Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Strategi Visa Efektif Antar Malaysia Jadi Raja Pariwisata Asia Tenggara 2025

2026-01-14 | 04:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T21:46:56Z
Ruang Iklan

Strategi Visa Efektif Antar Malaysia Jadi Raja Pariwisata Asia Tenggara 2025

Pemerintah Malaysia mengumumkan bahwa kebijakan visa yang semakin ramah terhadap wisatawan menjadi pendorong utama lonjakan kunjungan internasional, memposisikan negara tersebut sebagai pemimpin pariwisata Asia Tenggara pada tahun 2025. Jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Malaysia diproyeksikan mencapai 27.3 juta pada tahun 2025, angka yang melampaui target awal dan menempatkannya di garis depan persaingan regional yang ketat. Inisiatif pembebasan visa untuk warga negara Tiongkok dan India yang diberlakukan sejak Desember 2023, serta kebijakan serupa untuk negara-negara Teluk dan beberapa negara Eropa, telah terbukti menjadi strategi efektif untuk menarik kembali arus turis pasca-pandemi COVID-19.

Kebijakan relaksasi visa ini bukan tanpa preseden, namun implementasinya yang agresif dan cakupannya yang luas menandai pergeseran strategis signifikan. Sebelum pandemi, Malaysia menghadapi tantangan dalam mempertahankan daya saingnya di tengah persaingan ketat dengan negara tetangga seperti Thailand, yang secara historis memiliki jumlah kunjungan turis yang lebih tinggi. Pada tahun 2202, misalnya, Thailand mencatat 28 juta kedatangan wisatawan, sementara Malaysia menarik 20.1 juta wisatawan. Langkah-langkah visa yang lebih terbuka ini, seperti pembebasan visa 30 hari, telah secara langsung berkontribusi pada peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, khususnya dari pasar-pasar kunci yang sebelumnya memerlukan proses aplikasi visa.

Implikasi kebijakan ini melampaui statistik kunjungan semata. Sektor pariwisata Malaysia diperkirakan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Pemerintah telah menargetkan pendapatan pariwisata sebesar 102.7 miliar ringgit pada tahun 2025, angka yang mencerminkan optimisme terhadap strategi visa saat ini. Ini menunjukkan upaya terkoordinasi untuk memulihkan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata, sebuah sektor yang menyumbang sekitar 15.2% dari PDB nasional pada tahun 2019. Analis industri perjalanan mengamati bahwa langkah ini tidak hanya menarik wisatawan massal, tetapi juga wisatawan berkualitas tinggi dengan daya beli lebih, terutama dari Tiongkok dan India, yang dikenal sebagai pasar pengeluaran besar.

Meskipun prospeknya cerah, ada kekhawatiran mengenai kapasitas infrastruktur dan keberlanjutan. Peningkatan pesat jumlah wisatawan memerlukan investasi berkelanjutan dalam transportasi, akomodasi, dan pengelolaan destinasi. Kepala Perencana Pariwisata Asia Tenggara dari sebuah lembaga riset terkemuka menekankan pentingnya menyeimbangkan pertumbuhan dengan konservasi lingkungan dan pelestarian budaya. Lebih lanjut, keberhasilan Malaysia ini dapat memicu respons serupa dari negara-negara tetangga di ASEAN, mendorong persaingan yang lebih ketat dalam hal kebijakan visa dan insentif perjalanan, mengubah dinamika pariwisata regional dalam jangka panjang. Efek dominasi pariwisata Malaysia ini juga menuntut tinjauan ulang terhadap standar layanan dan pengalaman wisatawan untuk memastikan daya tarik negara tetap terjaga di tengah lonjakan kunjungan.