
Pengunjung Kebun Binatang Medan menghadapi pemandangan yang semakin memprihatinkan pada awal 2026, dengan koleksi satwa yang menyusut drastis dan puluhan kandang kosong yang sebelumnya dihuni kini terbengkalai. Keluhan ini mencerminkan krisis berkelanjutan yang melanda salah satu kebun binatang tertua di Indonesia, yang juga ditandai dengan serangkaian kematian satwa langka sejak akhir 2023.
Sejumlah pengunjung, seperti Angelika dari Dairi, menyuarakan kekecewaan mereka setelah mengunjungi Medan Zoo pada Januari 2026, menggambarkan pengalamannya sebagai "zonk" karena banyak kandang yang "kosong melompong" dan koleksi hewan yang sangat sedikit. Ia berharap melihat beruang madu namun tidak menemukannya, dan mencatat rusa-rusa yang tampak kurus. Pengunjung lain, Imanuel, membandingkan kondisi terkini dengan pengalamannya di tahun 2012, menyatakan adanya perbedaan yang sangat jauh.
Pada 2015, Medan Zoo tercatat memiliki 57 jenis hewan dengan total 167 individu, termasuk empat harimau Sumatera dan empat harimau Benggala. Angka tersebut sempat meningkat menjadi 255 satwa pada April 2023, terdiri dari 163 aves, 60 mamalia, dan 32 reptil, yang menempati 76 kandang di lahan seluas 10 hektare dari total 30 hektare. Namun, pada Januari 2024, jumlah satwa telah anjlok menjadi sekitar 110 ekor. Situasi semakin memburuk, hingga pada Mei 2025, laporan menyebutkan hanya tersisa segelintir satwa, termasuk dua kuda, tiga rusa, seekor buaya, seekor harimau putih, seekor gajah, dua ekor burung merak, seekor ular, seekor orangutan, seekor simpanse, dan dua ekor landak.
Penurunan koleksi satwa ini tidak terlepas dari krisis finansial akut dan tata kelola yang buruk. Dalam kurun waktu November 2023 hingga September 2024, Medan Zoo mencatat kematian enam harimau. Tiga harimau Sumatera — Erha (November 2023), Nurhaliza (Desember 2023), dan Bintang Sorik (Februari 2024) — serta tiga harimau Benggala — Avatar (Desember 2023), Wesa (Januari 2024), dan Si Manis (September 2024) — dilaporkan mati karena berbagai sebab, termasuk pneumonia, penyakit ginjal, usia tua, dan kondisi kandang yang tidak layak serta lembab. Kematian satwa lain juga dilaporkan, seperti satu Owa Agile, dua kucing emas, satu orangutan Kalimantan, satu bangau Tong Tong, dan seekor kuda betina yang mati saat melahirkan tanpa diketahui pengelola pada periode yang sama.
Medan Zoo, yang berada di bawah pengelolaan Perusahaan Umum Daerah (PUD) Pembangunan Kota Medan, telah menghadapi masalah keuangan sejak pandemi COVID-19 yang menyebabkan anjloknya jumlah pengunjung. Kebun binatang ini mengandalkan pendapatan dari tiket masuk dan tidak menerima suntikan dana langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan, mengingat statusnya sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Akibatnya, utang pakan satwa menumpuk dan gaji karyawan sempat tertunggak hingga enam bulan pada awal 2024. Pada 2024, kerugian yang diderita Medan Zoo mencapai sekitar Rp2 miliar.
Kondisi kandang yang ditumbuhi rumput liar, fasilitas yang rusak, dan ketiadaan tenaga medis yang memadai menjadi sorotan tajam. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyatakan pengelolaan satwa di Medan Zoo tidak memenuhi standar lembaga konservasi, khususnya dalam hal kesejahteraan hewan (animal welfare), fasilitas kandang, dan tata kelola lingkungan.
Wali Kota Medan Bobby Nasution telah mengakui krisis ini dan menyampaikan rencana penutupan sementara Medan Zoo untuk direnovasi, dengan target dimulainya investasi oleh pihak ketiga pada Juni 2024. Renovasi tahap awal akan difokuskan pada lima hektare dari total 30 hektare lahan, termasuk pemindahan dan konservasi satwa. Bobby menekankan bahwa dana untuk revitalisasi akan datang dari investor swasta, bukan APBD, dan bahwa tugas utama PUD Pembangunan bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga konservasi hewan. Meskipun demikian, upaya untuk menarik investor, termasuk dengan RAN Entertainment yang dipimpin Raffi Ahmad pada 2022, belum terealisasi. Dirut PUD Pembangunan Kota Medan, Ardian Surbakti, pada Juni 2024 menyatakan fokus pada perbaikan manajemen terlebih dahulu karena investor tidak akan tertarik jika manajemen tidak baik.
Anggota Komisi III DPRD Kota Medan, Salomo Pardede, mendorong PUD Pembangunan untuk mencari pihak ketiga guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menutupi kerugian. Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Medan, HT Bahrumsyah, bahkan meminta Direksi PUD Pembangunan mundur karena dinilai tidak mampu mengatasi permasalahan Medan Zoo. Para aktivis satwa liar, seperti Doni Herdaru Tona dari Animal Defenders Indonesia, menyarankan bahwa perbaikan yang dibutuhkan Medan Zoo lebih pada tata kelola dan manajemen, bukan hanya pembangunan fisik. Jika kondisi tidak membaik dan membahayakan keselamatan satwa, evakuasi satwa mungkin perlu dilakukan.
Kondisi Medan Zoo saat ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan lembaga konservasi ini dan dampaknya terhadap upaya pelestarian satwa liar di Sumatera Utara. Tanpa perubahan fundamental dalam pendanaan dan manajemen, prospek kebun binatang yang pernah menjadi ikon Medan ini tetap suram, merugikan baik satwa maupun potensi pariwisata dan edukasi kota.