Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Turis Non-Eropa Kini Bayar 45% Lebih Mahal untuk Tiket Louvre Paris

2026-01-20 | 03:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T20:40:13Z
Ruang Iklan

Turis Non-Eropa Kini Bayar 45% Lebih Mahal untuk Tiket Louvre Paris

Paris, Prancis — Museum Louvre telah memberlakukan sistem tiket dua tingkat yang secara signifikan meningkatkan biaya masuk bagi turis non-Eropa, dengan tarif baru sebesar 32 euro per orang dewasa, naik 45 persen dari 22 euro yang dibayarkan oleh pengunjung Eropa. Kebijakan ini, yang mulai berlaku pada 14 Januari 2026, muncul di tengah upaya mendesak untuk mendanai renovasi ekstensif dan meningkatkan keamanan menyusul insiden pencurian permata pada Oktober 2025.

Penerapan skema harga yang berbeda ini menandai perubahan signifikan dari model "satu harga untuk semua" yang telah lama dianut Louvre. Kenaikan ini terutama memengaruhi wisatawan dari sebagian besar negara di luar Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa (EEA), termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok, yang secara historis merupakan segmen pengunjung asing terbesar di museum ini. Tarif 22 euro tetap berlaku untuk warga negara atau penduduk negara-negara Uni Eropa, Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia.

Manajemen museum menyatakan bahwa langkah ini diperlukan untuk mengatasi biaya operasional yang melonjak, termasuk kenaikan biaya energi, serta untuk mendanai proyek modernisasi yang telah lama tertunda dan peningkatan sistem keamanan. Kebocoran atap dan infrastruktur yang menua, bersama dengan pencurian Permata Mahkota Prancis senilai 88 juta euro (sekitar 102 juta dolar AS) pada Oktober 2025, menyoroti urgensi kebutuhan renovasi. Louvre membutuhkan perkiraan 800 juta euro untuk proyek "Louvre New Renaissance" yang bertujuan memodernisasi infrastruktur, mengurangi kepadatan, dan bahkan memberikan galeri khusus untuk Mona Lisa pada tahun 2031.

Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, secara eksplisit mendukung kebijakan ini, menyatakan, "Saya ingin pengunjung dari luar UE membayar lebih untuk tiket masuk mereka dan biaya tambahan itu digunakan untuk mendanai renovasi warisan nasional kita. Orang Prancis tidak seharusnya membayar semuanya sendiri." Museum berharap kebijakan harga yang berbeda ini akan menghasilkan pendapatan tambahan sebesar 15 hingga 20 juta euro setiap tahun.

Namun, kebijakan ini telah memicu gelombang kritik dari serikat pekerja dan beberapa kalangan masyarakat. Serikat pekerja Prancis seperti CGT Culture mengecam kebijakan tersebut sebagai "mengejutkan secara filosofis, sosial, dan kemanusiaan," berargumen bahwa hal itu mengubah akses ke budaya menjadi "produk komersial" dan menciptakan akses yang tidak setara terhadap warisan nasional. Para kritikus juga menyoroti ironi pengenaan biaya lebih tinggi kepada non-Eropa untuk melihat koleksi yang seringkali berasal dari negara asal mereka sendiri. Laurent Vallet, seorang pengunjung dari Burgundy, menyatakan, "Budaya harus terbuka untuk semua orang — ya — dengan harga yang sama."

Terlepas dari kenaikan harga ini, Museum Louvre tetap menjadi salah satu institusi budaya yang paling banyak dikunjungi di dunia. Pada tahun 2024, museum ini menyambut 8,7 juta pengunjung, dengan 77 persen di antaranya berasal dari luar Prancis. Wisatawan dari Amerika Serikat menyumbang 13 persen, Tiongkok 6 persen, dan Inggris 5 persen dari total pengunjung internasional, semuanya akan terpengaruh oleh kenaikan tarif ini.

Perlu dicatat bahwa kebijakan masuk gratis tetap berlaku untuk pengunjung di bawah usia 18 tahun dari semua kebangsaan, serta penduduk EEA berusia 18-25 tahun. Non-warga negara Uni Eropa yang tinggal di Prancis dan memiliki 'carte de séjour' tidak akan terpengaruh oleh kenaikan harga ini.

Langkah Louvre ini mencerminkan tren yang lebih luas di antara situs-situs budaya utama Prancis, dengan Istana Versailles dan beberapa museum lain juga mempertimbangkan atau telah menerapkan struktur harga yang berbeda untuk pengunjung non-Eropa. Hal ini menimbulkan perdebatan tentang peran institusi budaya dalam masyarakat global dan sejauh mana pengunjung internasional harus berkontribusi pada pemeliharaan warisan budaya. Implikasi jangka panjang dari kebijakan harga dua tingkat ini terhadap citra Paris sebagai tujuan wisata global yang inklusif dan terhadap aksesibilitas budaya masih harus dilihat.