
Ribuan pengunjung memadati Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) pada Minggu, 4 Januari 2026, hari terakhir periode masuk gratis yang memicu lonjakan masif, menyebabkan antrean mengular panjang dan mendorong sebagian wisatawan memilih putar balik karena kondisi yang terlalu padat. Kebijakan ini diterapkan oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai langkah sementara di tengah sengketa lahan berkepanjangan dan masalah manajemen yang menyebabkan kebun binatang tersebut sempat ditutup sejak Agustus 2025.
Antrean pengunjung dilaporkan telah mengular hingga ke luar area pintu masuk utama sejak pagi hari, bahkan sebelum jam operasional resmi yang terbatas mulai pukul 09.00 WIB. Mumuh, seorang wisatawan asal Bandung Barat, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya harus mengantre sekitar satu jam untuk dapat masuk, meskipun antusiasme tetap tinggi karena adanya kebijakan gratis. Namun, tidak semua pengunjung dapat bertahan dalam kepadatan tersebut. Nunik (34) menyatakan kekhawatirannya terhadap keselamatan anaknya yang berusia dua tahun dan memilih untuk pulang. Hal serupa dilakukan oleh Sundari (45) yang membawa ibunya yang sudah lanjut usia. Kondisi ini juga memicu kepadatan lalu lintas di sekitar Jalan Taman Sari, sehingga petugas kepolisian dari Polrestabes Bandung dan Satpol PP Kota Bandung dikerahkan untuk melakukan pengamanan dan pengaturan arus.
Humas Bandung Zoo, Aan Sulhan Syafi'i, membenarkan adanya lonjakan pengunjung yang drastis, dengan rata-rata kunjungan harian selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 mencapai sekitar 10.000 orang. Angka ini jauh melampaui prediksi dan kapasitas normal kebun binatang, yang pada masa pandemi COVID-19 saja dibatasi maksimal 1.500 orang dari total kapasitas 6.000 orang. Pada hari ketiga libur Tahun Baru, jumlah pengunjung bahkan dilaporkan mencapai lebih dari 60.000 orang. Kebijakan masuk gratis ini, yang sebelumnya menetapkan harga tiket Rp50.000 per orang, merupakan respons terhadap tingginya animo masyarakat yang merindukan Bandung Zoo setelah penutupan panjang.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa kebijakan pembukaan tanpa tiket ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mempertahankan fungsi Bandung Zoo sebagai ruang terbuka hijau (RTH) publik yang dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat. Sengketa pengelolaan lahan dan dualisme manajemen telah menjadi masalah inti yang melanda Bandung Zoo selama bertahun-tahun, menyebabkan penutupan pada Agustus 2025. Pihak pengelola kebun binatang secara sukarela menerima donasi dari pengunjung, baik dalam bentuk uang maupun pakan satwa, untuk menunjang kebutuhan operasional dan perawatan koleksi satwa yang berjumlah ratusan. Komitmen terhadap pakan satwa juga dijamin oleh Kementerian Kehutanan.
Situasi saat ini di Bandung Zoo menunjukkan dilema antara pemenuhan kebutuhan rekreasi masyarakat dan tantangan pengelolaan fasilitas publik. Meskipun donasi dari pengunjung mencapai angka signifikan seperti Rp100 juta dalam sehari, keberlanjutan operasional jangka panjang masih menjadi pertanyaan. Lonjakan pengunjung secara massal menciptakan tekanan besar pada infrastruktur kebun binatang dan berpotensi menimbulkan stres pada satwa akibat keramaian. Humas Bandung Zoo berharap adanya pengelolaan sementara yang dapat mengembalikan sistem tiket untuk mengontrol jumlah pengunjung dan memastikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan serta kesejahteraan satwa.
Masa depan Bandung Zoo masih dalam ketidakpastian, mengingat Pemerintah Kota Bandung saat ini menunggu putusan dari Kementerian Kehutanan mengenai nasib operasional kebun binatang tersebut sebagai lembaga konservasi. Konflik internal yang mendera Bandung Zoo sejak lama telah menjadi sorotan, dengan sejumlah pihak menuntut penyelesaian yang berpihak pada kepentingan masyarakat dan kelestarian satwa, bukan hanya aspek komersial atau hukum semata. Kebijakan darurat masuk gratis ini, meskipun disambut antusias oleh masyarakat, menyoroti urgensi penyelesaian masalah manajemen dan kepemilikan lahan secara komprehensif untuk memastikan Bandung Zoo dapat berfungsi optimal sebagai pusat edukasi, konservasi, dan rekreasi yang berkelanjutan.