
Pemerintah Denmark, melalui serangkaian strategi pariwisata nasional dan kota yang diluncurkan sejak 2022 dan diperkuat pada 2024, secara tegas telah mengumumkan visi jangka panjang yang transformatif, menandai "surat terakhir" bagi model pariwisata massal konvensional. Pendekatan baru ini memprioritaskan keberlanjutan ekstrem, pengalaman yang diperkaya, dan distribusi pengunjung yang merata di seluruh negeri, dengan tujuan membentuk industri pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial hingga 2030 dan seterusnya.
Strategi Nasional untuk Pertumbuhan Berkelanjutan dalam Pariwisata Denmark, yang menjadi kerangka panduan hingga 2030, menetapkan arah kolektif bagi organisasi pariwisata nasional dan pemangku kepentingan terkait. Fokusnya mencakup peluang dan tantangan dalam pariwisata berkelanjutan, tren digitalisasi, persaingan internasional, serta pemulihan yang tangguh dari pandemi COVID-19. Sejalan dengan itu, Wonderful Copenhagen, dewan pariwisata ibu kota, meluncurkan strategi ambisius "All Inclusive" pada Oktober 2024. Strategi ini menekankan pendekatan aktif dan sadar terhadap pariwisata, dengan tujuan mencapai netralitas karbon pada sektor pariwisata kota paling lambat 2050, didahului dengan pengurangan emisi yang signifikan pada 2030 dan 2035. Target pengurangan emisi ini secara komprehensif mencakup faktor-faktor penting seperti perjalanan udara, yang sering kali dikecualikan dari perhitungan serupa di destinasi lain.
Mikkel Aarø-Hansen, CEO Wonderful Copenhagen, menyatakan urgensi langkah-langkah konkret dan ambisius untuk mengurangi jejak iklim pariwisata. Ia juga menegaskan bahwa pariwisata global memerlukan upaya internasional untuk bertransformasi menjadi kekuatan pendorong kebaikan. Dengan proyeksi kedatangan internasional mencapai 1,8 miliar pada 2030, industri pariwisata saat ini menyumbang hampir 8% dari emisi CO2 global, menjadikan perubahan ini sangat krusial.
Di tingkat nasional, pemerintah Denmark menargetkan peningkatan pendapatan pariwisata menjadi DKK 200 miliar pada 2030, naik dari DKK 164 miliar pada 2024. Selain pertumbuhan ekonomi, strategi ini bertujuan untuk mencapai 70% dari total kunjungan menginap terjadi di luar musim puncak Juli dan Agustus pada 2030, serta mendistribusikan wisatawan secara geografis ke seluruh negeri guna menghindari masalah over-tourism yang dialami banyak kota di Eropa selatan. Menteri Kota dan Daerah Pedesaan, Morten Dahlin, secara eksplisit menyatakan bahwa "tidak seorang pun di Denmark menginginkan pariwisata massal. Kami menginginkan pariwisata yang seimbang dan berkelanjutan."
Untuk mempromosikan praktik berkelanjutan secara langsung, Kopenhagen menjalankan program percontohan CopenPay pada Juli-Agustus 2024. Inisiatif ini memberikan insentif kepada pengunjung dan penduduk lokal berupa diskon, makan siang gratis, atau penyewaan sepeda gratis sebagai imbalan atas partisipasi dalam kegiatan ramah lingkungan seperti bersepeda, menggunakan transportasi umum, atau mengumpulkan sampah. Mikkel Aarø-Hansen menggarisbawahi bahwa CopenPay telah menunjukkan adanya motivasi nyata di kalangan wisatawan dan atraksi untuk membuat pilihan hijau.
Analisis konteks menunjukkan bahwa Denmark tidak hanya merespons krisis iklim global tetapi juga mengantisipasi pergeseran pola perjalanan di masa depan, di mana suhu yang meningkat di Eropa selatan dapat mengarahkan lebih banyak wisatawan ke negara-negara Nordik yang lebih sejuk. Denmark telah memposisikan diri sebagai pemimpin dalam keberlanjutan pariwisata, menjadi negara pertama di dunia yang menyelesaikan inventarisasi komprehensif semua emisi terkait pariwisata di tingkat destinasi, sesuai dengan pedoman Organisasi Pariwisata PBB.
Implikasi jangka panjang dari "surat terakhir" ini adalah redefinisi pengalaman perjalanan di Denmark. Pariwisata tidak lagi sekadar konsumsi pasif, melainkan keterlibatan aktif dan sadar yang menciptakan nilai abadi bagi pengunjung dan masyarakat lokal. Ambisi Denmark untuk menjadi destinasi paling berkelanjutan di dunia, dengan tujuan untuk menginspirasi negara lain, mencerminkan pergeseran paradigma yang mendalam. Namun, tantangan akan tetap ada dalam menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan pariwisata yang diantisipasi, didukung oleh jaringan penerbangan baru dan reformasi pajak pada 2026 yang akan meningkatkan aksesibilitas, dengan tujuan pengurangan jejak karbon yang ketat. Denmark secara efektif mengirimkan pesan yang jelas: masa depan pariwisata haruslah berkelanjutan, atau tidak sama sekali.