Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rinjani Tutup Panjang hingga Maret 2026: Langkah Strategis Demi Keamanan dan Kelangsungan Alam

2026-01-15 | 04:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T21:45:33Z
Ruang Iklan

Rinjani Tutup Panjang hingga Maret 2026: Langkah Strategis Demi Keamanan dan Kelangsungan Alam

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) secara resmi menutup seluruh enam jalur pendakian Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Maret 2026, sebagai langkah preventif terhadap potensi bencana hidrometeorologi dan upaya fundamental untuk memulihkan ekosistem. Penutupan rutin tahunan ini memprioritaskan keselamatan pendaki dan keberlanjutan masa depan salah satu gunung berapi tertinggi di Indonesia tersebut.

Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar larangan, melainkan bentuk perlindungan komprehensif. "Penutupan sementara ini untuk keselamatan dan untuk masa depan Rinjani itu sendiri," ujarnya di Mataram pada 13 Januari 2026. Budhy menjelaskan, awal tahun 2026 yang memasuki musim hujan membawa risiko tinggi, di mana curah hujan intens dapat membuat jalur pendakian licin, memicu kabut tebal, serta aliran air yang berpotensi menutupi lintasan. "Risiko hipotermia dan kecelakaan meningkat signifikan, keselamatan adalah prioritas utama," tambahnya. Kondisi ini diperparah oleh prakiraan dari BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Mataram mengenai potensi bibit Siklon Tropis 93S yang dapat memicu cuaca ekstrem secara lokal dan tiba-tiba. Kebijakan ini juga merujuk pada Surat Edaran Menteri Kehutanan RI Nomor 7 Tahun 2025 tentang mitigasi bencana hidrometeorologi.

Lebih dari sekadar mitigasi risiko, penutupan ini memberikan waktu bagi alam Rinjani untuk "beristirahat". "Kawasan Gunung Rinjani dan alam juga butuh waktu beristirahat, sehingga masa penutupan memberi ruang bagi tanah dan vegetasi untuk pulih, satwa kembali tenang," kata Budhy. Selama periode ini, tekanan aktivitas manusia berkurang, memungkinkan regenerasi flora dan fauna secara alami. Penutupan ini menjadi bagian integral dari strategi pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Selama masa penutupan, Balai TNGR akan melakukan perbaikan jalur, pemeliharaan fasilitas, serta evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan pendakian agar saat dibuka kembali, Rinjani lebih aman dan siap menyambut musim pendakian.

Penutupan jalur pendakian Rinjani bukanlah fenomena baru. Setiap tahun, biasanya dari Januari hingga Maret atau April, jalur-jalur pendakian ditutup secara rutin karena faktor cuaca ekstrem musim hujan. Namun, Rinjani juga menghadapi tantangan insidental yang lebih besar. Pada tahun 2018, serangkaian gempa bumi mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dan memaksa penutupan jalur yang berdampak signifikan pada perekonomian lokal. Demikian pula, erupsi Gunung Baru Jari pada tahun 2015 juga menyebabkan penutupan dan kerugian ekonomi bagi masyarakat sekitar. Insiden jatuhnya sejumlah pendaki, termasuk wisatawan asing dari Brasil, Swiss, dan Belanda pada tahun 2025, juga memicu penutupan sementara dan evaluasi komprehensif terhadap sistem keselamatan pendakian.

Dampak ekonomi dari penutupan ini sangat terasa bagi ribuan masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata Rinjani. Porter, pemandu wisata, operator trekking, hingga pengemudi transportasi mengalami kerugian finansial yang signifikan. Ketua Transportasi Lingkar Rinjani, Zohri, pada Juli 2025 menyatakan, penutupan mendadak menyebabkan banyak pembatalan wisata dan kerugian. Neli Pujiawan, seorang pemandu Rinjani, bahkan harus beralih mencari pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada tahun 2015, kerugian kegiatan wisata diperkirakan mencapai Rp 50-100 juta per hari. Sementara pada Juli 2025, kerugian harian bagi pelaku wisata dilaporkan bisa mencapai Rp 600 juta. Sebagai gambaran, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari TNGR pada tahun 2017 mencapai Rp 10 miliar, namun turun drastis menjadi Rp 4 miliar pada tahun 2018 akibat penutupan pascagempa.

Taman Nasional Gunung Rinjani menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan eksploitasi pariwisata dengan prinsip konservasi. Meskipun ekowisata berkontribusi signifikan terhadap manfaat ekonomi lokal dan pendanaan konservasi, pariwisata massal yang tidak terkontrol dapat meningkatkan tekanan terhadap ekosistem. Data menunjukkan, periode Januari hingga November 2025 mencatat lebih dari 76 ribu pendaki mengunjungi Rinjani. Untuk mengatasi hal ini, Balai TNGR berencana memanfaatkan masa penutupan untuk membangun tiga shelter darurat di titik-titik rawan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bagi petugas, pemandu, dan porter, serta menyiapkan standar operasional prosedur yang lebih responsif. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen untuk tidak hanya memperbaiki kerusakan, tetapi juga untuk membangun fondasi yang lebih kokoh bagi pariwisata berkelanjutan dan pelestarian alam Rinjani untuk generasi mendatang. "Rinjani bukan hanya untuk dikunjungi hari ini, tetapi dijaga untuk generasi esok hari," demikian pernyataan resmi BTNGR.