Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kejutan! 8 Negara Asia Paling Diburu Turis, Indonesia Tak Ada di Daftar

2025-12-30 | 10:38 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T03:38:58Z
Ruang Iklan

Kejutan! 8 Negara Asia Paling Diburu Turis, Indonesia Tak Ada di Daftar

Peningkatan signifikan jumlah kunjungan wisatawan internasional ke Asia pasca-pandemi menyoroti pergeseran dinamika preferensi perjalanan, dengan delapan negara tujuan utama mengukuhkan posisi dominan mereka sementara Indonesia tidak termasuk dalam jajaran teratas. Thailand, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Vietnam, India, dan Filipina secara konsisten menarik jutaan pengunjung, didorong oleh strategi promosi agresif, infrastruktur pariwisata yang kuat, dan diversifikasi penawaran produk yang melampaui sekadar daya tarik alam.

Sejarah pariwisata di Asia menunjukkan bahwa negara-negara seperti Thailand dan Malaysia telah lama berinvestasi dalam pengembangan industri ini, membangun merek yang kuat dan jaringan konektivitas yang luas. Thailand, misalnya, berhasil menarik 28 juta wisatawan internasional pada tahun 2023, menghasilkan pendapatan sebesar 1,2 triliun baht (sekitar 34,7 miliar dolar AS), didorong oleh kampanye "Visit Thailand Year 2023" yang agresif dan kembalinya pasar Tiongkok. Jepang, dengan pencabutan pembatasan pandemi secara bertahap, menyaksikan lonjakan kunjungan mencapai 25,07 juta pada tahun 2023, angka tertinggi sejak pandemi, dengan belanja wisatawan melampaui 5 triliun yen (sekitar 34,2 miliar dolar AS) untuk pertama kalinya. Peningkatan ini didorong oleh nilai tukar yen yang melemah, membuat Jepang semakin menarik bagi pengunjung internasional.

Malaysia juga menunjukkan kinerja yang kuat, dengan 18,7 juta kedatangan wisatawan pada tahun 2023, menghasilkan pendapatan pariwisata sebesar 71,3 miliar ringgit Malaysia (sekitar 15 miliar dolar AS), melampaui target awal mereka. Singapura, meskipun memiliki wilayah geografis yang lebih kecil, secara strategis memposisikan dirinya sebagai pusat bisnis dan rekreasi mewah, menarik 13,6 juta pengunjung internasional pada tahun 2023, hampir mencapai tingkat pra-pandemi. Korea Selatan menarik 11,03 juta wisatawan asing pada tahun 2023, pertumbuhan yang luar biasa dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan daya tarik budaya Hallyu yang terus berkembang. Sementara itu, Vietnam mencatat 12,6 juta kedatangan internasional pada tahun 2023, melampaui target yang ditetapkan, dengan pendapatan pariwisata mencapai 678 triliun dong (sekitar 28,5 miliar dolar AS). India, dengan warisan budaya dan alam yang kaya, dan Filipina, dengan kampanye "Love The Philippines" yang baru, juga terus memperkuat posisi mereka dalam daftar preferensi wisatawan.

Absennya Indonesia dari daftar teratas ini, meskipun memiliki kekayaan alam dan budaya yang tak terbantahkan, memicu pertanyaan mengenai efektivitas strategi pariwisata nasional dan daya saing di tengah persaingan regional yang ketat. Meskipun Indonesia mencatat peningkatan kedatangan wisatawan internasional pada tahun 2023, mencapai sekitar 11,7 juta pengunjung, angka ini masih tertinggal dari beberapa tetangga regionalnya. Analis industri pariwisata, seperti Dr. Vivian Lee dari Asian Tourism Council, mencatat bahwa fokus pada konektivitas udara, kemudahan visa, dan promosi destinasi yang terpadu dan berkelanjutan adalah kunci keberhasilan. "Negara-negara yang mendominasi ini secara konsisten berinvestasi pada infrastruktur, pengalaman pengunjung, dan branding yang jelas, seringkali menargetkan segmen pasar spesifik dengan pesan yang terukur," jelas Dr. Lee.

Implikasi jangka panjang dari tren ini bagi Indonesia adalah perlunya evaluasi mendalam terhadap strategi pariwisata, termasuk pengembangan destinasi di luar Bali, peningkatan konektivitas penerbangan langsung ke pasar sumber utama, dan simplifikasi proses keimigrasian. Tanpa adaptasi yang cepat dan investasi yang strategis, Indonesia berisiko kehilangan pangsa pasar yang signifikan di tengah lanskap pariwisata Asia yang semakin kompetitif, berpotensi membatasi kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di masa depan. Pergeseran preferensi ini menggarisbawahi urgensi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan industri untuk mengidentifikasi dan mengatasi hambatan-hambatan struktural yang menghambat pertumbuhan berkelanjutan pariwisata Indonesia di panggung global.