Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Koster: Bali Diserbu Wisman, Turis Lokal Justru Loyo

2026-01-02 | 11:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T04:19:33Z
Ruang Iklan

Koster: Bali Diserbu Wisman, Turis Lokal Justru Loyo

Mantan Gubernur Bali, Wayan Koster, membantah persepsi bahwa pulau Dewata sepi wisatawan, menegaskan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terus meningkat signifikan pasca-pandemi, sementara penurunan justru terjadi pada segmen wisatawan domestik. Pernyataan tersebut, yang dilontarkan pada Agustus 2023 di tengah perayaan Hari Kemerdekaan RI, menyoroti pergeseran dinamika pasar pariwisata Bali yang kembali bertumpu pada pasar internasional setelah sempat didominasi oleh wisatawan domestik selama pembatasan perjalanan global. Koster mengungkapkan bahwa per Juli 2023, jumlah kedatangan wisman ke Bali telah mencapai rata-rata 15.000 hingga 16.000 orang per hari, bahkan mencapai 18.000 orang pada akhir pekan. Angka ini menandai pemulihan kuat sektor pariwisata Bali, mendekati level pra-pandemi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mengkonfirmasi tren kenaikan kunjungan wisman. Sepanjang Januari hingga November 2023, jumlah wisman yang datang ke Bali mencapai 4,79 juta orang, meningkat 148,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Mayoritas kedatangan melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, yang pada November 2023 saja mencatat 449.208 kunjungan wisman. Pasar terbesar datang dari Australia, India, dan Tiongkok, yang secara historis memang menjadi penyumbang utama pariwisata Bali. Pemulihan ini didorong oleh pencabutan seluruh pembatasan perjalanan internasional, pembukaan kembali rute penerbangan, serta upaya promosi yang gencar oleh pemerintah dan pelaku industri.

Kontras dengan lonjakan wisman, kunjungan wisatawan domestik ke Bali menunjukkan penurunan. Meskipun Koster tidak merinci angka penurunan spesifik pada pernyataannya di Agustus 2023, tren umum menunjukkan bahwa setelah berakhirnya pembatasan perjalanan domestik, minat wisatawan Indonesia untuk berlibur ke luar negeri kembali meningkat, berdampak pada distribusi destinasi pilihan di dalam negeri, termasuk Bali. Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Silmy Karim, bahkan menyebutkan adanya penurunan signifikan kunjungan turis domestik ke Bali pada tahun 2024, mengindikasikan bahwa daya tarik Bali bagi pasar domestik mungkin telah berkurang dibandingkan era pandemi ketika Bali menjadi salah satu pilihan utama akibat pembatasan luar negeri. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran terkait keseimbangan pasar dan potensi ketergantungan Bali pada pasar internasional yang rentan terhadap gejolak ekonomi global atau isu geopolitik.

Pola pergeseran ini memiliki implikasi jangka panjang bagi ekosistem pariwisata Bali. Selama pandemi COVID-19, ketika pintu masuk internasional tertutup, sektor pariwisata Bali sangat bergantung pada wisatawan domestik, yang membantu menjaga roda ekonomi lokal tetap berputar meskipun dengan tingkat pengeluaran yang lebih rendah dibandingkan wisman. Kembalinya dominasi wisman, khususnya dari segmen wisatawan dengan pengeluaran tinggi, berpotensi meningkatkan pendapatan devisa dan occupancy rate hotel serta vila mewah. Namun, hal ini juga dapat memperlebar jurang ekonomi antara pelaku usaha yang melayani pasar internasional dan mereka yang sebelumnya berfokus pada domestik. Selain itu, lonjakan wisman juga kembali memunculkan tantangan klasik Bali seperti masalah sampah, kemacetan, dan tekanan terhadap infrastruktur, yang sempat mereda selama pandemi.

Pemerintah Provinsi Bali, di bawah kepemimpinan Pj Gubernur Sang Made Mahendra Jaya yang menggantikan Koster pada September 2023, terus menghadapi kompleksitas pengelolaan pariwisata. Kebijakan seperti pungutan retribusi wisatawan asing sebesar Rp 150.000, yang mulai berlaku 14 Februari 2024, bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Bali, sekaligus mengelola dampak dari lonjakan kunjungan. Namun, efektivitas dan penerimaan kebijakan ini, terutama di mata pasar domestik yang mungkin merasa terpinggirkan, masih akan terus dievaluasi. Keseimbangan antara menarik wisman berkualitas dan mempertahankan daya tarik bagi wisatawan domestik, sambil memastikan keberlanjutan lingkungan dan sosial budaya, tetap menjadi agenda krusial bagi masa depan pariwisata Bali.