Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Fenomena Tumpukan Kayu Gelondongan Viral di Pantai Air Tawar dan Danau Singkarak

2025-12-03 | 09:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-03T02:08:17Z
Ruang Iklan

Fenomena Tumpukan Kayu Gelondongan Viral di Pantai Air Tawar dan Danau Singkarak

Fenomena tumpukan gelondongan kayu yang masif di Pantai Air Tawar, Padang, dan Danau Singkarak, Sumatera Barat, menjadi sorotan utama dalam beberapa hari terakhir, menarik perhatian luas masyarakat dan media. Peristiwa ini merupakan dampak langsung dari banjir bandang atau "galodo" serta curah hujan tinggi yang melanda Sumatera Barat sejak akhir November 2025.

Di Pantai Air Tawar, khususnya di Pantai Parkit, Kelurahan Air Tawar Barat, Kota Padang, ribuan potongan kayu berbagai ukuran, dari gelondongan besar hingga serpihan kecil, memenuhi sepanjang garis pantai. Pemandangan ini terbentang luas, mulai dari Pantai Ulak Karang hingga Lubuak Buaya, memberikan gambaran kekuatan terjangan air dari hulu. Selain kayu, tumpukan sampah plastik, rumah tangga, dan bahkan puing elektronik turut mencemari pantai, menimbulkan keprihatinan mendalam bagi warga dan lingkungan.

Tidak hanya pesisir, Danau Singkarak, salah satu ikon wisata alam Sumatera Barat, juga dipenuhi "lautan kayu" gelondongan. Foto-foto udara yang beredar memperlihatkan permukaan danau, khususnya di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok, terselimuti oleh material kayu yang hanyut. Danau Singkarak, yang merupakan hulu dari beberapa sungai besar, menjadi titik akhir bagi sampah dan material yang terbawa arus banjir bandang.

Tumpukan kayu ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai asal-usulnya. Volume kayu yang tidak biasa, bahkan beberapa menunjukkan bekas potongan mesin, memicu dugaan kuat adanya aktivitas pembalakan liar atau penebangan hutan secara ilegal di wilayah hulu. Video viral yang menunjukkan gelondongan kayu mengalir deras di sungai semakin memperkuat kecurigaan publik terhadap kerusakan hutan.

Menanggapi hal ini, Kementerian Kehutanan telah menganalisis dan menduga kayu tersebut berasal dari pemegang hak atas tanah (PHAT) di area penggunaan lain (APL), dengan mekanisme penatausahaan hasil hutan yang berlaku. Sementara itu, Bareskrim Polri sedang menyelidiki dugaan pidana terkait gelondongan kayu ini sebagai pemicu longsor. Anggota DPR, termasuk Johan Rosihan dari Komisi IV dan Andre Rosiade dari Komisi VI, mendesak audit menyeluruh terhadap izin pemanfaatan hutan dan penindakan tegas terhadap praktik pembalakan liar, menyebut peristiwa ini sebagai "teguran keras" terhadap perlindungan hutan.

Dampak tumpukan kayu ini sangat signifikan, tidak hanya terhadap lingkungan tetapi juga pada sektor pariwisata dan mata pencarian warga. Danau Singkarak yang biasanya menawarkan pemandangan indah dan wisata perahu kini berubah drastis, mengancam industri pariwisata lokal. Nelayan di kawasan seperti Ulak Karang turut terpukul, dengan perahu mereka rusak dan aktivitas melaut terhenti akibat terhalangnya jalur perairan oleh material kayu. Kondisi di Danau Singkarak bahkan mempersulit upaya evakuasi bagi warga yang terisolasi.

Fenomena ini telah menjadi artikel paling banyak dibaca di detikTravel, menyoroti daya tarik sekaligus kekhawatiran publik terhadap kondisi alam Sumatera Barat pasca-bencana. Situasi ini juga menjadi pengingat penting akan perlunya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan mitigasi bencana yang lebih efektif untuk menghadapi cuaca ekstrem di masa mendatang.