
Pernyataan mantan Gubernur Bali, Wayan Koster, mengenai penurunan jumlah wisatawan domestik ke Pulau Dewata akibat keterbatasan penerbangan menjadi sorotan serius di tengah upaya pemulihan sektor pariwisata pascapandemi. Koster secara eksplisit menyebut bahwa berkurangnya jumlah pesawat yang beroperasi, terutama dari maskapai Garuda Indonesia dan Citilink yang sebagian armadanya menjalani perawatan rutin, telah membatasi kapasitas kursi dan menyulitkan calon penumpang mendapatkan tiket ke Bali, khususnya selama periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 (Nataru) dan sepanjang tahun 2025.
Data Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan total kunjungan wisatawan domestik hingga 26 Desember 2025 baru mencapai 9,2 juta orang, menurun signifikan dibandingkan total kunjungan pada tahun 2024 yang mencapai 10,1 juta. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai melaporkan penurunan jumlah maskapai domestik dari 13 pada tahun 2024 menjadi 11 pada tahun 2025, serta pengurangan rute domestik dari 25 menjadi 23 rute dalam periode yang sama. Kondisi ini berkontribusi pada fenomena kursi pesawat yang selalu penuh, namun pada saat yang sama, masyarakat kesulitan mendapatkan tiket.
Keterbatasan penerbangan ini bukan satu-satunya faktor yang disorot. Koster juga mengidentifikasi adanya pergeseran minat wisatawan domestik ke destinasi lain di Pulau Jawa, didukung oleh pembangunan infrastruktur jalan tol yang memadai, sehingga memudahkan aksesibilitas darat. Akademisi Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, I Gusti Agung Oka Mahagangga, menambahkan bahwa isu-isu seperti cuaca buruk, banjir, kemacetan, dan masalah sampah di Bali yang beredar di media sosial juga turut memengaruhi keputusan wisatawan domestik. Meskipun demikian, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa Bali tetap ramai, meskipun ada penurunan sekitar 2% pada wisatawan nusantara, dan tren kunjungan wisatawan mancanegara justru menunjukkan peningkatan.
Secara historis, pariwisata Bali telah menunjukkan resiliensi yang luar biasa menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tragedi Bom Bali 2002, krisis keuangan global, erupsi Gunung Agung, hingga pandemi COVID-19. Wisatawan domestik secara konsisten berperan penting dalam pemulihan sektor ini. Pada tahun 2023, Bali mencatat lebih dari 9,4 juta wisatawan domestik, dan 5,2 juta wisatawan mancanegara hingga 26 Desember. Angka kunjungan penumpang domestik di Bandara Ngurah Rai pada semester pertama 2024 juga menunjukkan peningkatan 16% dibandingkan periode yang sama tahun 2023, mencapai 11.259.019 penumpang. Namun, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali pada Juni 2024 mencatat penurunan jumlah penerbangan domestik sebesar 6,36% dibandingkan bulan sebelumnya, dan jumlah penumpang domestik juga turun 4,27%. Secara kumulatif Januari-Juli 2024, jumlah penerbangan domestik mengalami penurunan 5,78% dibandingkan periode yang sama tahun 2023, meskipun penumpang penerbangan domestik meningkat 2,34%.
Implikasi dari penurunan wisatawan domestik ini berpotensi merugikan ekonomi lokal. Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Undiknas Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, menyatakan bahwa gangguan operasional penerbangan dapat menyebabkan kerugian finansial bagi maskapai, penurunan pendapatan bandara, serta potensi pembatalan reservasi hotel dan tur. Koster sendiri menegaskan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara membawa dampak signifikan terhadap ekonomi lokal, belanja, tingkat hunian, dan lama tinggal wisatawan, yang semuanya berdampak pada aktivitas perekonomian Bali.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan telah menyiapkan stimulus berupa potongan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13-14% untuk periode penerbangan akhir tahun 2025 hingga awal 2026, sebagai upaya menjaga keterjangkauan layanan transportasi udara. Selain itu, pengembangan destinasi wisata di Bali bagian utara, barat, dan timur juga menjadi strategi untuk menyebarkan kunjungan wisatawan agar tidak hanya terpusat di Bali selatan yang sering mengalami kemacetan. Namun, keberlanjutan sektor pariwisata Bali sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, maskapai penerbangan, dan pelaku industri untuk mengatasi tantangan konektivitas dan memastikan kenyamanan wisatawan.