Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Sorotan Tajam: Helikopter Kerajaan Inggris Tempuh 58 Ribu Mil Setahun, Picu Debat Biaya dan Lingkungan

2026-01-11 | 23:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T16:47:41Z
Ruang Iklan

Sorotan Tajam: Helikopter Kerajaan Inggris Tempuh 58 Ribu Mil Setahun, Picu Debat Biaya dan Lingkungan

Dua helikopter baru yang disewa Keluarga Kerajaan Inggris telah menempuh jarak sekitar 58.000 mil atau setara dua kali keliling dunia hanya dalam sembilan bulan, antara Februari dan November 2025, memicu kembali sorotan publik terhadap biaya, jejak karbon, dan relevansi perjalanan kerajaan di era modern. Data penerbangan terbaru ini, yang mencatat 420 jam terbang dari armada AgustaWestland AW139, telah mendorong Istana Buckingham untuk kembali membela praktik perjalanan yang dibiayai publik ini.

Perjalanan ekstensif tersebut sebagian besar digunakan oleh anggota senior kerajaan untuk memenuhi berbagai agenda resmi di seluruh Inggris Raya. Putri Anne tercatat sebagai pengguna paling sering, dengan 68 pendaratan di kediamannya di Gatcombe Park, Gloucestershire. Pangeran William juga memanfaatkan helikopter secara luas, dengan 52 pemberhentian antara Windsor dan Forest Lodge, kediaman barunya bersama Putri Wales. Penggunaan helikopter ini telah menelan biaya yang signifikan, dengan lebih dari £1 juta dihabiskan untuk 170 perjalanan helikopter antara April 2023 hingga Maret 2024, didanai melalui Sovereign Grant, dana publik yang diberikan pemerintah Inggris kepada monarki.

Jejak karbon dari perjalanan semacam ini menjadi pusat kritik, terutama dari kelompok lingkungan dan anti-monarki seperti Republic. Para kritikus menyoroti kontradiksi antara advokasi lingkungan yang gencar dilakukan oleh anggota kerajaan, terutama Raja Charles III dan Pangeran William, dengan penggunaan moda transportasi yang sangat berpolusi. Jet pribadi dan helikopter dilaporkan menghasilkan emisi karbon per penumpang yang jauh lebih tinggi dibandingkan penerbangan komersial atau kereta api. Graham Smith, juru kampanye dari grup anti-monarki Republic, pada 2021 menyebut tindakan ini sebagai "kemunafikan yang mencolok", menyatakan bahwa para bangsawan tidak seharusnya memberi ceramah tentang perubahan iklim sementara mereka sendiri mengandalkan jet pribadi dan helikopter.

Menanggapi kritik tersebut, Istana Buckingham berulang kali menegaskan bahwa helikopter adalah komponen kunci dari rencana perjalanan kerajaan. Juru bicara istana menyatakan bahwa kemampuan unik helikopter untuk mengakses daerah-daerah terpencil di Inggris yang tidak mudah dijangkau oleh moda transportasi lain, serta memungkinkan para anggota keluarga kerajaan untuk melakukan beberapa acara dalam satu hari, sangat penting untuk memaksimalkan dampak dari tugas-tugas mereka. Sebuah sumber internal istana juga menjelaskan bahwa jika investasi sebesar itu telah dilakukan, penting untuk memaksimalkan penggunaannya. Lebih lanjut, pengenalan helikopter baru ini juga mencerminkan upaya untuk meningkatkan keberlanjutan, dengan kemampuan untuk beroperasi menggunakan 50% Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF), yang merupakan standar industri maksimum.

Pergeseran dalam pendekatan perjalanan Raja Charles III juga menjadi bagian dari narasi ini. Meskipun di masa lalu Raja dilaporkan "cukup alergi" terhadap perjalanan helikopter, ia kini dianggap telah merangkulnya sebagai "solusi yang secara mengejutkan ramah lingkungan" untuk monarki yang bekerja modern, terutama dengan adopsi helikopter yang kompatibel dengan SAF. Tim Fauchon, kepala eksekutif Asosiasi Helikopter Inggris, memuji Raja atas "memberikan contoh," mencatat bahwa Royal Flight secara aktif mencari lapangan terbang yang dapat memasok SAF, bahkan dengan biaya yang lebih tinggi.

Namun, perdebatan ini mencerminkan tantangan yang lebih besar bagi monarki kontemporer: bagaimana menyeimbangkan tuntutan tugas kenegaraan dan aksesibilitas dengan ekspektasi publik akan transparansi finansial dan komitmen lingkungan yang kredibel. Di tengah meningkatnya kesadaran akan dampak perubahan iklim dan tekanan terhadap institusi publik untuk menunjukkan akuntabilitas, penggunaan transportasi mewah tetap menjadi titik fokus. Upaya istana untuk memodernisasi armada dan mengadopsi bahan bakar berkelanjutan menunjukkan pengakuan atas kritik, namun volume perjalanan tetap menjadi pertanyaan sentral yang terus menuntut analisis berkelanjutan dan pertimbangan implikasi jangka panjang terhadap citra monarki.