Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pilot Alaska Airlines Gugat Boeing Rp 167,4 Miliar Usai Pintu Pesawat Terlepas di Udara

2026-01-06 | 09:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T02:47:59Z
Ruang Iklan

Pilot Alaska Airlines Gugat Boeing Rp 167,4 Miliar Usai Pintu Pesawat Terlepas di Udara

Kapten Brandon Fisher, seorang pilot berpengalaman di Alaska Airlines, mengajukan gugatan senilai 10 juta dolar AS atau sekitar Rp 167,4 miliar terhadap Boeing pada 31 Desember 2025, menuduh produsen pesawat itu berupaya mengalihkan kesalahan insiden pintu pesawat copot di udara pada Januari 2024. Gugatan yang diajukan di pengadilan federal yang mengawasi kasus-kasus terkait ini menuduh Boeing merusak reputasi dan menyebabkan tekanan emosional dengan menyiratkan kelalaian awak pesawat dalam pembelaannya terhadap klaim penumpang. Insiden tersebut, yang terjadi pada 5 Januari 2024, melibatkan penerbangan Alaska Airlines 1282, sebuah Boeing 737 MAX 9, dalam perjalanan dari Portland, Oregon, ke Ontario, California, ketika panel pintu tengah (MED plug) terlepas dari badan pesawat tak lama setelah lepas landas di ketinggian sekitar 16.000 kaki.

Penyelidikan awal oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) menemukan bahwa empat baut penahan yang seharusnya mengamankan penutup pintu tidak terpasang. Laporan NTSB pada 24 Juni 2025 menyebut "kemungkinan penyebab" insiden itu adalah kegagalan Boeing dalam "memberikan pelatihan, panduan, dan pengawasan yang memadai" kepada pekerja pabriknya, serta kurangnya efektivitas Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dalam memastikan Boeing mengatasi masalah ketidaksesuaian yang "berulang dan sistemik" terkait proses pelepasan suku cadang. Insiden ini menyebabkan dekompresi cepat di kabin, masker oksigen darurat diturunkan, dan beberapa barang penumpang tersedot keluar dari pesawat. Tujuh penumpang dan satu pramugari mengalami luka ringan, tetapi semua 171 penumpang dan enam awak pesawat selamat berkat tindakan cepat pilot dan kopilot yang berhasil mendaratkan pesawat kembali di Portland.

Gugatan Kapten Fisher muncul setelah Boeing menghadapi serangkaian masalah kualitas produksi. Setelah insiden Alaska Airlines 1282, FAA memerintahkan pengandangan sementara 171 pesawat Boeing 737 MAX 9 untuk inspeksi darurat. Audit FAA pada Maret 2024 terhadap fasilitas produksi Boeing 737 MAX menemukan 33 dari 89 pengujian produk gagal, mengidentifikasi masalah dalam proses manufaktur yang disetujui dan kegagalan dalam menjaga dokumentasi kendali mutu. Juru bicara Spirit AeroSystems, produsen badan pesawat 737 MAX, menyatakan perusahaan sedang meninjau semua ketidaksesuaian yang teridentifikasi untuk tindakan perbaikan. CEO Boeing, Dave Calhoun, telah mengakui akuntabilitas perusahaan atas insiden tersebut dan berkomitmen untuk menerapkan rencana komprehensif guna memperkuat keselamatan dan kualitas.

Masalah Boeing dengan kualitas produksi telah menjadi sorotan selama bertahun-tahun, terutama setelah dua kecelakaan fatal Boeing 737 MAX 8 pada 2018 dan 2019 yang menewaskan 346 orang dan menyebabkan larangan terbang global selama hampir dua tahun. Dalam kasus-kasus tersebut, Boeing dituduh mengutamakan keuntungan daripada nyawa penumpang. Penyelidikan NTSB terhadap insiden Alaska Airlines juga mengungkapkan wawancara dengan pekerja Boeing yang mengindikasikan bahwa pesawat 737 MAX yang dikirim oleh Spirit AeroSystems seringkali memiliki cacat. Seorang pekerja menyebut, "pesawat datang dalam keadaan rusak," dengan masalah pada struktur, kulit, dan lubang. Pada September 2025, FAA mengusulkan denda sebesar USD 3,1 juta (sekitar Rp 51,9 miliar) terhadap Boeing atas pelanggaran keselamatan, termasuk insiden 5 Januari 2024.

Gugatan Kapten Fisher juga menyoroti strategi hukum Boeing dalam gugatan penumpang sebelumnya yang disebut Fisher telah mengkambinghitamkan awak pesawat untuk menutupi cacat produksinya. Empat pramugari dari penerbangan yang sama juga menggugat Boeing pada Juli 2025 atas cedera fisik dan psikologis, mencari kompensasi untuk trauma seperti tinnitus dan PTSD. Sebelumnya, tiga penumpang lain, Kyle Rinker, Amanda Strickland, dan Kevin Kwo, juga mengajukan gugatan senilai 1 miliar dolar AS terhadap Boeing dan Alaska Airlines pada Maret 2024, mengklaim insiden itu disebabkan oleh kelalaian dan seharusnya dapat dicegah.

Implikasi jangka panjang dari insiden ini dan gugatan yang menyertainya dapat memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap Boeing dan otoritas regulasi. FAA sendiri mengakui memiliki andil dalam insiden tersebut, dengan Administrator Mike Whitaker menyatakan pada Juni 2024 bahwa agensi tersebut terlalu "lepas tangan" dan fokus pada audit dokumen daripada inspeksi langsung, mengakui pengawasan mereka kurang memadai. Insiden ini mendorong FAA untuk memperketat pengawasan terhadap Boeing, mengaudit lini produksi, dan mempertimbangkan untuk meminta entitas independen mengambil alih aspek sertifikasi keselamatan pesawat baru. Pertanyaan mendasar mengenai budaya keselamatan di Boeing dan efektivitas pengawasan regulasi tetap menjadi tantangan krusial bagi industri penerbangan global.