
Seorang mantan pramugara berhasil mengeksploitasi celah keamanan penerbangan selama empat tahun terakhir, terbang ratusan kali secara gratis dengan menyamar sebagai pilot menggunakan identifikasi palsu dari setidaknya tiga maskapai penerbangan di Amerika Serikat. Dallas Pokornik, 33 tahun, dari Toronto, ditangkap di Panama setelah didakwa atas tuduhan penipuan elektronik di pengadilan federal Hawaii pada Oktober lalu dan telah menyatakan tidak bersalah pada Selasa setelah ekstradisinya ke Amerika Serikat. Kasus ini menyoroti kerentanan sistem pemeriksaan kredensial dan kontrol internal maskapai yang memungkinkan penyalahgunaan fasilitas perjalanan khusus awak pesawat, menimbulkan kerugian finansial signifikan dan memunculkan pertanyaan serius tentang integritas keamanan penerbangan.
Pokornik, yang pernah bekerja sebagai pramugara untuk maskapai berbasis di Toronto antara tahun 2017 hingga 2019, diduga menggunakan identifikasi karyawan palsu dari mantan majikannya untuk mendapatkan tiket yang seharusnya diperuntukkan bagi pilot dan pramugara yang bertugas. Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa ia bahkan pernah meminta untuk duduk di "jumpseat" kokpit, kursi tambahan yang biasanya disediakan untuk pilot yang tidak bertugas saat melakukan perjalanan komuter, meskipun ia tidak memiliki izin yang sesuai. Insiden ini bukan satu-satunya; Tiron Alexander, 35 tahun, mantan karyawan maskapai penerbangan yang berbasis di Dallas, juga dinyatakan bersalah atas penipuan serupa pada Juni 2025. Ia terbang gratis sebanyak 120 kali antara 2018 hingga awal 2024 dengan menyamar sebagai awak kabin. Alexander memanfaatkan pengetahuan internalnya tentang perjanjian perjalanan timbal balik antarmaskapai dan menggunakan nomor lencana serta tanggal perekrutan palsu dari sekitar 30 karyawan berbeda dari tujuh maskapai untuk memesan tiket.
Modus operandi semacam ini, di mana individu mengeksploitasi kebijakan perjalanan karyawan, menunjukkan titik lemah dalam sistem verifikasi identitas dan otorisasi dalam industri penerbangan global. Perusahaan penerbangan secara tradisional menawarkan fasilitas perjalanan gratis atau diskon besar sebagai bagian dari paket tunjangan karyawan. Sistem ini, yang dirancang untuk kenyamanan dan efisiensi internal, sering kali kurang memiliki lapisan keamanan yang ketat dibandingkan dengan pembelian tiket komersial standar. Kehilangan pendapatan akibat penipuan tiket dan perjalanan diperkirakan membebani maskapai sekitar 1,2% dari pendapatan online tahunan, atau sekitar 1 miliar dolar AS setiap tahun pada tahun 2020, dan angka ini terus meningkat. Kerugian ini tidak hanya mencakup nilai tiket yang tidak terjual, tetapi juga biaya operasional untuk penyelidikan, potensi kerusakan reputasi, dan risiko keamanan yang lebih luas.
Para pakar keamanan penerbangan dan analisis industri menyatakan kekhawatiran tentang bagaimana kasus-kasus seperti Pokornik dan Alexander dapat berlangsung tanpa terdeteksi dalam waktu yang lama. "Ini menggarisbawahi bagaimana kontrol identifikasi dan HR yang lemah dapat memaparkan maskapai – dan pengusaha lain – pada penipuan dan risiko keamanan," ujar seorang staf HR dalam analisis terkini. Industri perjalanan dan rekreasi menduduki peringkat kedua secara global dengan tingkat dugaan penipuan tertinggi pada tahun 2023, mencapai 36%. Perusahaan penerbangan bergulat dengan tantangan untuk menyeimbangkan pengalaman pengguna yang mulus dengan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat, terutama dalam proses login dan verifikasi. Kerentanan ini tidak hanya terbatas pada penipuan perjalanan, tetapi juga mencakup skema voucher palsu, seperti yang dilakukan oleh DaJuan Martin dari Southwest Airlines, yang memalsukan dan menjual voucher perjalanan senilai hampir 1,9 juta dolar AS antara 2018 dan 2022.
Sebagai respons, maskapai dan lembaga terkait didorong untuk mengadopsi solusi deteksi penipuan yang lebih canggih. Ini termasuk penggunaan platform deteksi penipuan berbasis AI dan pembelajaran mesin yang menganalisis data besar untuk mengidentifikasi transaksi dan pola perilaku yang mencurigakan. Otorisasi multifaktor dan verifikasi identitas yang lebih ketat juga direkomendasikan untuk melindungi akun karyawan dan pelanggan. Pelatihan karyawan yang komprehensif tentang skema penipuan umum dan kolaborasi lintas industri untuk berbagi informasi dan daftar hitam pelaku juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan. Dengan semakin canggihnya modus penipuan, industri penerbangan harus terus berinvestasi dalam teknologi dan prosedur keamanan yang adaptif untuk memastikan bahwa fasilitas yang dimaksudkan sebagai tunjangan tidak menjadi pintu gerbang bagi eksploitasi yang merugikan.