
Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan tetap melanjutkan operasi intensif pada Rabu, 7 Januari 2026, untuk menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan (18), seorang pendaki asal Magelang yang dilaporkan hilang sejak Sabtu, 27 Desember 2025, di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. Meskipun operasi pencarian resmi oleh otoritas telah ditutup pada Senin, 5 Januari 2026, pukul 16.00 WIB, tim SAR gabungan dari Kedu serta inisiatif dari keluarga dan relawan berkomitmen untuk melanjutkan penyisiran hingga Kamis, 8 Januari 2026.
Syafiq Ridhan Ali Razan, yang akrab disapa Ali, tercatat mendaki melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran. Mereka berdua berencana melakukan pendakian "tektok" atau pulang-pergi tanpa menginap. Himawan berhasil ditemukan dalam kondisi selamat pada Selasa, 30 Desember 2025, di sekitar Pos 5 Gunung Slamet, namun Ali belum ditemukan hingga kini. Menurut keterangan Himawan, Ali sempat mengalami kram sehingga tertinggal dan diduga tersesat.
Upaya pencarian menghadapi tantangan signifikan. Koordinator Operasi SAR Gunung Slamet melaporkan bahwa cuaca ekstrem berupa hujan lebat, kabut tebal, dan angin kencang kerap memaksa tim menghentikan sementara penyisiran demi keselamatan personel. Medan Gunung Slamet yang terjal, vegetasi lebat, dan semak-semak rapat, ditambah luasan gunung yang membentang di lima kabupaten (Pemalang, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Brebes), semakin mempersulit identifikasi posisi korban. Staf Basarnas Semarang, Handika Hengki, menyatakan bahwa total sekitar 70 personel berkualifikasi khusus dikerahkan dalam operasi pencarian lanjutan ini, dibagi menjadi empat tim penyisir. Ayah Ali, Dhani Rusman, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kota Magelang, juga turut serta dalam tim pencarian, menyisir area Pos 3 hingga Pos 5. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyampaikan duka mendalam dan memastikan dukungan Pemkot Magelang kepada keluarga serta upaya penggalangan dana empati untuk membantu logistik pencarian.
Insiden pendaki hilang di gunung-gunung Indonesia bukan kali pertama terjadi. Statistik menunjukkan fluktuasi jumlah kematian pendaki antara 1 hingga 20 orang per tahun dalam satu dekade terakhir, dengan penyebab utama termasuk tersesat, penyakit, jatuh, dan hipotermia. Kecelakaan pendakian secara keseluruhan dilaporkan meningkat dalam empat tahun terakhir hingga 2019, dengan kasus tersesat dan hilang mencapai 16 kasus pada tahun 2018. Gunung Slamet sendiri telah memberlakukan sejumlah persyaratan ketat bagi pendaki, seperti wajib membawa surat keterangan sehat dari dokter, tidak boleh solo hiking, serta minimal dua hingga tiga orang dalam satu rombongan. Aturan ini bertujuan meminimalisir risiko, mengingat bahaya yang mungkin timbul akibat kondisi fisik pendaki atau kurangnya persiapan.
Kasus hilangnya Ali menggarisbawahi urgensi evaluasi berkelanjutan terhadap standar operasional prosedur pendakian dan kapasitas respons SAR di wilayah pegunungan Indonesia. Meskipun teknologi telah memungkinkan pelacakan dan komunikasi yang lebih baik, faktor-faktor seperti cuaca ekstrem dan medan yang tidak terduga masih menjadi tantangan utama. Implikasi jangka panjang dari insiden semacam ini dapat mencakup peninjauan ulang regulasi pendakian, peningkatan pelatihan bagi relawan SAR, serta investasi dalam peralatan pencarian yang lebih canggih. Selain itu, kesadaran dan edukasi bagi para pendaki mengenai manajemen risiko, persiapan fisik, dan navigasi di medan sulit perlu terus digalakkan untuk mengurangi angka kejadian serupa di masa mendatang.