
Perilaku fotografer profesional di Wat Arun, kuil ikonik di Bangkok, telah menimbulkan keresahan serius di kalangan pengunjung dan memicu respons dari otoritas pariwisata Thailand. Insiden yang dilaporkan terjadi secara berulang ini melibatkan fotografer yang secara agresif mengusir wisatawan lain dari titik-titik foto populer demi kepentingan klien mereka yang membayar, seringkali mengenakan kostum tradisional Thailand. Keluhan ini pertama kali menjadi perhatian luas setelah Krisda “Pond” Witthayakhajorndet, CEO perusahaan hiburan Be On Cloud, membagikan pengalamannya di platform X pada 2 Januari 2026.
Witthayakhajorndet menggambarkan bagaimana fotografer lokal, yang diyakini terkait dengan layanan penyewaan kostum, berulang kali menghalau wisatawan asing dari area pandang terbaik, membuat mereka kebingungan dan tidak senang. Ia mengkritik tindakan tersebut sebagai upaya untuk mengklaim ruang publik sebagai milik pribadi dan mendesak pihak berwenang untuk mengambil tindakan, mengingat Wat Arun adalah landmark nasional dan simbol penting citra pariwisata Thailand. Respons terhadap unggahan tersebut dengan cepat memicu gelombang keluhan serupa dari warganet, yang menyoroti masalah perilaku agresif dan suara bising dari fotografer serta vendor yang mengganggu suasana damai di kuil suci tersebut.
Wat Arun, atau Temple of Dawn, merupakan salah satu situs budaya dan religius terpenting di Thailand, menarik jutaan pengunjung internasional setiap tahun. Bangkok sendiri menyambut 32,4 juta wisatawan internasional pada tahun 2024, menjadikannya kota paling banyak dikunjungi di dunia. Sebagian besar wisatawan datang untuk menikmati situs-situs bersejarah dan budaya seperti Wat Arun. Pentingnya Wat Arun sebagai tujuan wisata dan situs keagamaan menuntut standar etiket yang tinggi dari semua pengunjung, termasuk fotografer. Aturan umum di kuil-kuil Thailand mengharuskan pengunjung berpakaian sopan, menutupi bahu dan lutut, serta menghindari penggunaan lampu kilat di area ibadah untuk menghormati para biarawan dan praktik keagamaan. Penggunaan peralatan profesional seperti tripod juga biasanya tidak diizinkan di dalam bangunan kuil tanpa izin eksplisit.
Menanggapi keluhan yang meningkat, Pol Lt Gen Saksira Phueak-um, kepala Biro Polisi Pariwisata, telah memerintahkan inspeksi di lokasi dan menginstruksikan petugas untuk mengambil tindakan cepat. Pertemuan antara Polisi Pariwisata dan komite Wat Arun Ratchawararam Ratchaworamahawihan juga telah dijadwalkan untuk menetapkan pedoman konkret dan strategi pencegahan guna memastikan keselamatan wisatawan dan menjaga citra baik negara. Polisi juga meluncurkan inisiatif kesadaran, mendorong kerja sama dari fotografer untuk menciptakan suasana positif bagi pengunjung kuil. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pariwisata dan membangun kepercayaan di kalangan pengunjung lokal maupun internasional.
Fenomena ini bukan insiden terisolasi dalam konteks pariwisata Thailand. Isu "overtourism" dan komodifikasi budaya telah menjadi tantangan serius bagi pelestarian warisan budaya dan lingkungan di Thailand. Meskipun pariwisata menyumbang secara signifikan terhadap PDB Thailand – diperkirakan menyumbang 20% sebelum pandemi COVID-19 dan menarik 35 juta wisatawan pada tahun 2024 dengan proyeksi 36,7 juta pada tahun 2026 – pertumbuhan cepat ini juga membawa masalah seperti kerusakan infrastruktur dan degradasi lingkungan. Pemerintah Thailand, melalui program seperti Bio-Circular-Green (BCG) Economy Model dan inisiatif Vision 2030, telah berupaya menuju pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Kasus Wat Arun menyoroti kebutuhan mendesak akan penyeimbangan antara aktivitas komersial terkait pariwisata dan pelestarian nilai-nilai budaya serta kenyamanan pengunjung. Kegagalan untuk mengatasi perilaku yang meresahkan ini berpotensi merusak reputasi Thailand sebagai tujuan wisata yang ramah dan menghormati budayanya. Inisiatif Polisi Pariwisata dan komite Wat Arun untuk mengatur area fotografi dan etiket kerja fotografer secara sistematis, transparan, dan adil diharapkan dapat menjadi model bagi situs-situs budaya lainnya di Thailand, memastikan pengalaman yang harmonis bagi semua pihak. Keberhasilan implementasi kebijakan ini akan sangat krusial dalam membentuk masa depan pariwisata budaya Thailand yang berkelanjutan dan terhormat.