Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ngurah Rai: Angka Penumpang Internasional Melesat Tajam

2026-01-15 | 04:37 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T21:37:50Z
Ruang Iklan

Ngurah Rai: Angka Penumpang Internasional Melesat Tajam

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, mencatat lonjakan signifikan pada jumlah penumpang internasional sepanjang tahun 2024, mengindikasikan percepatan pemulihan sektor pariwisata pascapandemi yang melampaui ekspektasi. Total 14,1 juta penumpang rute internasional terlayani pada tahun tersebut, naik 22 persen dibandingkan 11,5 juta pada tahun 2023, menegaskan dominasi segmen internasional dalam lalu lintas udara Pulau Dewata. Capaian ini berkontribusi pada total 23,9 juta penumpang yang dilayani bandara, melebihi target 23,6 juta, dan merupakan peningkatan 12 persen dari tahun sebelumnya.

Pemulihan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang gencar serta tingginya permintaan global terhadap Bali sebagai destinasi wisata utama. Pada tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat kunjungan wisatawan mancanegara langsung ke Bali mencapai 6.333.360 orang, meningkat 20,1 persen dari 2023 dan bahkan melampaui angka sebelum pandemi COVID-19. Pelaksana Tugas Kepala BPS Bali, Kadek Agus Wirawan, menyatakan bahwa catatan ini sangat menggembirakan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, sebelumnya menargetkan 7 juta wisatawan asing ke Bali pada tahun 2024, sebuah target yang diyakini dapat tercapai oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, mengingat performa kuat tahun 2023.

Tren positif berlanjut memasuki tahun 2025. Hingga November 2025, Bandara Ngurah Rai melayani 22,1 juta penumpang, dengan dominasi penumpang internasional. Bahkan, Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, melaporkan bahwa kunjungan wisatawan asing ke Bali sepanjang 2025 telah melampaui target 6,5 juta, mencapai 7,05 juta kunjungan, meningkat 11 persen dari 2024. Peningkatan ini sebagian besar ditopang oleh pembukaan 13 rute internasional baru sepanjang 2025, termasuk destinasi perdana seperti Newcastle (Australia), Cheongju (Korea Selatan), Saigon (Vietnam), dan Sichuan (China), yang memperkuat konektivitas global Bali. Bulan Juli 2025 menjadi periode tersibuk, melayani 2,36 juta penumpang, dengan 1,46 juta di antaranya merupakan penumpang internasional. General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, menjelaskan bahwa puncak terjadi pada periode libur musim panas di Eropa dan Amerika, serta libur sekolah domestik. Negara-negara seperti Australia, India, dan Tiongkok secara konsisten menjadi kontributor utama kedatangan wisatawan.

Namun, lonjakan wisatawan internasional ini tidak datang tanpa tantangan dan implikasi yang kompleks. Fenomena "overtourism" menjadi perhatian serius. Meskipun jumlah wisatawan terus meningkat, data BPS Bali menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada November 2025 justru turun 1,64 persen menjadi 57,97 persen dibandingkan November 2024. TPK hotel non-bintang bahkan mengalami penurunan lebih tajam sebesar 3,97 persen menjadi 39,46 persen. Situasi ini memunculkan paradoks antara peningkatan jumlah kunjungan dan penurunan okupansi, yang mungkin mengindikasikan kelebihan pasokan kamar atau perubahan preferensi wisatawan.

Di sisi lain, pariwisata domestik menunjukkan koreksi. Kunjungan wisatawan nusantara tercatat mengalami penurunan sekitar 3-5 persen pada tahun 2025, menyebabkan persepsi Bali terlihat lebih lengang di beberapa area dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan industri perhotelan dan restoran. I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya dari PHRI Bali menduga penurunan ini sebagian disebabkan oleh pemberitaan mengenai cuaca ekstrem dan potensi bencana alam.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus berupaya menjaga kualitas dan keberlanjutan pariwisata. Sandiaga Uno menekankan pentingnya menambah jumlah penerbangan dan menghadirkan paket-paket wisata unik yang mendistribusikan wisatawan secara lebih merata ke berbagai daerah di Bali, tidak hanya menumpuk di Bali Selatan, guna menghindari overtourism dan memastikan dampak ekonomi dirasakan masyarakat lokal secara luas. Upaya-upaya ini diharapkan juga dapat mengakselerasi pencapaian target penciptaan lapangan kerja di sektor parekraf. Namun, tantangan global seperti konflik di Ukraina-Rusia dan invasi Israel ke Gaza tetap menjadi faktor ketidakstabilan yang harus diperhitungkan dalam proyeksi pariwisata. Optimalisasi konektivitas, pengelolaan kapasitas destinasi, serta adaptasi terhadap perubahan perilaku wisatawan akan menjadi kunci bagi Bali untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pariwisata internasionalnya di masa depan.