
Palembang, Sumatera Selatan, kembali menyoroti lima destinasi utama bernuansa religi yang secara konsisten menarik ribuan pengunjung untuk aktivitas ngabuburit, penantian jelang waktu berbuka puasa, setiap tahunnya. Kehadiran situs-situs bersejarah dan keagamaan ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual masyarakat selama Ramadan, tetapi juga menegaskan posisi Palembang sebagai pusat wisata religi yang penting di Sumatera bagian selatan, mendorong pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi lokal.
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, yang terletak strategis di jantung kota Palembang dekat Jembatan Ampera, menjadi pusat kegiatan keagamaan yang tak terpisahkan dari identitas kota. Didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I antara tahun 1738 hingga 1748, masjid ini menampilkan perpaduan arsitektur Melayu, Tionghoa, dan Eropa yang unik, menjadikannya ikon multikulturalisme. Selama Ramadan 2025, Masjid Agung aktif menyelenggarakan tradisi "Cawisan," serangkaian ceramah agama singkat setelah salat Dzuhur, Ashar, dan Maghrib, yang dirancang untuk mempererat silaturahmi dan meningkatkan pemahaman keagamaan jamaah. Kiyai Kgs HM Nurdin Mansyur, salah satu penceramah, pada 7 Maret 2025 menekankan pentingnya membaca dan mengamalkan Al-Qur'an di bulan suci ini, sebuah pesan yang resonan dengan jamaah seperti Romli (22) dan Danang (43) yang merasa tradisi ini sangat positif dan bermanfaat. Peran Masjid Agung juga meluas hingga pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, serta manasik haji dan umrah, menegaskan fungsinya sebagai pusat peradaban Islam.
Selanjutnya, Bayt Al-Qur'an Al-Akbar, atau Al-Qur'an Raksasa, di Pondok Pesantren Al Ihsaniyah Gandus, menarik perhatian sebagai destinasi religi modern. Museum ini menyimpan mushaf Al-Qur'an terbesar dan terberat di dunia, sebagaimana diakui Museum Rekor Indonesia (MURI). Al-Qur'an raksasa ini diukir pada 630 lembar kayu tembesu, dengan setiap halaman berukuran 177 cm panjang, 140 cm lebar, dan ketebalan 2,5 cm, serta total ketebalan sembilan meter termasuk sampulnya. Diresmikan pada 30 Januari 2012 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan biaya sekitar Rp 2 miliar, situs ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan religi, termasuk dari mancanegara seperti Malaysia, dengan rata-rata 500 pengunjung per hari sebelum pandemi COVID-19. Pengunjung memanfaatkan lokasi ini untuk tadarus, ceramah, salat tarawih, dan buka bersama selama Ramadan, yang menegaskan relevansinya sebagai tempat ngabuburit bernuansa edukasi agama.
Masjid Kiai Muara Ogan, atau yang akrab disebut Masjid Ki Marogan, di Kertapati, berdiri sejak 1890 dan merupakan salah satu masjid tertua di Palembang. Didirikan oleh Mgs. H. Abdul Hamid, seorang ulama dan pengusaha terkemuka, masjid ini memiliki arsitektur unik yang memadukan unsur Tiongkok, Arab, dan India, mencerminkan akulturasi budaya Palembang. Lokasinya yang berada di pertemuan Sungai Musi dan Ogan memberikan keunikan tersendiri, menjadikannya dapat diakses baik melalui jalur darat maupun sungai. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran agama dan aktivitas sosial. Di samping masjid, terdapat makam Ki Marogan yang menjadi tujuan ziarah, memperkuat daya tarik religiusnya.
Tidak jauh dari pusat kota, Masjid Besar Al-Mahmudiyah, lebih dikenal sebagai Masjid Suro, di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, berdiri sejak 1889. Didirikan oleh ulama besar KH Abdurahman Delamat, masjid ini memiliki sejarah panjang perjuangan mempertahankan eksistensi keagamaan di bawah tekanan kolonial Belanda. Lukman Nulhakim, sekretaris Masjid Al-Mahmudiyah, mengungkapkan bahwa pendirian masjid ini sempat menghadapi tentangan keras dari penjajah, yang khawatir akan potensi persatuan umat Islam. Setelah renovasi pada 1920 dan pembangunan menara pada 1925, masjid ini kembali diizinkan menyelenggarakan salat Jumat. Masjid Suro kini tetap menjadi pusat ibadah dan pendidikan agama yang sarat nilai sejarah, menarik pengunjung untuk merenung dan belajar tentang ketahanan Islam di Palembang.
Melengkapi pengalaman religi, Kampung Al-Munawwar, yang dikenal sebagai Kampung Arab di 13 Ulu, menawarkan atmosfer yang berbeda bagi ngabuburit. Kampung ini merupakan salah satu pemukiman historis komunitas Arab di Palembang, dengan rumah-rumah tradisional yang berusia ratusan tahun. Pemerintah Kota Palembang, melalui Dinas Pariwisata, pada tahun 2019 telah merencanakan pengembangan paket wisata religi Sungai Musi yang mencakup Kampung Al-Munawwar, dengan penambahan dermaga untuk mempermudah akses perahu. Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani, menyatakan bahwa upaya ini bertujuan untuk memperluas jelajah wisata dari sekadar Pulau Kemaro, menambahkan destinasi religi di sisi Sungai Musi sebagai titik singgah. Pengembangan ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya, tetapi juga berpotensi meningkatkan ekonomi lokal melalui pariwisata, meskipun data spesifik kunjungan terbaru masih belum terpublikasi secara luas. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan sebelumnya, Aufa Syahrizal, juga mengkonfirmasi pengembangan Al-Qur'an Al-Akbar, Kampung Al-Munawwar, dan Masjid Agung sebagai bagian dari wisata religius Palembang.
Secara kolektif, kelima destinasi ngabuburit bernuansa religi di Palembang ini berfungsi sebagai pilar penting dalam lanskap sosial dan ekonomi kota. Mereka bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi simpul pelestarian sejarah, pusat pendidikan, dan generator ekonomi melalui sektor pariwisata. Upaya pemerintah kota dan provinsi untuk mengintegrasikan destinasi-destinasi ini ke dalam paket wisata yang lebih luas, termasuk wisata sungai, menunjukkan komitmen terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan yang beretika, selaras dengan identitas Palembang yang kaya budaya dan spiritual. Keberlanjutan inisiatif ini, yang memerlukan sinergi antara pemangku kepentingan termasuk masyarakat, dunia pendidikan, dan media, akan menentukan kemampuan Palembang untuk terus memposisikan diri sebagai destinasi wisata religi yang menarik dan berwawasan ke depan.