
Depok Lama, sebuah kawasan yang sarat dengan jejak sejarah kolonial Belanda, kini bertransformasi menjadi pusat aktivitas modern dengan bangunan-bangunan kuno yang beralih fungsi menjadi kafe, rumah sakit, hingga sekolah dasar. Transformasi ini tidak hanya menghidupkan kembali bangunan-bangunan tua, tetapi juga menawarkan pengalaman unik yang memadukan masa lalu dan masa kini.
Sejarah Depok Lama tidak dapat dipisahkan dari sosok Cornelis Chastelein, seorang saudagar mantan pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang membeli tanah di wilayah tersebut pada akhir abad ke-17. Chastelein dikenal karena membebaskan budak-budaknya dan mewariskan tanah kepada mereka, yang kemudian membentuk komunitas "Belanda Depok" dengan 12 marga. Warisan arsitektur kolonial Belanda dengan ciri khas rumah berhalaman luas dan jendela besar masih dapat ditemukan di Jalan Pemuda, Jalan Kartini, Siliwangi, Mawar, Kenanga, dan Kamboja.
Salah satu contoh paling menonjol dari adaptasi ini adalah bangunan bekas Europeesche Lagere School (ELS) yang berdiri sejak tahun 1886 di Jalan Pemuda Nomor 32. Sekolah eksklusif bagi anak-anak keturunan Eropa ini sempat dialihfungsikan menjadi SDN Pancoran Mas 2 sebelum akhirnya ditutup sekitar tahun 2020. Kini, bangunan berusia 139 tahun tersebut telah "disulap" menjadi sebuah kafe modern bernama Dopamine Heritage, yang tetap mempertahankan unsur sejarahnya dan menyuguhkan menu khas Nusantara hingga Western. Selain itu, sebuah rumah peninggalan Belanda lainnya di kawasan Pondok Cina, dekat Margo City, juga telah bertransformasi menjadi gerai kopi Starbucks. Kafe lain yang juga menempati bangunan kolonial adalah "Cornelis" di Depok Lama.
Fungsi lain yang pernah melekat pada bangunan kolonial adalah sebagai fasilitas kesehatan. Bekas Rumah Sakit Harapan Depok, yang dulu merupakan Istana Kepresidenan Depok sebelum kemerdekaan Indonesia, merupakan bangunan peninggalan Belanda yang kini terlihat tidak terurus setelah resmi berhenti beroperasi pada 29 Maret 2022. Meskipun demikian, bangunan megah ini masih sering dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi sejarah, seperti "kelas sejarah" bagi pelajar SD.
Di samping bangunan-bangunan yang telah beralih fungsi, Depok Lama juga menyimpan peninggalan lain yang masih berfungsi sesuai aslinya atau menjadi cagar budaya penting. Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Depok, yang pertama kali didirikan pada tahun 1713, merupakan gereja tertua di Depok dan hingga kini masih aktif digunakan untuk ibadah. Ada juga Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Rumah J.M. Jonathans yang merupakan presiden kelima sekaligus terakhir dari Gemeente bestuur Depok, Jembatan Panus yang dibangun pada tahun 1917, Kantor Pos Depok Pancoran Mas, dan tiang telepon tertua yang berdiri sejak tahun 1900 di Jalan Kartini.
Pemerintah Kota Depok menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan ini. Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok, Supian Suri dan Chandra Rahmansyah, telah menyatakan rencana untuk menetapkan Depok Lama sebagai kawasan cagar budaya dan wisata sejarah. Upaya ini juga mencakup insentif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) gratis bagi bangunan bersejarah dan penjajakan kerja sama dengan pemerintah Belanda melalui konsep sister city. Dengan demikian, Depok Lama bukan hanya sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi juga bukti nyata dari adaptasi dan penghargaan terhadap jejak masa lalu yang kaya.