
PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah memaparkan rencana transformasi menyeluruh sistem perkeretaapian nasional yang berbasis kecerdasan buatan (AI) pada Kamis, 15 Januari 2026, mencakup otomatisasi operasional, peningkatan keselamatan, dan modernisasi layanan untuk memenuhi tuntutan mobilitas modern. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, dalam sebuah presentasi, menyoroti urgensi perubahan ini guna membangun fondasi transportasi publik yang lebih modern dan berkelanjutan, bukan sekadar investasi mahal. Transformasi ini bertujuan mengatasi tantangan operasional dan meningkatkan pengalaman pelanggan di tengah pertumbuhan jumlah penumpang yang signifikan, dengan KAI Group melayani 464,14 juta penumpang sepanjang tahun 2024.
Upaya digitalisasi KAI sebenarnya telah dirintis sejak era kepemimpinan Ignasius Jonan pada 2009-2014, dengan fokus pada penghapusan praktik percaloan dan kemudahan pembelian tiket daring. Namun, implementasi AI kini memperluas cakupan transformasi tersebut, terutama dalam tiga pilar utama: pemeliharaan prediktif, peningkatan pengalaman pelanggan, serta penguatan keamanan dan keselamatan. Tantangan tradisional KAI meliputi pemeliharaan infrastruktur rel dan armada yang jika tidak terdeteksi dapat menyebabkan keterlambatan hingga kecelakaan.
Dalam aspek pemeliharaan, KAI mengadopsi sistem Predictive Maintenance berbasis AI. Teknologi ini memanfaatkan sensor yang ditempatkan pada rel, roda, mesin, dan sistem kelistrikan untuk menganalisis kondisi komponen secara waktu nyata, memprediksi potensi kerusakan, dan memberikan peringatan dini sebelum kegagalan terjadi. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi waktu henti (downtime) kereta dan menghemat biaya pemeliharaan. Contoh di Japan Railways (JR East) menunjukkan pengurangan downtime hingga 30% dengan penerapan serupa. KAI bahkan berhasil menekan biaya operasional hingga 39% dan menurunkan insiden infrastruktur dari 79 kasus menjadi 15 kasus berkat sistem digital prediktif seperti AssetWise Linear Analytics (WLA), sekaligus mengurangi emisi karbon hingga 30%.
Untuk pengalaman pelanggan, KAI berencana mengintegrasikan AI ke dalam layanan digitalnya, termasuk pengembangan berkelanjutan aplikasi Access by KAI. Bobby Rasyidin menjelaskan tiga fase pengembangan aplikasi ini: penyempurnaan fitur yang ada untuk mengurangi bug dan masalah timeout, fase advising di mana AI mulai memberikan saran proaktif (misalnya, rekomendasi perjalanan saat libur panjang), hingga fase agentic AI yang memungkinkan AI bertindak sebagai asisten perjalanan pribadi yang mengelola seluruh rencana perjalanan penumpang secara otomatis. Chatbot AI juga akan mempercepat layanan pelanggan, sementara big data digunakan untuk memahami minat dan kebiasaan pelanggan guna menghadirkan layanan yang lebih personal.
Pilar keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama dengan target nol kecelakaan (Zero Accident) pada tahun 2026. KAI menerapkan teknologi situational awareness yang memanfaatkan GPS, geotag, dan sensor untuk mendeteksi kendaraan atau objek diam di perlintasan kereta, memberikan peringatan dini, dan memungkinkan otomatisasi pengaturan perjalanan. CCTV berbasis AI menganalisis rekaman secara waktu nyata untuk mendeteksi tindakan mencurigakan seperti pencurian, perkelahian, atau sabotase, serta mencegah kecelakaan akibat bencana alam melalui sistem peringatan dini. AI juga berperan dalam respons pascakecelakaan melalui sistem deteksi otomatis (eCall) yang dapat mengirimkan data penting seperti lokasi GPS ke petugas tanggap darurat.
Transformasi ini juga mencakup aspek sumber daya manusia. Dengan hampir 70.000 karyawan, KAI menekankan bahwa teknologi AI tidak untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meningkatkan kualitas SDM dan keselamatan kerja. "Kita tidak perang dengan mesin, tapi kita menjadi bosnya komputer. Manusia punya sifat fatigue. Ketika dia lelah, tidak konsisten," ujar Bobby Rasyidin. KAI juga fokus meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan reguler agar karyawan dapat memanfaatkan teknologi baru secara optimal, yang menjadi faktor penting keberhasilan implementasi sistem digital.
Secara keseluruhan, transformasi berbasis AI ini menempatkan KAI sebagai pionir dalam penerapan teknologi digital di sektor transportasi Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya mendorong efisiensi dan keamanan operasional, tetapi juga mendukung pariwisata berkelanjutan dan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060 dengan penggunaan moda transportasi rendah emisi. Jumlah wisatawan mancanegara yang menggunakan kereta api jarak jauh telah meningkat signifikan menjadi 694.123 pada 2025, naik 3,7% dari tahun sebelumnya, mencerminkan peningkatan kepercayaan global terhadap layanan kereta api Indonesia. Inovasi ini telah diakui secara global, dengan KAI meraih Going Digital Awards 2025 berkat transformasi digital infrastruktur perkeretaapian. Ke depan, kolaborasi dengan mitra teknologi seperti Siemens Mobility juga akan memperkuat elektrifikasi dan solusi digital perkeretaapian nasional, menciptakan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi, efisien, dan berorientasi masa depan.