
Seorang turis nyaris kehilangan penerbangan internasionalnya dari Bandara Changi Singapura pada Desember 2025 setelah paspornya secara tidak sengaja masuk ke sistem konveyor bagasi saat proses check-in. Insiden yang direkam dan menjadi viral di media sosial ini menyoroti kerentanan interaksi manusia dengan sistem otomatis di lingkungan bandara yang serba cepat dan menekankan pentingnya kewaspadaan penumpang serta responsivitas staf bandara.
Kasus ini bermula ketika seorang penumpang dengan nama pengguna TikTok Walkerkensg, secara tidak sengaja meletakkan paspornya di atas koper saat memasang label bagasi, lalu tanpa sadar membiarkannya ikut meluncur ke dalam konveyor. Setelah menyadari kehilangan dokumen pentingnya, ia segera meminta bantuan staf bandara yang kemudian berhasil menemukan paspornya tepat waktu sebelum keberangkatannya menuju Shenyang, Tiongkok. Kejadian serupa, meskipun tidak selalu tercatat secara viral, bukan hal baru dalam operasional bandara global yang padat. Setiap tahun, lebih dari dua juta barang hilang di bandara-bandara seluruh dunia, dengan ponsel, paspor, dan laptop menjadi item yang paling sering tertinggal. Sekitar 70% dari barang-barang yang hilang ini pada akhirnya berhasil dikembalikan kepada pemiliknya. Namun, sekitar 33% barang yang hilang tidak pernah ditemukan.
Insiden di Changi ini menyoroti kompleksitas operasional bandara modern di mana efisiensi dan keamanan harus berjalan seiring dengan faktor manusia yang tidak dapat diprediksi. Sistem penanganan bagasi, yang dirancang untuk kecepatan dan volume tinggi, dapat menjadi labirin yang menakutkan ketika dokumen penting terlepas dari pengawasan penumpang. Proses check-in mandiri dan otomatisasi yang semakin meningkat, meskipun mempercepat alur penumpang, juga dapat menciptakan celah bagi kesalahan manusia jika penumpang kurang berhati-hati. Sebuah studi dari International Air Transport Association (IATA) mengindikasikan bahwa hingga 40% penundaan penerbangan disebabkan oleh waktu yang dihabiskan penumpang di pos pemeriksaan keamanan, menunjukkan bahwa setiap gangguan kecil dapat memicu efek domino yang signifikan terhadap jadwal perjalanan. Selain itu, penanganan bagasi yang salah, termasuk kehilangan atau salah rute, merugikan industri penerbangan global sekitar $2,1 miliar setiap tahun.
Pakar keamanan penerbangan menyoroti keseimbangan antara keamanan ketat dan efisiensi perjalanan. Sunil Mudholkar, Wakil Presiden Produk di Hexagon Safety, Infrastructure & Geospatial, menyatakan bahwa meskipun teknologi keamanan modern semakin canggih, elemen manusia tetap menjadi krusial. "Masih harus ada tingkat penilaian risiko. Para pemimpin teknologi akan membuat penilaian itu di mana pun Anda berada," ujarnya, menekankan bahwa perencanaan risiko harus mendekati nol. Kewaspadaan penumpang adalah lapisan pertahanan pertama. Otoritas seperti Transportation Security Administration (TSA) di Amerika Serikat mengestimasi antara 90.000 hingga 100.000 barang tertinggal di pos pemeriksaan setiap bulan. Paspor atau identitas yang ditemukan di pos pemeriksaan keamanan akan disimpan setidaknya selama 30 hari sebelum dihancurkan jika tidak diklaim.
Kasus seperti yang terjadi di Changi menggarisbawahi perlunya peningkatan kesadaran penumpang akan tanggung jawab pribadi mereka di tengah hiruk pikuk bandara. Meskipun bandara terus berinvestasi dalam teknologi dan pelatihan staf untuk memastikan kelancaran operasional, insiden-insiden yang dipicu oleh kelalaian kecil penumpang dapat menyebabkan stres yang tidak perlu, penundaan, atau bahkan kegagalan penerbangan. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penumpang global yang diperkirakan akan berlipat ganda dalam 20 tahun ke depan, tantangan untuk menyeimbangkan efisiensi, keamanan, dan pengalaman penumpang akan semakin meningkat. Ini menuntut tidak hanya sistem yang lebih cerdas dan staf yang lebih terlatih, tetapi juga penumpang yang lebih disiplin dalam mengelola dokumen perjalanan penting mereka.