
Dua patung raksasa berwajah sangar dengan gada besar di tangan tegak menjaga Pintu Utara Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, melampaui sekadar ornamen monumental; mereka adalah Dwarapala, simbol perlindungan yang kaya narasi historis dan adaptasi modernitas Indonesia. Kehadiran arca-arca ini bukan hanya pajangan visual, melainkan representasi dari sebuah kisah transformasi kuno dan penegasan fungsi sebagai pelindung area penting.
Secara etimologis, Dwarapala berasal dari bahasa Sanskerta, di mana "dvāra" berarti gerbang atau pintu, dan "pala" berarti penjaga. Dalam tradisi Hindu-Buddha yang berkembang pesat di Nusantara sejak abad ke-8, arca Dwarapala dipercaya sebagai simbol penjaga gerbang suci, bertugas menghalau energi negatif atau makhluk jahat agar tidak memasuki area sakral seperti candi atau istana raja. Figur ini umumnya digambarkan bertubuh besar, berotot, bermata melotot, dengan taring mencuat, memegang gada sebagai lambang kekuatan dan kewibawaan.
Narasi yang menyebut Dwarapala sebagai "pemakan manusia" merujuk pada latar belakang mitologis yang lebih kelam sebelum transformasinya. Menurut Ilyas Subekti, seorang Pemandu Jakarta Good Guide, sosok Dwarapala dikisahkan sebagai entitas yang gemar memangsa manusia di masa lampau. Namun, kisahnya berubah drastis setelah pertemuannya dengan Sang Buddha. Melalui ajaran kitab suci, Dwarapala disadarkan, meninggalkan tabiat buruknya, dan kemudian diberi tugas baru sebagai pelindung tanah dan area penting. "Pada waktu itu akhirnya diinsafkan oleh Buddha, ya disadarkan oleh Buddha karena dia belajar kitabnya Buddha kayak gitu akhirnya disadarkan. Akhirnya dikasih tugas, 'Udah jangan makan-makan orang lagi'. Terus tugasnya ngapain? Jagain tanah sama area rumah lah kayak gitu pada intinya. Ya intinya adalah sebagai pelindung, makanya selalu berada di depan rumah, depan pekarangan," ujar Ilyas Subekti pada Kamis, 8 Januari 2026. Transformasi ini menegaskan peran mereka sebagai pelindung setia yang mengusir niat jahat.
Penempatan Dwarapala di Pintu Utara GBK secara strategis menegaskan fungsi simbolisnya sebagai perlindungan terhadap kawasan olahraga yang sakral dan penting bagi negara. Kawasan GBK sendiri, dengan luas lebih dari 100 hektar yang juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, telah mengalami renovasi signifikan menjelang Asian Games 2018. Renovasi tersebut, yang tidak mengubah struktur bangunan cagar budaya, justru memperkaya lanskap dengan sentuhan budaya Nusantara. Arsitek senior Gregorius Yori Antar, yang dikenal sebagai "Pendekar Arsitektur Nusantara," turut terlibat dalam memasukkan unsur ragam budaya Indonesia pada ornamen di empat plaza utama GBK, termasuk penggunaan patung dan ukiran yang merepresentasikan kekayaan tradisi. Ini sejalan dengan visi awal Presiden Soekarno yang menginginkan GBK sebagai kompleks berarsitektur modern klasik, namun tetap menjaga identitas kebangsaan Indonesia.
Dengan demikian, patung Dwarapala di Pintu Utara GBK melampaui perannya sebagai penjaga fisik semata. Mereka menjadi ikon yang menginternalisasi nilai-nilai perlindungan, transformasi, dan kebanggaan budaya Indonesia. Penafsiran modern terhadap Dwarapala yang "bertaubat" ini juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kesucian dan integritas sebuah kawasan, sekaligus memperkenalkan kekayaan mitologi dan filosofi lokal kepada pengunjung internasional maupun domestik. Ini adalah perpaduan unik antara warisan spiritual kuno dan fungsi kontemporer dalam arsitektur publik.