:strip_icc()/kly-media-production/medias/1827913/original/052253700_1515657524-Niagara_2.jpg)
Kunjungan turis asing ke Amerika Serikat diproyeksikan mengalami penurunan signifikan pada tahun 2025, dengan beberapa lembaga riset memproyeksikan penurunan antara 6 hingga lebih dari 9 persen, sebuah tren yang dinilai para ahli industri sebagai dampak langsung dari kebijakan anti-imigrasi dan retorika "America First" yang meningkat. Penurunan ini mengancam akan menghilangkan miliaran dolar dari perekonomian AS dan membahayakan ratusan ribu lapangan kerja.
Asosiasi Perjalanan AS (U.S. Travel Association) memperkirakan kunjungan internasional akan turun dari 72,4 juta pada tahun 2024 menjadi 67,9 juta pada tahun 2025, menandai penurunan sekitar 6,2 persen dan merupakan penurunan pertama sejak tahun 2020. Sementara itu, Tourism Economics, sebuah divisi dari Oxford Economics, merevisi perkiraan mereka secara drastis, memproyeksikan penurunan 9,4 persen dalam kedatangan pengunjung internasional pada tahun 2025, dengan penurunan kunjungan dari Kanada sebesar 20,2 persen. Penurunan ini kontras dengan prediksi awal mereka yang memperkirakan pertumbuhan 8,8 persen.
Perekonomian AS diperkirakan akan kehilangan hingga 29 miliar dolar AS dalam pengeluaran pengunjung internasional tahun ini, dengan World Travel & Tourism Council (WTTC) memproyeksikan kerugian 12,5 miliar dolar AS. Angka ini menjadikan Amerika Serikat satu-satunya negara di antara 184 ekonomi yang dianalisis oleh WTTC dan Oxford Economics yang diperkirakan mengalami penurunan pengeluaran pengunjung internasional pada tahun 2025, sementara negara-negara seperti Prancis, Jepang, dan Kanada mencatat pertumbuhan dua digit dalam kedatangan turis.
Julia Simpson, Presiden dan CEO WTTC, menyatakan bahwa ini adalah "peringatan bagi pemerintah AS." Menurutnya, sektor perjalanan dan pariwisata terbesar di dunia ini "bergerak ke arah yang salah, bukan karena kurangnya permintaan, tetapi karena kegagalan untuk bertindak." Sentiment negatif yang diperburuk oleh kebijakan visa yang lebih ketat, peningkatan pengawasan perbatasan, dan retorika anti-imigrasi telah menciptakan persepsi di kalangan pelancong asing bahwa mereka tidak disambut baik.
Laporan-laporan menunjukkan bahwa kebijakan dan pernyataan dari pemerintahan telah berkontribusi pada gelombang sentimen negatif yang berkembang terhadap AS di kalangan calon pelancong internasional. Langkah-langkah keamanan perbatasan yang diperketat dan tindakan penegakan imigrasi yang terlihat jelas memperkuat kekhawatiran ini. Ann Savage, seorang rekanan Ekstensi Pariwisata di North Carolina State University, mencatat bahwa industri pariwisata sangat bergantung pada persepsi yang dimiliki calon pelancong tentang suatu tempat, dan berita tentang peristiwa politik dapat menciptakan persepsi negatif yang memengaruhi keputusan wisatawan.
Beberapa negara Eropa juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan mengenai kunjungan ke Amerika Serikat, menyusul laporan mengenai wisatawan yang ditahan di perbatasan AS atau ditolak masuk. Perpanjangan waktu tunggu wawancara visa yang berlebihan juga menjadi hambatan. Di India, misalnya, waktu tunggu untuk visa turis dan bisnis (B1/B2) dapat mencapai hingga 13 bulan di beberapa konsulat.
Penurunan pengunjung internasional memiliki implikasi ekonomi yang luas. Setiap penurunan 1 persen dalam pengeluaran pengunjung internasional dapat mengakibatkan kerugian 1,8 miliar dolar AS dalam pendapatan ekspor setiap tahun. Jika penurunan ini berlanjut hingga tahun 2025, AS berisiko kehilangan 21 miliar dolar AS dalam pendapatan ekspor terkait perjalanan. Secara lebih luas, penurunan ini dapat mengurangi PDB AS sebesar 23,17 miliar dolar AS dan menghilangkan 230.645 pekerjaan, serta memangkas pendapatan tenaga kerja sebesar 13,25 miliar dolar AS. Sektor perhotelan, ritel, dan perjalanan udara, serta pendapatan pemerintah dari pajak penjualan, akan merasakan dampak kerugian ini.
Sebelum pandemi, Amerika Serikat menyambut 79,4 juta pengunjung internasional pada tahun 2019. Meskipun telah terjadi pemulihan pascapandemi dengan 66,5 juta kunjungan internasional pada tahun 2023 yang mencerminkan pertumbuhan tahunan 31 persen, angka tersebut masih 84 persen dari tingkat kunjungan sebelum pandemi. Proyeksi pemulihan penuh hingga melewati tingkat 2019 kini terancam mundur ke tahun 2029. Padahal, sebelumnya diperkirakan akan mencapai 85 juta pada tahun 2026.
Organisasi seperti Brand USA, yang bertugas memasarkan Amerika Serikat sebagai tujuan wisata, berkomitmen untuk mengkomunikasikan kebijakan visa dan masuk serta mengoreksi kesalahpahaman. Namun, dengan adanya kebijakan yang dinilai kontroversial, upaya ini menjadi semakin menantang. Peningkatan pendanaan untuk Brand USA telah diserukan oleh Asosiasi Perjalanan AS melalui rancangan undang-undang VISIT USA Act, untuk memastikan Amerika dapat bersaing di panggung global menjelang acara-acara besar seperti Piala Dunia FIFA 2026 dan Olimpiade Musim Panas 2028. Tanpa tindakan tegas untuk memulihkan kepercayaan pelancong internasional, dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi AS untuk kembali ke tingkat pengeluaran pengunjung internasional pra-pandemi.