Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terjebak Banjir Pantura, Perjalanan Kereta 12 Jam Berubah Jadi Drama 2 Hari

2026-01-22 | 04:21 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T21:21:54Z
Ruang Iklan

Terjebak Banjir Pantura, Perjalanan Kereta 12 Jam Berubah Jadi Drama 2 Hari

Ratusan penumpang kereta api di jalur Pantura Jawa Tengah mengalami keterlambatan parah, terjebak selama puluhan jam di dalam gerbong, setelah banjir besar merendam sejumlah titik rel antara 15 hingga 21 Januari 2026. Salah satu korban, Azelia Trifiana (36), yang seharusnya tiba di Malang dari Jakarta dalam 12 jam, justru menghabiskan 20 jam di atas kereta api Jayabaya yang terhenti akibat jalur terendam di wilayah Pekalongan. Kondisi ini menyoroti kerentanan infrastruktur perkeretaapian di wilayah tersebut terhadap cuaca ekstrem yang semakin intens.

Azelia Trifiana menceritakan perjalanannya dari Stasiun Pasar Senen menuju Malang pada Sabtu, 17 Januari 2026, yang berubah menjadi ujian kesabaran. Kereta yang ditumpanginya terjebak berjam-jam di beberapa stasiun dan baru bisa melanjutkan perjalanan setelah 20 jam, jauh melampaui jadwal kedatangan yang seharusnya pada Minggu, 18 Januari 2026, pukul 06.28 WIB. Ia menggambarkan suasana di dalam gerbong yang berubah menjadi jenuh, dengan para penumpang saling berbincang dan bahkan petugas KAI pun tampak kebingungan menghadapi situasi. Dalam momen haru, warga lokal turut membantu dengan menawarkan makanan kepada para penumpang yang kelelahan dan kelaparan.

Insiden ini bukan hanya menimpa satu kereta. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat dampak banjir melumpuhkan operasional secara signifikan, terutama di Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang. Akibatnya, 82 perjalanan kereta api penumpang dibatalkan antara 15 hingga 18 Januari 2026, dan sebanyak 76 perjalanan lainnya mengalami keterlambatan rata-rata 240 menit atau empat jam. Beberapa rute bahkan harus dialihkan melalui jalur selatan, menambah waktu tempuh secara drastis untuk 31 perjalanan kereta. Nilai pengembalian dana atau refund tiket kepada penumpang yang terdampak mencapai Rp 3,5 miliar, dengan sekitar 18.000 penumpang mengajukan pembatalan tiket pada periode tersebut. Banjir tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi, tanggul jebol, dan air pasang laut (rob) yang merendam rel hingga melampaui batas kepala rel serta menyebabkan gogosan (erosi tanah di bawah rel) di petak jalan Pekalongan–Sragi dan Kaliwungu–Kalibodri.

Menanggapi kondisi darurat ini, KAI menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi. Wakil Presiden Komunikasi Korporat KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa penghentian sementara perjalanan dilakukan sebagai langkah pengamanan, dengan keselamatan pelanggan sebagai prioritas utama. Tim prasarana KAI dikerahkan 24 jam untuk melakukan perbaikan intensif, termasuk pengangkatan rel dan penebaran balas di area terdampak. Lokomotif khusus jenis BB 304 dan CC 300 juga disiagakan untuk menarik kereta melewati genangan air setelah jalur dinyatakan aman secara terbatas. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, memastikan distribusi kereta barang tidak terdampak fatal, meskipun 16 kereta barang sempat dibatalkan.

Kejadian terulangnya banjir yang melumpuhkan jalur kereta api di Pantura ini bukanlah fenomena baru. Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menyebut insiden di Pekalongan sebagai "alarm keras" yang menunjukkan rapuhnya infrastruktur transportasi nasional di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Huda mengingatkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi di Grobogan pada awal 2025 dan Semarang pada Oktober 2025, mengindikasikan bahwa masalah ini akan lebih sering terjadi di masa depan. Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, saat meninjau lokasi, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak boleh bersifat "tambal sulam" tetapi harus jangka panjang, mengingat curah hujan saat ini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menjelaskan bahwa banjir akibat hujan ekstrem di wilayah Semarang dan sekitarnya memang kerap melumpuhkan jalur rel, masuk dalam kategori force majeure. Namun, ia menekankan bahwa kondisi darurat ini harus direspons dengan langkah cepat, efektif, dan terukur. Martinus menyarankan KAI untuk melakukan pengelolaan infrastruktur yang komprehensif, meliputi pembangunan tanggul, bendungan, waduk, kolam retensi, normalisasi dan pengerukan sungai, perbaikan sistem drainase, serta pembangunan sumur resapan dan biopori. KAI sendiri telah mengidentifikasi 131 titik rawan bencana di Pulau Jawa, meliputi banjir, longsor, dan gogosan sungai, yang diklaim telah ditangani melalui program mitigasi dan perbaikan berkelanjutan. Namun, frekuensi dan dampak banjir yang terjadi menunjukkan bahwa upaya mitigasi yang ada masih memerlukan evaluasi dan penguatan lebih lanjut untuk menjamin ketahanan operasional perkeretaapian di masa depan.