
Ribuan kendaraan wisatawan yang memadati Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, selama puncak libur Natal 2025 dan menjelang Tahun Baru 2026, terpaksa diarahkan ke kantong-kantong parkir alternatif, termasuk area di sekitar Istana Anak dan Iptek. Kondisi ini mencerminkan tantangan berkelanjutan dalam mengelola lonjakan pengunjung pasca-revitalisasi di tengah implementasi konsep kawasan hijau.
Fenomena parkir membeludak, dengan kendaraan dialihkan ke berbagai titik darurat, bukan hal baru bagi TMII, terutama sejak destinasi wisata budaya ini menerapkan kebijakan "Green TMII" pada November 2022. Kebijakan tersebut secara fundamental membatasi akses kendaraan bermotor pribadi ke dalam zona utama kawasan, mendorong pengunjung untuk memarkirkan kendaraan di area terpadu yang telah disediakan di bagian luar dan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi listrik internal atau berjalan kaki. Direktur Eksekutif TMII, Emilia Eny Utari, pada masa awal implementasi, menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih menggunakan transportasi umum dan mengurangi emisi karbon di dalam area wisata.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada Kamis, 25 Desember 2025, TMII menargetkan 32.000 pengunjung pada libur Natal. Hingga siang hari, setidaknya 10.000 pengunjung sudah memasuki kawasan, menandakan potensi lonjakan signifikan sepanjang hari. Sementara itu, Corporate Secretary TMII, Agdya Yogandari, menyebutkan bahwa TMII memiliki kapasitas parkir yang dirancang untuk menampung sekitar 3.000 mobil untuk periode Tahun Baru 2026. Kapasitas ini mencakup gedung parkir bertingkat yang sebelumnya merupakan wahana Snowbay, dengan daya tampung sekitar 559 mobil dan 300 sepeda motor, serta area parkir lainnya di Plaza Barat, Utara, dan Selatan. Namun, angka tersebut sering kali terlampaui saat musim liburan puncak, seperti yang terjadi pada Lebaran 2024 lalu, ketika TMII mencatat total 140.000 pengunjung sepanjang periode libur Idulfitri. Pada Lebaran H+2 tahun 2025, jumlah pengunjung bahkan mencapai lebih dari 22.000 orang hingga pukul 15.00 WIB.
Untuk mengantisipasi kepadatan, pengelola TMII memang telah menyiapkan berbagai strategi. Intan Ayu Kartika, Direktur Utama TMII, menyampaikan bahwa untuk perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, manajemen menambah empat unit bus selain 37 unit angkutan keliling (angling) yang sudah ada, serta dua unit bus shuttle antar-jemput ke stasiun LRT TMII. Namun, upaya ini masih belum sepenuhnya meredakan tekanan pada infrastruktur parkir eksternal, yang kerap menimbulkan antrean panjang dan kemacetan di akses masuk.
Implikasi dari fenomena ini meluas. Di satu sisi, revitalisasi TMII berhasil meningkatkan daya tarik dan jumlah pengunjung, sejalan dengan tujuan pengelola untuk menjadikan TMII ikon wisata budaya Jakarta yang ramah lingkungan. Konsep "Green TMII" sendiri didukung dengan perluasan ruang terbuka hijau dari 30 persen menjadi 70 persen total kawasan. Namun, di sisi lain, tingginya animo masyarakat untuk membawa kendaraan pribadi masih menjadi tantangan utama. Kebijakan larangan masuk kendaraan bermotor ke area utama TMII, meski bertujuan mulia, secara tidak langsung memindahkan masalah kepadatan ke titik-titik parkir di perimeter luar, menuntut perencanaan kapasitas yang lebih adaptif dan responsif terhadap lonjakan musiman.
Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang pengalaman pengunjung. Antrean panjang untuk shuttle bus keliling dan kendaraan pribadi yang dialihkan ke area yang tidak selalu ideal dapat mengurangi kenyamanan berwisata. Sebuah keluhan pada Desember 2023 dari Ketua Forum Komunikasi Anjungan Daerah, H. Zulfikar, menyoroti dampak kebijakan transportasi terhadap sepinya beberapa anjungan akibat kesulitan mobilisasi pengunjung dan barang.
Ke depan, manajemen TMII, bekerja sama dengan pemerintah daerah, perlu mempertimbangkan solusi jangka panjang yang lebih komprehensif. Ini mungkin termasuk penambahan kapasitas parkir terpadu yang signifikan, penguatan integrasi dengan moda transportasi publik massal, serta kampanye edukasi yang lebih masif untuk mendorong penggunaan transportasi umum menuju TMII. Tanpa strategi yang lebih kuat, keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan kapasitas menampung wisatawan akan terus menjadi tantangan, berpotensi menggerus citra TMII sebagai destinasi wisata unggulan yang nyaman dan ramah lingkungan.