:strip_icc()/kly-media-production/medias/2765128/original/088991000_1553925183-7.jpg)
Kedatangan turis asing ke Jepang mencapai rekor tertinggi 42,7 juta orang pada tahun 2025, melampaui capaian 40 juta untuk pertama kalinya, menurut data resmi yang dirilis Kementerian Transportasi. Pencapaian ini terjadi meskipun terdapat penurunan signifikan jumlah pengunjung dari Tiongkok pada akhir tahun akibat ketegangan diplomatik antara Beijing dan Tokyo yang memicu seruan boikot perjalanan.
Lonjakan pengunjung sebesar 16% dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 37 juta kedatangan, didorong oleh depresiasi yen yang membuat Jepang lebih terjangkau, serta upaya pemerintah pascapandemi untuk mempromosikan pariwisata. Namun, pada Desember 2025, jumlah wisatawan dari Tiongkok anjlok sekitar 45% dari tahun sebelumnya, menjadi sekitar 330.000 orang. Penurunan tajam ini menyusul pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November 2025 yang mengindikasikan Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan, memicu reaksi diplomatik keras dari Tiongkok yang kemudian mendesak warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang. Analisis oleh pakar penerbangan Li Hanming menyebutkan sekitar 500.000 pembatalan pemesanan tiket pesawat menuju Jepang dari Tiongkok terjadi hanya dalam tiga hari setelah imbauan tersebut.
Secara historis, Tiongkok merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang, dengan hampir 7,5 juta pengunjung pada sembilan bulan pertama tahun 2025, menyumbang seperempat dari total wisatawan asing. Meskipun penurunan wisatawan Tiongkok pada Desember memiliki dampak langsung, Menteri Transportasi Yasushi Kaneko menyatakan ini merupakan "pencapaian signifikan" bahwa jumlah pengunjung secara keseluruhan berhasil melewati angka 40 juta. Peningkatan kedatangan dari pasar lain seperti Korea Selatan, Taiwan, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat secara efektif mengimbangi kerugian dari Tiongkok. Kaneko menambahkan bahwa diversifikasi pasar pariwisata masuk menunjukkan kemajuan.
Pemulihan pariwisata pascapandemi COVID-19 di Jepang didukung oleh kebijakan pemerintah yang terkoordinasi, kampanye pemasaran yang efektif, dan peningkatan infrastruktur, termasuk pelonggaran pembatasan visa dan perluasan konektivitas penerbangan. Wisatawan asing menghabiskan rekor 9,5 triliun yen (sekitar 60 miliar dolar AS) pada tahun 2025, naik dari 8,1 triliun yen pada tahun sebelumnya. Meskipun jumlahnya menurun pada akhir tahun, wisatawan Tiongkok pada kuartal ketiga 2025 tercatat membelanjakan rata-rata 22% lebih banyak dibandingkan pengunjung dari negara lain.
Namun, pertumbuhan pesat ini juga menimbulkan tantangan. Destinasi populer seperti Kyoto menghadapi masalah kelebihan turis (overtourism) dan tekanan infrastruktur. Sebagai respons, Jepang berencana untuk melipatgandakan pajak turis internasional dari 1.000 yen menjadi 3.000 yen mulai Juli mendatang. Pemerintah Jepang menetapkan target ambisius untuk menarik 60 juta pengunjung asing setiap tahunnya pada tahun 2030.
Meskipun demikian, JTB, agen perjalanan terbesar di Jepang, memperkirakan jumlah wisatawan secara keseluruhan pada tahun 2026 akan "sedikit lebih rendah" dibandingkan tahun 2025 karena perkiraan penurunan permintaan yang berkelanjutan dari Tiongkok dan Hong Kong. Meskipun demikian, pendapatan pariwisata diperkirakan akan tetap meningkat karena kenaikan harga akomodasi dan pengeluaran wisatawan yang tinggi. Ketergantungan berlebihan pada satu pasar menjadi pelajaran berharga bagi industri pariwisata Jepang, mendorong perlunya strategi jangka panjang yang lebih tangguh dan diversifikasi pasar untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak politik.