
PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah memperkenalkan layanan Suite Class Compartment sebagai kelas kereta api termahal di Indonesia, menawarkan pengalaman perjalanan privat dan eksklusif dengan harga tiket mencapai jutaan rupiah. Kelas premium ini resmi diluncurkan pada Oktober 2023, menyasar segmen pasar yang mencari kenyamanan setara kabin pesawat kelas bisnis dalam perjalanan darat.
Fasilitas yang disematkan dalam Suite Class Compartment dirancang untuk memberikan kemewahan maksimal. Setiap penumpang mendapatkan ruang kompartemen tersendiri yang kedap suara, dilengkapi kursi lebar yang dapat direbahkan hingga 140 derajat secara elektrik, serta dapat diputar 180 derajat. Penumpang juga dimanjakan dengan sandaran kaki elektrik, televisi pribadi, sumber daya pengisian USB, meja makan lipat, tombol panggilan pramugari, bantal, selimut, handuk hangat, dan akses Wi-Fi gratis. Desain interior gerbong didominasi warna cokelat keemasan dengan pencahayaan redup untuk menciptakan suasana tenang dan nyaman. Pintu kompartemen dapat digeser secara otomatis, menambah kesan eksklusif dan privasi. Ruang toilet juga dirancang lebih luas dan modern dibandingkan kelas eksekutif standar.
Kelas Suite Class Compartment ini dirangkaikan pada beberapa perjalanan kereta api, seperti KA Bima dan KA Argo Semeru yang melayani rute Gambir-Surabaya Gubeng pulang-pergi melalui lintas tengah Jawa. KA Bima beroperasi pada jadwal petang, sedangkan Argo Semeru pada jadwal pagi. Tarif tiket untuk kelas ini berkisar antara Rp 1,3 juta hingga Rp 2,45 juta untuk perjalanan penuh Gambir-Surabaya Gubeng, atau sekitar Rp 3.000 per kilometer. PT KAI juga memiliki kelas Luxury (Generasi 1, 2, dan 3) dan Panoramic yang menawarkan fasilitas premium dengan rentang harga berbeda. Kereta Luxury, yang sering disebut sleeper train, pertama kali diluncurkan pada 2018 dengan konfigurasi 18 kursi per gerbong yang dapat direbahkan hingga 170 derajat, dilengkapi layar LCD pribadi, USB charging, dan layanan makanan. Generasi Luxury kedua yang dirilis pada Mei 2019 meningkatkan kapasitas menjadi 26 penumpang per gerbong, dengan penambahan minibar dan pramugari khusus. Sementara itu, Kereta Panoramic, yang dikelola KAI Wisata, dilengkapi jendela dan atap kaca lebar untuk menikmati pemandangan, beroperasi pada rute seperti Papandayan Panoramic dan Argo Parahyangan Panoramic dengan harga antara Rp 650 ribu hingga Rp 1,3 jutaan.
Pengenalan layanan kereta mewah ini menandai transformasi signifikan dalam strategi PT KAI untuk memenuhi permintaan pasar perjalanan kelas atas. Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo pada 2023 menyatakan bahwa kereta mewah KAI selalu penuh, bahkan mendorong rencana penambahan 11 gerbong kereta luxury. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan pada Januari 2026 bahwa fenomena ini menunjukkan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap perjalanan kereta api, yang kini tidak hanya sebagai sarana mobilitas tetapi juga bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Ini mencerminkan upaya KAI untuk menjadi benchmark bagi sektor perkeretaapian di ASEAN dengan inovasi seperti Suite Class Compartment dan Panoramic, serta layanan terlengkap mulai dari kereta cepat hingga komuter.
Dari perspektif historis, hadirnya kereta mewah ini mengingatkan pada era KA Bima (Biru Malam) yang diresmikan pada 1967, yang juga menawarkan layanan premium pada masanya. Namun, inovasi saat ini jauh melampaui pendahulunya dengan teknologi dan desain yang modern. Perkembangan ini juga sejalan dengan peningkatan layanan KAI secara keseluruhan, termasuk penghapusan bertahap kereta ekonomi kursi tegak untuk rute jarak jauh pada 2025, yang berarti peningkatan standar perjalanan bagi masyarakat Indonesia. Strategi ini mendukung sektor pariwisata, memberikan opsi transportasi nyaman bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Jawa. Meskipun harga tiket kelas premium ini tergolong tinggi, animo masyarakat tetap positif, menunjukkan adanya segmen pasar yang bersedia membayar lebih untuk kenyamanan, privasi, dan pengalaman perjalanan yang unggul. Ini menegaskan posisi kereta api sebagai moda transportasi pilihan yang semakin kompetitif, bahkan di tengah dominasi transportasi udara untuk perjalanan jarak jauh.