:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462633/original/057022300_1767585175-heloise-appourchaux-Fc-nP7lw1qc-unsplash.jpg)
Kota kecil Biei di Hokkaido, Jepang, masih bergulat dengan masalah pariwisata berlebih (overtourism) meskipun otoritas lokal telah mengambil langkah drastis dengan menebang deretan pohon birch putih yang populer sebagai objek fotografi pada Januari 2025. Alih-alih mereda, kunjungan wisatawan terus membanjiri daerah tersebut, terutama ke titik-titik ikonik lainnya, menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan memicu frustrasi di kalangan penduduk.
Biei, sebuah kota di Prefektur Kamikawa yang berpenduduk sekitar 9.000 jiwa, telah lama terkenal karena pemandangan bukit-bukitnya yang menawan dan lahan pertanian berpetak-petak yang menjadi latar iklan serta program televisi Jepang. Popularitas ini meledak di era media sosial, mengubah lanskap pedesaan menjadi destinasi yang wajib dikunjungi bagi para fotografer dan wisatawan. Namun, lonjakan pengunjung telah membebani infrastruktur lokal dan mengancam mata pencarian petani. Pada tahun fiskal 2024, Biei mencatat sekitar 2,68 juta wisatawan, sebuah angka yang jauh melampaui kapasitas penduduknya dan menandai peningkatan signifikan jumlah pengunjung asing dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelum penebangan pohon birch putih, Biei telah mengalami kasus serupa. Pada tahun 2016, "Pohon Filsuf" yang ikonik, sebuah pohon tunggal yang miring seolah sedang berpikir, ditebang oleh pemilik lahan karena perilaku buruk wisatawan, termasuk masuk tanpa izin ke ladang, merusak tanaman, dan bahkan vandalisme grafiti di batangnya. Pohon itu juga menimbulkan kekhawatiran keselamatan karena dahannya yang mulai rapuh. Namun, insiden tersebut tidak cukup mengurangi daya tarik Biei secara keseluruhan.
Penebangan deretan pohon birch putih pada awal tahun 2025 merupakan upaya kolaboratif antara pemerintah kota dan Asosiasi Pariwisata Biei untuk mengurangi tekanan lingkungan dan infrastruktur yang disebabkan oleh pariwisata massal. Keputusan ini diambil setelah bertahun-tahun terjadi masalah terkait pariwisata di sekitar pohon-pohon ikonik, seperti kendaraan yang memadati jalan sempit dan wisatawan menginjak-injak lahan pertanian pribadi untuk mendapatkan foto sempurna. Para petani juga mengeluh bahwa bayangan pohon-pohon tersebut menghalangi sinar matahari ke tanaman mereka, mengurangi hasil panen.
Meskipun penebangan pohon birch awalnya sedikit mengurangi keramaian di area tersebut, dampaknya tidak bertahan lama terhadap jumlah pengunjung secara keseluruhan. Wisatawan terus berbondong-bondong ke daya tarik lain di Biei, seperti Pohon Seven Stars, yang terkenal muncul di kemasan merek rokok, dan Pohon Natal. Pada 6 Desember 2025, daerah sekitar Pohon Natal masih ramai dengan penjaga keamanan yang menggunakan peluit untuk mengendalikan lalu lintas, sementara banyak wisatawan berjalan kaki dari stasiun terdekat, seringkali menginjak-injak lahan pertanian di sepanjang jalan. Situasi ini digambarkan oleh penduduk setempat sebagai "permainan kucing-kucingan" yang tiada akhir.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, Asosiasi Pariwisata Biei meluncurkan operasi percontohan bus antar-jemput antara area Pohon Natal dan Stasiun JR Biei pada bulan lalu, serta meningkatkan jumlah penjaga keamanan pada musim dingin ini. Pemerintah kota juga telah meminta kerja sama kepolisian prefektur untuk memberlakukan larangan parkir terbatas waktu di jalan-jalan sekitar Pohon Seven Stars. Rencana renovasi area parkir dan pembangunan toilet umum lebih banyak di tempat-tempat seperti Kolam Biru Shirogane Biei sedang dipertimbangkan. Selain itu, kota ini berencana memperkenalkan "pajak masuk" atau "pajak turis" untuk pengunjung yang tinggal di luar kota, dengan tujuan berbagi beban pemeliharaan infrastruktur pariwisata dan promosi, mengingat proyeksi penurunan pendapatan pajak kota akibat populasi yang menyusut.
Namun, langkah-langkah ini mungkin belum cukup untuk mengatasi akar masalah. Takeo Izumi, wakil sekretaris jenderal Asosiasi Pariwisata Biei, menyatakan, "Akan sulit untuk menyelesaikan ini secara fundamental tanpa membatasi jumlah bus dan mobil." Tantangan yang dihadapi Biei mencerminkan masalah overtourism yang lebih luas di Jepang, di mana 73% kunjungan menginap terkonsentrasi di hanya lima prefektur: Tokyo, Osaka, Kyoto, Hokkaido, dan Fukuoka. Perilaku wisatawan yang tidak bertanggung jawab, seperti memblokir jalan, membuang sampah sembarangan, dan mengganggu penduduk setempat, telah menjadi kekhawatiran nasional. Pemerintah Jepang telah mengalokasikan JPY 15,82 miliar dalam anggaran tambahan fiskal 2024 untuk "Langkah-langkah Darurat untuk Mencegah dan Mengurangi Overtourism dan Meningkatkan Lingkungan Penerimaan bagi Pengunjung Asing."
Fenomena pariwisata "pasca-atraksi" di Biei menunjukkan bahwa daya tarik sebuah lokasi dapat bertahan bahkan setelah objek utamanya dihilangkan, didorong oleh reputasi yang dibangun melalui media sosial dan keberadaan spot-spot fotogenik lainnya. Ini menyoroti kebutuhan akan strategi manajemen pariwisata yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada daya tarik tunggal tetapi juga pada pengelolaan perilaku pengunjung dan penyebaran wisatawan ke seluruh wilayah. Tanpa pembatasan yang lebih tegas dan pendidikan wisatawan yang efektif, kota-kota kecil seperti Biei akan terus menghadapi dilema antara keuntungan ekonomi dari pariwisata dan pelestarian lingkungan serta kualitas hidup penduduknya.