:strip_icc()/kly-media-production/medias/5455433/original/041426000_1766657662-3.jpg)
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap pembukaan kembali Teater Bintang Planetarium Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM) telah memicu maraknya praktik penipuan dan percaloan tiket, mendorong pengelola dan pemerintah provinsi untuk mengeluarkan imbauan keras agar calon pengunjung hanya melakukan pembelian melalui platform resmi. Fenomena ini, yang muncul setelah ikon edukasi astronomi tersebut beroperasi kembali pada akhir Desember 2025 setelah 13 tahun revitalisasi, menyoroti kerentanan masyarakat terhadap modus kejahatan di tengah lonjakan permintaan yang tak terpuaskan.
PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai pengelola kawasan TIM, melalui Head of SBU Taman Ismail Marzuki, Anya A. Christiana, secara tegas menyatakan bahwa sistem penjualan tiket Teater Bintang Planetarium dirancang terintegrasi, transparan, dan berbasis kuota untuk memastikan pengalaman menonton yang aman, nyaman, serta bebas dari praktik percaloan dan penipuan. Pembelian tiket secara daring hanya dapat dilakukan melalui platform Loket.com, sementara pembelian langsung (on the spot) tersedia di loket resmi yang berlokasi di Drop Off Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki. Jakpro tidak menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, perorangan, atau kanal tidak resmi dalam pendistribusian tiket.
Antusiasme publik memang luar biasa. Tiket pertunjukan, yang berkapasitas 200 kursi per sesi, seringkali ludes terjual dalam waktu kurang dari tiga menit setiap kali dibuka. Keterbatasan kuota ini, di tengah harga tiket yang terjangkau (Rp10.000 untuk umum dan gratis bagi pelajar pemegang Kartu Jakarta Pintar atau kartu pelajar resmi hingga April 2026), menciptakan celah bagi oknum tidak bertanggung jawab. Sebuah akun yang menawarkan tiket Planetarium dengan harga Rp30.000 per tiket, jauh di atas tarif resmi, sempat viral di media sosial, memicu kritik publik. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bahkan telah menegaskan tidak akan menolerir praktik percaloan dan meminta Direktur Utama Jakpro untuk bertanggung jawab dalam memastikan sistem penjualan tiket bebas dari calo.
Pengetatan sistem penjualan tiket dilakukan menyusul arahan Gubernur DKI Jakarta untuk memberikan akses yang lebih adil kepada masyarakat, dengan pembagian kuota 50 persen untuk pembelian daring dan 50 persen untuk pembelian langsung setiap jadwal pertunjukan. Meskipun demikian, tingginya permintaan tetap menjadi magnet bagi praktik ilegal. Insiden penipuan tiket di objek wisata bukanlah hal baru di Jakarta. Kota ini, sebagai destinasi favorit, termasuk dalam kategori wilayah rawan penipuan wisatawan, dengan peningkatan kasus yang signifikan terutama saat musim liburan puncak. Modus penipuan tidak hanya terbatas pada tiket atraksi, tetapi juga merambah ke layanan transportasi dan agen perjalanan bodong.
Implikasi jangka panjang dari fenomena ini meluas melampaui kerugian finansial individu. Praktik penipuan tiket dapat merusak reputasi destinasi wisata, menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap pengelolaan fasilitas umum, dan mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung. Untuk mengatasi masalah ini secara holistik, Jakpro telah menegaskan akan menindak tegas setiap pelanggaran terhadap sistem yang berlaku, termasuk pembatalan tiket yang terindikasi dibeli dari calo. Pengelola juga terus mengimbau pengunjung untuk selalu mengecek informasi terkini melalui akun Instagram resmi @tim.cikini dan memastikan bukti pembayaran serta e-tiket yang valid. Edukasi publik mengenai risiko pembelian tiket dari sumber tidak resmi dan pentingnya verifikasi menjadi krusial untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang, demi menjaga integritas sektor pariwisata edukasi Jakarta.