahun 2018 juga mencatat lebih dari 100 pohon bambu dirusak dengan ukiran dalam berbagai bahasa.
Vandalisme ini merupakan bagian dari tantangan lebih luas yang dihadapi Jepang akibat "overtourism," yang juga mencakup masalah kebersihan, keributan publik, dan perusakan situs budaya lainnya, seperti Kuil Meiji Jingu di Tokyo. Pemerintah Jepang telah mulai menerapkan langkah-langkah, termasuk denda hingga 50.000 yen (sekitar Rp 5,2 juta) di beberapa prefektur untuk perilaku tidak tertib, meskipun fokus utamanya tetap pada edukasi dan pencegahan. Sementara pendapatan pariwisata telah menyumbang 5,86 triliun yen (sekitar 37,5 miliar dolar AS) bagi perekonomian Jepang, biaya jangka panjang untuk pemulihan situs-situs alam dan warisan budaya yang rusak, serta potensi dampak pada citra Jepang sebagai tujuan wisata, perlu dipertimbangkan secara serius. Pemerintah juga berupaya mempromosikan destinasi tersembunyi untuk mengurangi tekanan pada lokasi populer. Perlindungan warisan alam seperti Hutan Bambu Arashiyama krusial untuk menjaga daya tarik Jepang bagi generasi mendatang.