:strip_icc()/kly-media-production/medias/3994388/original/091955800_1649844341-shutterstock_1492448360.jpg)
Yogyakarta mengukuhkan posisinya sebagai pionir pariwisata berkelanjutan di Indonesia, menawarkan pengalaman liburan ramah lingkungan dan edukatif yang memberdayakan masyarakat lokal. Konsep ini, yang menyeimbangkan kebutuhan wisatawan dengan pelestarian alam dan budaya untuk generasi mendatang, telah menjadi fokus utama pemerintah daerah. Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menegaskan bahwa pengelolaan pariwisata harus senantiasa menempatkan pelestarian kearifan lokal serta peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai orientasi utama, guna memperkuat fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan. Komitmen ini tercermin dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) DIY 2026–2045 yang mengusung visi "Pariwisata yang Berkualitas, Berdaya Saing Tingkat Internasional, Inklusif, dan Berkelanjutan".
Sejak awal 2000-an, kesadaran akan pariwisata yang bertanggung jawab mulai tumbuh di Yogyakarta. Contohnya, Desa Sukunan di Sleman, yang sejak 2003 merintis pengelolaan sampah mandiri dan resmi dikukuhkan sebagai kampung wisata lingkungan pada 2009. Gerakan ini berawal dari keresahan warga terhadap pencemaran sampah plastik di sawah, kemudian berkembang menjadi sistem pengolahan limbah yang menghasilkan produk kerajinan dan pupuk kompos. Pengunjung kini dapat mengikuti lokakarya pengelolaan sampah dan pertanian hidroponik, menunjukkan bagaimana limbah dapat diubah menjadi nilai ekonomi. Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., menyoroti pentingnya sinergi antara pengelolaan sampah dan pengembangan pariwisata, mengingat kontribusi pariwisata mencapai 66% terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menjadi magnet utama pariwisata nasional, dengan jumlah kunjungan wisatawan nusantara mencapai 10.240.350 perjalanan selama Januari-Maret 2025, meningkat 3,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Bahkan, pada April 2025, kunjungan wisatawan mancanegara naik 124,02 persen menjadi 7.135 kunjungan dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan ini, yang mencerminkan Yogyakarta sebagai destinasi favorit wisatawan nusantara saat Bali mengalami sedikit penurunan, tidak hanya mengindikasikan daya tarik budaya dan alamnya, tetapi juga menunjukkan pergeseran motivasi wisatawan yang kini mencari ketenangan, keberlanjutan, dan spiritualitas.
Berbagai destinasi kini menawarkan pengalaman yang lebih mendalam dan bermakna. Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul, yang dinobatkan sebagai salah satu Best Tourism Village oleh UNWTO pada 2021 dan Best Tourism Village ASEAN 2017, menjadi model pengelolaan wisata berbasis alam dan budaya secara berkelanjutan. Di sini, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran, tetapi juga belajar budidaya kakao, produksi cokelat, serta konservasi air. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, menyebut Nglanggeran sebagai "role model dalam pengelolaan wisata yang berkelanjutan".
Desa Wisata Pentingsari di Sleman menawarkan kehidupan pedesaan yang autentik, di mana wisatawan dapat merasakan kegiatan tradisional seperti membajak sawah, menangkap ikan, membuat tempe, hingga mengenal pengelolaan limbah dan energi terbarukan seperti panel surya. Partisipasi langsung masyarakat lokal dalam mengelola atraksi, akomodasi (homestay), dan produk oleh-oleh menjadi fondasi utama keberlanjutan di Pentingsari.
Di Kulon Progo, Taman Sungai Mudal menonjol sebagai contoh restorasi ekosistem yang sukses. Dulunya merupakan aliran sungai yang rusak, kini menjadi kawasan dengan air terjun jernih dan suasana asri. Pengunjung dapat belajar tentang konservasi air dan berpartisipasi dalam program rehabilitasi ekosistem air. Kawasan Perbukitan Menoreh juga menjadi surga bagi pecinta alam, tempat wisatawan dapat belajar praktik konservasi dan upaya menjaga ekosistem lokal sambil menikmati trekking.
Pemerintah Daerah DIY terus memperkuat fondasi regulasi untuk pariwisata berkelanjutan, dengan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X menekankan pemberdayaan masyarakat di tingkat kalurahan dan kelurahan sebagai subjek utama pengembangan pariwisata. Dinas Pariwisata DIY berkomitmen pada pembangunan kepariwisataan berkelanjutan berbasis komunitas (Community Based Tourism/CBT) melalui koordinasi dan perencanaan yang matang. Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono, menambahkan bahwa sektor perhotelan memiliki peran penting dalam mewujudkan pariwisata hijau, termasuk melalui pengurangan penggunaan plastik, pengelolaan sampah, dan penggunaan energi ramah lingkungan.
Meskipun demikian, pembangunan pariwisata berkelanjutan dihadapkan pada sejumlah tantangan, termasuk kurangnya kesadaran dan pemahaman di kalangan wisatawan dan pelaku industri, serta kebutuhan akan infrastruktur ramah lingkungan dan pengelolaan sampah yang efektif. Dra. Prima Sari FLMI, seorang pemerhati sosial, ekonomi, dan kesehatan, menekankan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan pada intinya menjamin sumber daya alam, sosial, dan budaya dapat dinikmati generasi mendatang, dan ini membutuhkan partisipasi aktif masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Untuk mengatasinya, kolaborasi multi-pihak antara pemerintah, pelaku industri, akademisi seperti Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, dan masyarakat menjadi krusial. Universitas Gadjah Mada (UGM) sendiri telah mengkaji potensi pengembangan model pariwisata berkelanjutan di lingkungan kampusnya, termasuk museum dan taman kupu-kupu, sebagai upaya edukasi pentingnya kesadaran akan pembangunan berkelanjutan. Melalui pendekatan yang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang, Yogyakarta tidak hanya akan menjadi destinasi pariwisata yang ramai, tetapi juga ikon global yang inspiratif dan berkelanjutan.