Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rekor Suhu 2025: Siapa Pemegang Gelar Negara Terpanas?

2026-01-01 | 07:37 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T00:37:26Z
Ruang Iklan

Rekor Suhu 2025: Siapa Pemegang Gelar Negara Terpanas?

2025 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah, memicu peringatan serius tentang implikasi global terhadap pariwisata, kesehatan, dan infrastruktur. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) melaporkan bahwa 2025 kemungkinan besar akan menjadi tahun kedua atau ketiga terpanas yang pernah tercatat, melanjutkan tren pemanasan luar biasa yang disaksikan selama dekade terakhir. Suhu rata-rata permukaan bumi dari Januari hingga November 2025 tercatat 1,48°C di atas tingkat pra-industri, mendekati ambang batas 1,5°C yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Negara-negara di Semenanjung Arab dan Afrika Barat mengalami suhu ekstrem sepanjang 2025. Mitribah di Kuwait memimpin daftar dengan suhu rata-rata tahunan mencapai 54,0°C, diikuti Basra di Irak pada 53,9°C. Ahvaz di Iran dan Al Ain di Uni Emirat Arab juga mencatat suhu di atas 52,0°C. Di Afrika Barat, Burkina Faso memimpin dengan suhu rata-rata 29,96°C, diikuti Mali (29,72°C) dan Senegal (29,69°C), menunjukkan bagaimana posisi lintang rendah dan angin Harmattan yang minim awan berkontribusi pada panas yang menyengat. Beberapa negara di Asia Tengah, seperti Tajikistan, Kazakhstan, Iran, dan Uzbekistan, juga mengalami suhu 2°C hingga 3°C di atas rata-rata musiman mereka, dengan Tajikistan mencatat anomali suhu tertinggi di dunia yakni lebih dari 3°C di atas rata-rata musiman dari 1981 hingga 2010.

Gelombang panas yang melanda Eropa Selatan pada musim panas 2025 menyebabkan gangguan signifikan pada industri pariwisata. Destinasi populer seperti Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, dan Yunani menghadapi suhu yang mendekati 46°C. Otoritas di Inggris, Jerman, Swedia, Norwegia, dan Austria mengeluarkan peringatan perjalanan terkait panas, mendesak wisatawan untuk berhati-hati saat mengunjungi Mediterania. Penutupan situs-situs bersejarah seperti Acropolis di Athena dan Menara Eiffel di Paris, serta peningkatan kunjungan ke rumah sakit akibat penyakit terkait panas, menyoroti kerentanan infrastruktur dan kesehatan masyarakat.

Fenomena iklim La Niña, yang seharusnya membawa pendinginan global sementara, tidak mampu mengimbangi emisi gas rumah kaca yang terus meningkat. Ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menyimpulkan bahwa perubahan iklim yang diperparah oleh aktivitas manusia menjadikan 2025 sebagai salah satu tahun terpanas, bahkan dengan adanya La Niña. Profesor Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution dan ilmuwan iklim Imperial College London, menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem menjadi 10 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan satu dekade lalu karena perubahan iklim.

Dampak terhadap sektor pariwisata telah terlihat jelas. Sebuah studi pada 2024 di Tiongkok menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1°C pada suhu rata-rata menyebabkan penurunan kedatangan wisatawan internasional sebesar 8,09% dan pendapatan pariwisata sebesar 6,04%. Tren ini mendorong perubahan pola perjalanan, dengan wisatawan cenderung beralih ke destinasi dengan iklim lebih sejuk seperti Inggris, Skandinavia, dan negara-negara Baltik. Perusahaan perjalanan dan perhotelan harus beradaptasi dengan menawarkan opsi perjalanan yang lebih fleksibel, paket liburan ke daerah yang lebih dingin, dan memastikan fasilitas pendingin yang memadai. Peningkatan penjualan asuransi perjalanan "Cancel For Any Reason" sebesar 34% dari tahun ke tahun juga mencerminkan kekhawatiran wisatawan terhadap dampak cuaca ekstrem.

Implikasi jangka panjang dari suhu global yang terus meningkat melampaui sektor pariwisata. Laporan WMO Global Annual to Decadal Climate Update (2025–2029) memproyeksikan suhu global akan tetap pada atau mendekati tingkat rekor dalam lima tahun ke depan, meningkatkan risiko iklim dan dampaknya terhadap masyarakat, ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan. Kenaikan suhu yang berkelanjutan akan memperparah gelombang panas, kekeringan intens, dan curah hujan ekstrem, serta mencairnya lapisan es dan naiknya permukaan laut. Hal ini memerlukan investasi dalam infrastruktur tahan iklim, kesiapsiagaan darurat, dan praktik pariwisata berkelanjutan untuk melindungi baik sektor pariwisata maupun komunitas lokal.