
Sebuah kecelakaan kereta api tragis melanda Spanyol pada 24 Juli 2013, ketika kereta Alvia berkecepatan tinggi yang melakukan perjalanan dari Madrid menuju Ferrol tergelincir dengan kecepatan tinggi di sebuah tikungan tajam sekitar 4 kilometer di luar stasiun kereta api Santiago de Compostela. Insiden tersebut merenggut nyawa 79 orang dan melukai sedikitnya 139 lainnya, menjadikannya kecelakaan kereta api terburuk di Spanyol dalam lebih dari empat dekade. Sebagai respons, Perdana Menteri Spanyol saat itu, Mariano Rajoy, mengumumkan tiga hari berkabung nasional untuk para korban.
Kecelakaan yang terjadi pada pukul 20:41 CEST (18:41 UTC) itu melibatkan seluruh 13 gerbong kereta—dua lokomotif, dua gerbong generator, dan sembilan gerbong penumpang—yang keluar dari rel saat melintasi tikungan A Grandeira. Rekaman data kereta menunjukkan bahwa kereta tersebut melaju lebih dari dua kali lipat batas kecepatan yang diizinkan, yakni 80 kilometer per jam (50 mph), saat memasuki tikungan tersebut, dengan kecepatan mencapai 179 km/jam (111 mph). Pengemudi kereta, Francisco José Garzón Amo, kemudian didakwa dengan 79 tuduhan pembunuhan karena kecerobohan profesional dan sejumlah tuduhan menyebabkan cedera karena kecerobohan profesional. Investigasi awal menyoroti "kelalaian konsentrasi" pengemudi yang saat itu sedang menelepon dengan staf perusahaan kereta api sesaat sebelum kecelakaan.
Tragedi ini memicu tinjauan menyeluruh terhadap keselamatan jalur kereta api di seluruh Spanyol, dengan fokus pada peningkatan protokol dan sistem keselamatan. Salah satu faktor kunci yang disoroti adalah transisi dari sistem European Rail Traffic Management System (ERTMS) yang canggih di jalur berkecepatan tinggi ke sistem ASFA yang lebih tua dan kurang canggih di jalur konvensional, yang hanya memberikan peringatan kecepatan berlebih tanpa pengereman otomatis. Sistem ERTMS sendiri telah dinonaktifkan di bagian jalur tersebut. Dalam upaya mencegah insiden serupa di masa depan, otoritas perkeretaapian Spanyol, Adif, memasang tiga balise ASFA tambahan di jalur pendekatan ke Santiago de Compostela untuk menegakkan batas kecepatan 160, 60, dan 30 km/jam.
Kecelakaan Santiago de Compostela juga menyoroti kompleksitas bencana dan interaksi berbagai faktor, mulai dari kecepatan kereta, desain struktur beton di tikungan, hingga lingkungan interior gerbong. Dari 222 orang di dalam kereta (218 penumpang dan 4 kru), 99% mengalami cedera fatal atau non-fatal. Perdana Menteri Rajoy, yang merupakan penduduk asli Santiago, menyatakan hari kejadian itu sebagai "hari tersedih" baginya, mengunjungi lokasi kecelakaan dan rumah sakit untuk menemui para korban. Raja Juan Carlos dan Ratu Sofía juga mengunjungi para penyintas yang terluka di rumah sakit.
Meskipun Spanyol memiliki salah satu jaringan kereta api berkecepatan tinggi terbesar dan teraman di Eropa, tragedi tahun 2013 ini tetap menjadi pengingat yang menyakitkan akan pentingnya kewaspadaan dan pembaruan berkelanjutan dalam sistem keselamatan. Proses hukum yang panjang dan kompleks menyusul kecelakaan tersebut, dengan pengemudi kereta dan mantan direktur keselamatan Adif akhirnya dinyatakan bersalah pada Juli 2024, menyoroti tanggung jawab bersama antara kesalahan manusia dan kegagalan infrastruktur keselamatan. Peristiwa ini terus menjadi referensi krusial dalam diskusi mengenai keselamatan transportasi dan akuntabilitas di sektor perkeretaapian.