:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460293/original/042868800_1767243532-WhatsApp_Image_2026-01-01_at_10.46.25__2_.jpeg)
Bandar Udara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara, serta destinasi wisata utama di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akan secara serentak mengheningkan cipta pada malam pergantian tahun 2026, menandai sebuah inisiatif nasional untuk merefleksikan resiliensi masyarakat Sumatera pasca-bencana dan mempromosikan pariwisata berbasis memori. Langkah ini, yang disinyalir sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam pengalaman berwisata, diharapkan dapat menginspirasi ribuan pelancong dan warga lokal untuk mengingat tragedi masa lalu sembari menyongsong masa depan dengan harapan.
Pengheningan cipta serentak ini memiliki resonansi historis yang mendalam, terutama bagi Aceh yang pernah dilanda tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004, hanya beberapa hari sebelum pergantian tahun. Bencana tersebut tidak hanya merenggut nyawa ratusan ribu jiwa dan menyebabkan kerugian infrastruktur mencapai Rp 3,1 triliun atau sekitar USD 214 juta, tetapi juga melenyapkan sektor pariwisata secara instan. Namun, Aceh telah menunjukkan kebangkitan signifikan, dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 12,9 juta orang pada tahun 2024, sebuah lonjakan tajam dari 6,9 juta pada tahun 2022. Keberhasilan ini tidak lepas dari pembangunan kembali infrastruktur, promosi aktif, dan menjadikan peninggalan bencana sebagai daya tarik wisata, termasuk Museum Tsunami Aceh dan PLTD Apung.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah lama mengakui pentingnya pengembangan pariwisata yang tangguh bencana dan aman, dengan mengeluarkan pedoman mitigasi risiko di destinasi wisata alam. Upaya ini sejalan dengan tren "dark tourism" atau "wisata kelam" yang tumbuh di Indonesia, di mana situs-situs tragedi seperti Museum Tsunami Aceh menarik wisatawan yang ingin mengenang dan menghormati peristiwa kelam. Konsep ini menawarkan perenungan dan pemahaman sejarah, bukan sekadar kesenangan, dan menarik minat wisatawan yang ingin mempelajari latar belakang suatu tragedi secara langsung.
Meskipun Sumatera secara keseluruhan, termasuk Sumatera Utara dengan Danau Toba dan Sumatera Barat dengan keindahan alamnya, terus menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, langkah mengheningkan cipta ini menjadi bagian dari strategi pembangunan pariwisata berkualitas yang tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan kultural bagi masyarakat setempat. Bandara, sebagai gerbang utama bagi wisatawan, memegang peran krusial dalam menciptakan pengalaman positif. Kualitas layanan dan informasi yang jelas di bandara dapat meningkatkan pengalaman wisatawan secara keseluruhan. Dengan 250.413 wisatawan mancanegara berkunjung ke Sumatera Utara pada tahun 2024, sebagian besar melalui Bandara Kualanamu, sinkronisasi pesan dan pengalaman di titik masuk ini sangat vital.
Mengheningkan cipta serentak di ruang publik, termasuk bandara dan tempat wisata, bukan hal baru di Indonesia, dengan preseden seperti peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November. Namun, mengintegrasikannya ke dalam perayaan Tahun Baru di wilayah yang memiliki sejarah panjang dengan bencana alam, menunjukkan evolusi dalam pendekatan pariwisata Indonesia. Hal ini menegaskan komitmen untuk membangun resiliensi, memupuk empati, dan menjadikan momen pergantian tahun sebagai kesempatan untuk refleksi kolektif. Inisiatif ini tidak hanya akan memperkaya pengalaman spiritual wisatawan tetapi juga memperkuat citra Sumatera sebagai destinasi yang menghargai sejarah, budaya, dan ketahanan manusianya, sembari mendorong pariwisata berkelanjutan yang bertanggung jawab.