:strip_icc()/kly-media-production/medias/5420197/original/011537900_1763728535-IMG_20251121_111909_539.jpg)
Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan dinamika menarik dengan preferensi perjalanan ke luar negeri yang kian meningkat di kalangan wisatawan domestik. Jepang tetap menjadi destinasi primadona, sementara Tiongkok dan Vietnam menunjukkan kenaikan popularitas yang signifikan sebagai tujuan wisata pilihan.
Survei terbaru dari SiteMinder pada November 2024 mengungkapkan bahwa 79 persen wisatawan Indonesia cenderung memilih berlibur ke luar negeri pada tahun 2025, angka ini lebih tinggi 7 persen dibandingkan rata-rata persentase global. Riset Travel Pulse 3.0 oleh Klook di tahun 2025 juga mengukuhkan Jepang sebagai destinasi favorit utama wisatawan Indonesia.
Jepang mempertahankan posisinya sebagai destinasi teratas berkat daya tarik budaya pop yang mendunia seperti anime dan manga, keindahan alamnya yang autentik seperti Gunung Fuji, serta kekayaan budaya yang memesona. Infrastruktur pariwisata yang aman, bersih, dan transportasi publik yang tepat waktu juga menjadi faktor pendukung. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) mencatat rekor 517.600 kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari 400.000 orang pada tahun 2023 dan 293.400 orang pada periode Januari-Juli 2024, yang merupakan peningkatan sebesar 27,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tokyo menjadi kota favorit wisatawan Indonesia yang berlibur ke Jepang, dengan mayoritas mencari keindahan pemandangan alamnya. Dalam Readers' Choice Awards 2024 yang diadakan Conde Nast Traveler, Jepang bahkan dinobatkan sebagai Negara Terbaik untuk Traveling.
Di sisi lain, Tiongkok dan Vietnam kini 'naik daun' sebagai destinasi yang semakin menarik perhatian wisatawan Indonesia. Golden Rama Tours & Travel bahkan menyatakan bahwa permintaan wisata ke Tiongkok pada tahun 2024 berada "di luar ekspektasi". Tiongkok berhasil menduduki peringkat sebagai salah satu dari lima negara penyumbang wisatawan asing terbesar ke Indonesia, dengan 1,19 juta kunjungan pada tahun 2024, naik 52 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini juga didukung oleh penambahan volume penerbangan langsung antara kota-kota di Tiongkok dan Indonesia. Wisatawan Tiongkok cenderung menghabiskan banyak uang untuk berbelanja dan menikmati wisata kuliner, terutama masakan bahari atau seafood lokal. Destinasi alam seperti Manado serta Bromo, Tengger, dan Semeru juga sangat digemari.
Sementara itu, Vietnam juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Klook's Travel Pulse 3.0 tahun 2025 menyebut Vietnam mengalami peningkatan signifikan dalam popularitas. Minat tinggi dari masyarakat Indonesia mendorong Vietjet Air untuk membuka rute baru Jakarta-Ho Chi Minh City pada Juni 2023. Kunjungan wisatawan Indonesia ke Vietnam pada kuartal pertama tahun 2024 melonjak 188 persen dibandingkan periode sebelum pandemi tahun 2019, menempatkan Indonesia di urutan ketiga sebagai negara penyumbang turis terbesar ke Vietnam. Daya tarik Vietnam terletak pada keragaman budaya, pemandangan alam yang cantik, kuliner lezat, serta kebijakan bebas visa 30 hari bagi warga negara ASEAN. Tingkat pemulihan pariwisata Vietnam bahkan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara setelah pandemi COVID-19, dengan proyeksi mencapai 17,6 juta pengunjung pada tahun 2024, melampaui jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia pada tahun yang sama. Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) menempatkan Vietnam di posisi keempat global dengan pertumbuhan pariwisata tercepat di tahun 2024, naik 38,64 persen, mengalahkan kenaikan Indonesia sebesar 19,6 persen.
Secara umum, wisatawan Indonesia semakin mengutamakan pengalaman autentik seperti wisata kuliner, seni, budaya, dan wellness retreat. Tren ini juga didorong oleh kalangan milenial yang semakin sadar nilai dan mencari perjalanan bermakna. Fasilitas pembayaran eksklusif dan dominasi penggunaan platform digital (90%) untuk pemesanan tiket pesawat dan akomodasi turut mendukung tren ini. Menariknya, 98 persen wisatawan Indonesia sangat terbuka terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk perencanaan, pemesanan, dan peningkatan pengalaman menginap, menjadikannya salah satu yang paling reseptif di dunia. Ini menunjukkan bahwa preferensi wisatawan Indonesia terus berkembang, mencari destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga kemudahan akses, pengalaman yang kaya, dan kenyamanan teknologi.