
Jembatan gantung Juara Situ 7 Muara, ikon wisata baru di Alun-Alun Barat Kota Depok, Jawa Barat, telah ditutup total selama hampir dua bulan terakhir, sejak awal Desember 2025, memicu protes keras dari warga yang mendesak perbaikan segera atas kerusakan yang terjadi. Jembatan sepanjang 140 meter yang strategis menghubungkan wilayah Sawangan dan Bojongsari ini mengalami kerusakan signifikan pada struktur kawat seling penahan angin (tali angin) setelah tertimpa pohon besar akibat cuaca ekstrem pada 4 Desember 2025. Kerusakan ini tidak hanya mengganggu mobilitas harian tetapi juga berdampak serius pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal di sekitar Situ 7 Muara.
Penutupan jembatan yang juga dikenal sebagai Jembatan Sabojong atau Jembatan Muara Tujuh Muara ini disebabkan oleh tumbangnya satu pohon Rengas berukuran besar yang menimpa sling jembatan, mengakibatkan pondasi tiang pancang sekunder terangkat dan bergeser. Meskipun Lintang Yuniar Pratiwi, pengelola Alun-Alun Barat Kota Depok, mengonfirmasi kerusakan pada sling kanan dan terangkatnya pondasi tiang pancang sekunder, Paryono, seorang tokoh masyarakat setempat sekaligus pengurus Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), menyatakan bahwa kerusakan tersebut tergolong ringan dan seharusnya dapat ditangani lebih cepat. “Sebenarnya kalau diibaratkan kaki cuma satu kelingking yang keseleo, mungkin hanya sebentar juga dibawa ke tukang urut sembuh, nggak harus direkayasa macam-macam gitu,” ujar Paryono. Ia juga menyayangkan lambatnya penanganan dari pemerintah daerah, meskipun telah menghubungi pihak terkait dan mendapatkan janji pengerjaan dalam beberapa hari.
Situ 7 Muara, yang membentang seluas 18 hingga 27,24 hektar di antara Kecamatan Sawangan dan Bojongsari, Depok, telah lama dikenal sebagai salah satu potensi wisata air, alam, kuliner, dan budaya di selatan Depok. Jembatan Juara sendiri dibangun sebagai bagian dari upaya pengembangan Alun-Alun Barat Kota Depok, yang berfungsi ganda sebagai ruang terbuka hijau dan destinasi rekreasi masyarakat. Sejarah situ ini berawal dari rawa dengan mata air berlimpah yang memiliki cerita tersendiri dalam masa penjajahan Belanda, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat rekreasi tetapi juga sebagai area resapan air alami dan habitat flora serta fauna lokal.
Implikasi penutupan jembatan ini meluas. Bagi warga sekitar, Jembatan Juara bukan sekadar penghubung fisik, melainkan juga jalur penting untuk aktivitas sehari-hari, termasuk berolahraga dan akses ke berbagai fasilitas. Ahmad (38), seorang warga, mengungkapkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi jembatan yang rentan pasca-hujan deras, yang membuat tiang terlihat miring dan mendorong warga untuk saling mengingatkan agar tidak melintas. Penutupan ini juga memukul mundur pelaku UMKM yang menggantungkan pendapatan dari keramaian pengunjung di Alun-Alun Barat, serta menyebabkan kekecewaan di kalangan wisatawan.
Lintang Yuniar Pratiwi juga mengungkapkan bahwa belum ada alokasi anggaran resmi untuk perbaikan karena insiden tersebut terjadi setelah pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas dan mekanisme tanggap darurat pemerintah daerah terhadap kerusakan infrastruktur vital. Ketiadaan jembatan ikonik ini tidak hanya menghilangkan daya tarik utama Alun-Alun Barat, tetapi juga menunda potensi pemulihan ekonomi lokal yang bergantung pada sektor pariwisata. Masyarakat kini "sangat menanti jembatan ini dibuka kembali," sebagaimana ditegaskan Paryono, yang juga mendesak agar penanganan dipercepat tanpa birokrasi berlarut-larut.