:strip_icc()/kly-media-production/medias/4919816/original/094794800_1723785499-IMG_2378.jpeg)
Manajemen Kuil Wat Arun di Bangkok memberlakukan aturan ketat baru, termasuk pelatihan etika wajib, bagi para fotografer lokal yang beroperasi di dalam kompleks kuil, menyusul serangkaian keluhan wisatawan mengenai perilaku agresif para fotografer yang mengganggu pengunjung lain untuk kepentingan klien berbayar mereka. Langkah ini diambil setelah insiden yang menjadi viral pada awal Januari 2026, memicu perhatian dari Polisi Pariwisata Thailand dan mendorong peninjauan ulang praktik komersial di salah satu situs religius paling ikonik di negara itu.
Pihak Kuil Wat Arun Ratchawararam secara resmi menyampaikan permintaan maaf atas "ketidaknyamanan atau ketidaknyamanan" yang dialami pengunjung, dan menyatakan bahwa insiden tersebut mendorong peninjauan kembali atas pengelolaan dan pemeliharaan tempat tersebut. Perubahan kebijakan ini secara langsung merespons laporan bahwa fotografer, banyak di antaranya berafiliasi dengan penyewaan kostum tradisional Thailand di sekitar kuil, secara terang-terangan mengusir pengunjung lain atau berteriak agar mereka minggir saat mengambil gambar klien. Krisda Witthayakhajorndet, pendiri perusahaan hiburan Be On Cloud, membagikan pengalamannya di X (sebelumnya Twitter) pada 2 Januari 2026, menggambarkan bagaimana seorang fotografer berulang kali mendorong turis keluar dari bingkai foto. Unggahan ini memicu gelombang komentar dari warganet yang memiliki pengalaman serupa, mendorong intervensi dari Polisi Pariwisata Thailand yang kemudian meningkatkan patroli dan mengeluarkan peringatan.
Di bawah peraturan baru, fotografer yang menyediakan layanan di Wat Arun kini diwajibkan menjalani pelatihan mengenai "tata krama" atau "etika dan perilaku" yang selaras dengan regulasi kuil, sebelum diizinkan beroperasi di area kuil. Kuil tersebut juga telah berkoordinasi dengan Polisi Metropolitan Bangkok Yai, Kantor Distrik Bangkok Yai, dan Polisi Pariwisata untuk memastikan keselarasan dalam kebijakan manajemen di antara fotografer, operator bisnis, dan personel kuil. Tujuan dari pendekatan terkoordinasi ini adalah menjaga ketertiban, mendukung pariwisata Thailand, dan memastikan penghormatan terhadap praktik keagamaan serta kesopanan publik.
Popularitas penggunaan kostum tradisional Thailand untuk sesi foto telah mengubah Wat Arun menjadi latar belakang yang sangat dicari, menarik sekitar 10.000 pengunjung setiap hari. Namun, lonjakan pengunjung dan layanan fotografi komersial telah menimbulkan tantangan dalam menyeimbangkan penggunaan religius situs dengan daya tarik pariwisatanya. Kasus di Wat Arun menyoroti ketegangan yang muncul ketika aktivitas komersial melampaui batas-batas kesopanan di situs sakral. Etika fotografi di tempat ibadah Buddha, seperti tidak memunggungi patung Buddha atau tidak mengganggu prosesi doa, telah lama menjadi pedoman penting bagi pengunjung. Insiden baru-baru ini memperjelas kebutuhan akan panduan yang lebih ketat bagi mereka yang mencari nafkah dari pariwisata di lokasi tersebut.
Dampak dari tindakan ini diperkirakan akan meluas. Industri pariwisata menyumbang sekitar 15 persen dari PDB Thailand dan menopang jutaan pekerjaan. Mempertahankan reputasi Thailand sebagai tujuan yang ramah dan menghormati budayanya sangat penting. Bagi para fotografer lokal, peraturan baru ini bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga tentang peningkatan profesionalisme. Penelitian sebelumnya di Bali menunjukkan bahwa meskipun fotografi pariwisata menciptakan lapangan kerja, para fotografer membutuhkan pelatihan dan panduan berkelanjutan untuk memenuhi standar pariwisata, termasuk keterampilan perhotelan dan sikap yang baik. Upaya Wat Arun mencerminkan komitmen yang lebih luas untuk menegakkan integritas budaya dan rasa hormat di dalam ruang kuil di tengah meningkatnya aktivitas komersial. Ini juga merupakan sinyal bagi situs-situs keagamaan dan budaya lainnya di Thailand untuk mengevaluasi kembali bagaimana mereka mengelola interaksi antara pariwisata, komersialisme, dan kesucian.