Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ribuan Turis Terjebak Banjir Bandang Dahsyat di Thailand

2025-12-05 | 20:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T13:18:30Z
Ruang Iklan

Ribuan Turis Terjebak Banjir Bandang Dahsyat di Thailand

Banjir bandang yang melanda Thailand bagian selatan pada akhir November 2025 telah menyebabkan krisis signifikan, dengan lebih dari 1.000 wisatawan terdampar dan mengganggu pariwisata di wilayah tersebut. Kota Hat Yai di Provinsi Songkhla menjadi salah satu daerah yang paling parah terkena dampak, dinyatakan sebagai "zona bencana" setelah hujan tanpa henti sejak 19 November 2025. Curah hujan ekstrem, yang dipicu oleh palung monsun yang kuat dan sistem tekanan rendah yang dipengaruhi La Niña, mencatat 335 mm pada 21 November 2025 di Hat Yai, menjadikannya curah hujan terderas dalam 300 tahun terakhir.

Banjir ini menyebabkan meluapnya Kanal U-Taphao dan anak-anak sungainya, membanjiri sistem drainase kota dan mencapai kedalaman hingga 2,5 meter. Akibatnya, Hat Yai terputus dari daerah sekitarnya, dengan jalan-jalan utama seperti Jalan Sripoovanart terendam total, dan layanan transportasi darat terganggu parah, termasuk pembatalan layanan kereta api dan bus antara Bangkok dan provinsi-provinsi selatan. Meskipun Bandara Hat Yai tetap beroperasi, jalan-jalan di sekitarnya yang terendam banjir membuat akses masuk dan keluar bandara mustahil bagi banyak orang.

Lebih dari 1.000 wisatawan, termasuk sejumlah besar turis dari Malaysia dan Singapura, dilaporkan terdampar di hotel dan bandara. Beberapa laporan menyebutkan sekitar 4.000 wisatawan Malaysia terjebak di Hat Yai dan daerah sekitarnya. Wisatawan ini menghadapi kesulitan dalam mendapatkan makanan dan pasokan dasar lainnya karena banyak toko tutup atau sulit dijangkau, serta gangguan listrik dan komunikasi.

Dampak banjir meluas ke 10 provinsi selatan Thailand, termasuk Songkhla, Pattani, Yala, Narathiwat, Nakhon Si Thammarat, Phatthalung, Trang, Satun, dan Surat Thani. Lebih dari 465.000 orang di 16 distrik Songkhla terdampak, dan sekitar 1,9 juta orang mengungsi di seluruh wilayah 10 provinsi selatan. Bencana ini juga merenggut setidaknya 33 nyawa di tujuh provinsi, dengan penyebab termasuk banjir bandang, sengatan listrik, dan tenggelam. Beberapa laporan menyebutkan korban jiwa mencapai 181 orang.

Pemerintah Thailand dengan cepat mengerahkan "seluruh sumber daya" untuk membantu Hat Yai, termasuk tim penyelamat dari militer dengan perahu, jet ski, truk militer, dan helikopter untuk mengevakuasi penduduk serta wisatawan. Kementerian Pariwisata Thailand berkoordinasi untuk memberikan bantuan kepada wisatawan asing yang terdampak. Bisnis lokal, seperti hotel dan restoran, juga turut menyediakan tempat berlindung, makanan, dan pasokan penting bagi para wisatawan yang terdampar. Konsulat Jenderal Malaysia di Songkhla berkoordinasi erat dengan otoritas Thailand untuk mengevakuasi dan merelokasi warga negaranya yang terdampak. Pusat-pusat evakuasi, seperti Pusat Konvensi Internasional Universitas Pangeran Songkhla, telah didirikan, bersama dengan pusat distribusi makanan yang mampu menyalurkan hingga 20.000 kotak makanan per hari.

Kerugian ekonomi akibat banjir ini sangat besar, dengan Hat Yai sendiri menanggung kerugian lebih dari 500 juta baht (sekitar Rp 257 miliar), sementara kerugian ekonomi harian di 10 provinsi selatan diperkirakan mencapai 1 hingga 1,5 miliar baht. Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) telah memperingatkan bahwa banjir ini sangat memukul sektor pariwisata, dengan banyak operator tur dan agen perjalanan membatalkan rencana perjalanan. Beberapa negara, termasuk Malaysia dan Kanada, telah mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warganya untuk menghindari perjalanan ke Thailand selatan. Meskipun ramalan cuaca pada awal Desember 2025 menunjukkan potensi peningkatan curah hujan di selatan, otoritas terus memantau situasi dan memberikan peringatan terkait banjir dan risiko lainnya.