:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469086/original/053701500_1768056478-david-klein-INBqy9w0JBY-unsplash.jpg)
Pemandu wisata masa kini beradaptasi dengan tuntutan Generasi Z yang haus akan konten estetis di media sosial, mengubah peran tradisional mereka menjadi "produser" pengalaman digital. Fenomena ini muncul seiring dominasi Gen Z (lahir antara pertengahan 1990-an dan awal 2010-an) dalam lanskap perjalanan, dengan sekitar 40% dari wisatawan global saat ini berasal dari kelompok ini. Mereka tidak hanya mencari destinasi, tetapi juga kesempatan untuk menciptakan dan berbagi momen "Instagramable" atau "TikTok-worthy".
Sebuah survei menunjukkan bahwa 43% Gen Z secara aktif mencari pengalaman yang dapat memberikan konten menarik untuk platform media sosial mereka, dan 53% menjadikan media sosial sebagai inspirasi utama perjalanan mereka. Hashtag "travel" sendiri telah mengumpulkan lebih dari 74,4 miliar tayangan di TikTok dan lebih dari 624 juta postingan di Instagram, menunjukkan skala pengaruh media sosial terhadap keputusan perjalanan. Kondisi ini mendorong biro perjalanan dan pemandu wisata untuk mengembangkan keahlian baru di luar pengetahuan sejarah dan logistik semata.
Widarin Vacation, sebuah biro perjalanan, bahkan telah mewajibkan pemandu wisata mereka memiliki kemampuan fotografi dan videografi yang mumpuni. CEO Widarin Vacation, Teghar Syahranu, menyatakan bahwa di era media sosial, dokumentasi visual adalah aset, dan perusahaannya memastikan setiap peserta tur pulang dengan konten digital berkualitas tinggi yang siap dibagikan. Pemandu wisata kini tidak hanya bertugas mengkoordinasi kegiatan harian atau memberikan informasi, tetapi juga menjadi sutradara dadakan yang memahami tren pengambilan konten untuk TikTok dan Instagram, membantu wisatawan mendapatkan bidikan terbaik atau bahkan mengambilkan foto dan video. Ini mencakup memberikan arahan pose hingga menyesuaikan visual dengan gaya video klip K-Pop dan drama Korea untuk perjalanan ke Korea Selatan, salah satu destinasi yang populer di kalangan Gen Z.
Adaptasi ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam ekspektasi wisatawan. Dulunya, pemandu wisata fokus pada penyampaian informasi yang jelas dan terstruktur, serta memastikan kenyamanan dan keamanan. Kini, mereka juga harus bisa menciptakan narasi visual yang menarik, mengemas informasi secara estetis, dan bahkan membantu personal branding wisatawan. Datuk Tan Kok Liang, Presiden Federasi Pariwisata Malaysia, menekankan bahwa konten yang konsisten dan disesuaikan adalah kunci untuk menjaga keterlibatan dengan Gen Z, yang akan memiliki daya beli lebih besar dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Implikasinya meluas ke sektor pelatihan dan pengembangan profesi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (Kemenparekraf) melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Kompetensi Indonesia (KI) telah menghadirkan program Skill Up bagi pemandu wisata, membekali mereka dengan teknik produksi dan strategi optimasi konten digital. Novita Lubis, Ketua LPK KI, meyakini kolaborasi ini akan mengantarkan pemandu wisata ke era digital, di mana mereka wajib menguasai strategi konten, mulai dari menciptakan tren hingga memilih platform yang tepat. Ini menunjukkan pengakuan formal terhadap kebutuhan akan keterampilan baru ini dalam industri.
Fenomena ini tidak hanya mengubah deskripsi pekerjaan pemandu wisata tetapi juga menuntut pemahaman yang lebih dalam tentang psikologi Generasi Z. Gen Z cenderung mencari validasi sosial dan memiliki kecenderungan kuat untuk berbagi pengalaman. Mereka memanfaatkan perjalanan tidak hanya untuk rekreasi tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan identitas digital. Oleh karena itu, kemampuan pemandu wisata untuk memfasilitasi pembuatan konten yang autentik dan menarik menjadi krusial.
Ke depan, integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) juga akan semakin membentuk peran pemandu wisata. AI dapat membantu personalisasi rekomendasi dan perencanaan perjalanan yang kompleks, membebaskan pemandu untuk fokus pada aspek emosional dan kultural dari pengalaman wisata. Namun, peran sentuhan manusia dalam menciptakan konten yang "hidup" dan interaksi yang tulus masih tak tergantikan oleh teknologi. Pemandu yang mampu menggabungkan keahlian digital dengan narasi lokal yang kuat dan personalisasi layanan akan menjadi aset yang sangat berharga dalam industri pariwisata yang terus berevolusi.