Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pelatih Valencia FC Terlibat: 6 Kecelakaan Kapal Labuan Bajo Soroti Isu Keselamatan

2026-01-04 | 02:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T19:05:07Z
Ruang Iklan

Pelatih Valencia FC Terlibat: 6 Kecelakaan Kapal Labuan Bajo Soroti Isu Keselamatan

Gelombang tinggi dan anomali cuaca di perairan Labuan Bajo menenggelamkan kapal wisata KM Putri Sakinah pada Jumat, 26 Desember 2025, menewaskan Fernando Martin Carreras, pelatih tim putri Valencia CF, dan tiga anaknya, Martin Garcia Mateo, Martines Ortuno Maria Lia, serta Martines Ortuno Enriquejavier, yang tengah berlibur di destinasi super prioritas tersebut. Insiden tragis ini menambah panjang daftar kecelakaan laut di Labuan Bajo, menyoroti kerapuhan sistem keselamatan maritim di tengah gencarnya promosi pariwisata bahari Indonesia. Istri Fernando dan seorang putrinya selamat dari kecelakaan yang terjadi saat kapal berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar tersebut.

Kecelakaan KM Putri Sakinah terjadi sekitar pukul 20.30 WITA setelah mesin kapal mati dan dihantam dua gelombang tinggi secara tiba-tiba, menyebabkan kapal terbalik dan tenggelam. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Maumere, Fathur Rahman, mengonfirmasi operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur tim SAR gabungan, dan pencarian sempat diperpanjang hingga 4 Januari 2026 atas permintaan Duta Besar Spanyol dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo. Ketua DPC Gabungan Pengusaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri) Labuan Bajo, Budi Widjaja, turut mencatat adanya anomali cuaca di Selat Pulau Padar yang menyebabkan gelombang tiba-tiba muncul di perairan yang sebelumnya tenang.

Serangkaian insiden serupa telah menjadi pola mengkhawatirkan di Labuan Bajo. Sepanjang tahun 2024 hingga akhir 2025, tercatat sedikitnya 15 kecelakaan kapal wisata terjadi di perairan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo. Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi NTT, Yosua P. Karbeka, menyebut rangkaian kecelakaan ini sebagai cerminan kegagalan sistemik dan menyatakan Labuan Bajo dalam kondisi "darurat keselamatan laut".

Berikut adalah lima kasus kecelakaan kapal wisata signifikan lainnya di Labuan Bajo yang telah terjadi dalam dua tahun terakhir, selain tragedi KM Putri Sakinah:
Pada 5 April 2024, Kapal Wisata White Pearl tenggelam di sekitar Pulau Kanawa karena kebocoran di bagian buritan, meskipun tidak ada korban jiwa dari empat wisatawan asal Amerika Serikat di dalamnya.
Disusul pada 2 Mei 2024, Kapal Wisata Sea Safari terbakar di Perairan Pulau Penga, Labuan Bajo.
Pada tahun 2024, kapal wisata Monalisa Satu juga oleng dan tenggelam akibat cuaca buruk, meskipun tanpa korban jiwa.
Memasuki tahun 2025, pada Maret, kapal wisata Raja Bintang 02 tenggelam di perairan Labuan Bajo.
Terakhir, hanya berselang tiga hari dari insiden KM Putri Sakinah, yakni pada 29 Desember 2025, kapal wisata KM Dewi Anjani juga tenggelam di perairan Labuan Bajo.

Meskipun Kepala KSOP Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, sempat mengklaim rasio kecelakaan pelayaran di Labuan Bajo menurun dari 0,048 persen pada 2021 menjadi 0,036 persen pada 2023, frekuensi insiden dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data lain menunjukkan total 57 insiden kecelakaan pelayaran di seluruh Indonesia dari 2020–2024, dengan peningkatan 37,6% pada 2024 dibanding 2023, mencatat 128 kecelakaan secara keseluruhan. Namun, fokus di Labuan Bajo sendiri menunjukkan tujuh kecelakaan kapal wisata dari Januari hingga Juli 2024.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menegaskan bahwa insiden seperti ini bukan sekadar kecelakaan tunggal, melainkan cerminan dari lemahnya pengawasan dan rendahnya kepatuhan terhadap standar keselamatan dalam sektor wisata bahari. Ia mendesak Kementerian Pariwisata untuk tidak hanya berfokus pada target kunjungan, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operator wisata bahari, termasuk kewajiban briefing keselamatan dan pembatasan kapasitas penumpang. Ogy Sugianto, Ketua Bidang Investasi dan Pariwisata PP Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), menyatakan kecelakaan ini merupakan akumulasi dari kebijakan pembangunan pariwisata yang lebih mengejar citra dan angka kunjungan dibandingkan aspek keselamatan manusia. Tanpa sanksi tegas terhadap pihak yang lalai, tragedi serupa berpotensi terus berulang, menjadikan keselamatan wisatawan sebagai korban ambisi pembangunan pariwisata yang tidak berorientasi pada aspek kemanusiaan.

Pemerintah Indonesia telah merespons dengan mengeluarkan larangan sementara bagi kapal wisata untuk berlayar di perairan Labuan Bajo selama periode cuaca ekstrem, berlaku mulai 26 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, yang bisa diperpanjang sesuai kondisi lapangan. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati, menekankan bahwa keselamatan wisatawan adalah prioritas utama dan mengimbau semua pelaku usaha serta wisatawan untuk mematuhi arahan otoritas. Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) juga telah mengirim tim khusus ke Labuan Bajo untuk mengevaluasi tiga aspek krusial: pencegahan melalui pengawasan dan regulasi ketat, deteksi dini yang cepat, dan respons cepat dalam operasi SAR. Dr. Yade Setiawan Ujung dari Kemenko Polhukam mengkritik sikap permisif terhadap peringatan cuaca dari BMKG yang kerap mengutamakan keuntungan bisnis di atas nyawa manusia.

Diperlukan langkah-langkah konkret dan terpadu untuk memperbaiki tata kelola keselamatan maritim di Labuan Bajo. Ini mencakup penguatan regulasi, peningkatan kompetensi awak kapal, penerapan sistem komunikasi cuaca dan gelombang secara near real-time, pemantauan dan pelacakan kapal yang beroperasi, serta integrasi penuh dengan sistem peringatan dini nasional. Tanpa perbaikan sistem dan keamanan wisata yang komprehensif, reputasi Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata kelas dunia akan terus terancam, mengikis kepercayaan global dan menghambat potensi penuh pariwisata bahari Indonesia.