Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pesan Rahasia Pendaki Gunung Slamet untuk Mantan Terungkap

2026-01-03 | 10:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T03:32:02Z
Ruang Iklan

Pesan Rahasia Pendaki Gunung Slamet untuk Mantan Terungkap

Operasi pencarian besar-besaran terus dilancarkan untuk menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet sejak akhir Desember 2025, dengan temuan mencengangkan: sebuah papan bertuliskan "HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL" yang dibawa Syafiq, menambah dimensi emosional dalam tragedi pendakian ini. Syafiq dilaporkan hilang setelah terpisah dari rekan pendakiannya, Himawan Choidar Bahran, di tengah kondisi cuaca ekstrem yang menyelimuti puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.

Himawan Choidar Bahran, rekan Syafiq, berhasil ditemukan pada Senin, 29 Desember 2025, di sekitar Pos 9 dalam kondisi lemas dan dievakuasi ke Basecamp Dipajaya. Ia mengonfirmasi bahwa papan bertuliskan pesan untuk mantan itu sengaja dipesan secara daring oleh Syafiq dan sempat digunakan untuk berfoto di puncak. Himawan menjelaskan bahwa Syafiq Ali memang memiliki riwayat hubungan putus-nyambung dengan seseorang. Papan tersebut ditemukan dalam jaket Himawan saat ia dievakuasi. Detail personal ini menyoroti motivasi pendaki muda yang terkadang melampaui sekadar menaklukkan ketinggian, namun juga membawa beban emosional atau tujuan personal lainnya ke puncak gunung.

Syafiq dan Himawan memulai pendakian tektok (tanpa bermalam) melalui jalur Dipajaya Clekatakan pada Sabtu malam, 27 Desember 2025, dengan perkiraan turun pada Minggu sore, 28 Desember 2025. Namun, keduanya tak kunjung kembali, memicu kekhawatiran dan pelaporan kepada pihak basecamp. Himawan mengungkapkan, mereka terpisah di Pos 9 atau Plawangan pada Senin pagi sekitar pukul 06.00 WIB, dengan Himawan mengalami kram kaki. Syafiq kemudian berinisiatif turun sendirian untuk mencari bantuan. Hingga hari kelima operasi pencarian, Syafiq masih belum ditemukan.

Cuaca buruk dengan hujan rintik-rintik, kabut tebal, dan angin kencang menjadi kendala utama bagi tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan. Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Andri Adi, menegaskan bahwa meskipun cuaca tidak bersahabat, pencarian tetap dilanjutkan dengan menyasar lembah-lembah di luar jalur pendakian, mengingat Himawan ditemukan di luar jalur semestinya. Diduga, kedua pendaki sempat kehabisan air dan mencari sumber air di sekitar jalur sungai, yang kemudian membuat mereka tersesat. Kondisi topografi Gunung Slamet yang dikenal sulit, dengan kawah aktif dan perubahan cuaca mendadak, selalu menyajikan risiko fatal bagi pendaki.

Tragedi ini menjadi pengingat penting bagi komunitas pendaki dan pengelola gunung tentang urgensi kepatuhan terhadap standar keselamatan. Berbagai insiden pendaki hilang sebelumnya, seperti kasus Naomi Daviola Setyani pada Oktober 2024 yang tersesat selama dua hari, atau tragedi tahun 1985 dan 2001 yang merenggut nyawa, menegaskan reputasi Gunung Slamet sebagai salah satu gunung dengan risiko tinggi di Jawa Tengah. Meskipun pendakian ke Gunung Slamet, melalui jalur seperti Bambangan, telah dibuka kembali setelah penutupan enam bulan pada April 2024, pengelola basecamp senantiasa mengingatkan pendaki tentang persyaratan ketat, seperti wajib surat sehat dan larangan solo hiking, serta batas aman pendakian yang tidak boleh dilanggar. Peristiwa Syafiq ini menggarisbawahi bagaimana persiapan mental dan fisik yang matang, serta pengalaman yang memadai, esensial dalam menghadapi tantangan alam yang tidak terduga, di mana ambisi personal seringkali berhadapan dengan realitas bahaya pegunungan. Keluarga Syafiq di Magelang, yang sebelumnya terkejut karena Syafiq pamit mendaki Gunung Sumbing namun ternyata ke Slamet, kini menanti dengan harap-harap cemas hasil pencarian.