Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jejak Terakhir Kafe Pinggir Rel Ikonik Hanoi Train Street

2026-01-12 | 06:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T23:41:51Z
Ruang Iklan

Jejak Terakhir Kafe Pinggir Rel Ikonik Hanoi Train Street

Pemerintah kota Hanoi telah mengeluarkan peringatan keras kepada pemilik kafe di "Jalan Kereta Api" yang ikonik, menuntut penutupan permanen semua bisnis pada akhir Januari 2026, sebagai langkah signifikan dalam mengatasi kekhawatiran keselamatan publik yang telah berlangsung lama. Langkah ini, yang secara efektif akan mengakhiri salah satu daya tarik wisata paling unik di ibu kota Vietnam, datang setelah serangkaian insiden keamanan, termasuk gangguan jadwal kereta api dan risiko cedera turis yang berpose terlalu dekat dengan rel aktif. Kebijakan ini menggarisbawahi prioritas keamanan pemerintah di atas daya tarik wisata yang tidak diatur, memicu perdebatan sengit antara regulator, operator bisnis lokal, dan industri pariwisata internasional.

Jalan Kereta Api Hanoi, segmen sempit jalur kereta api yang melintasi kawasan perumahan padat di distrik Hoan Kiem dan Dong Da, telah berkembang dari lorong kereta api biasa menjadi fenomena wisata global dalam satu dekade terakhir. Daya tariknya terletak pada pemandangan dramatis kereta yang melaju hanya beberapa inci dari deretan kafe dan rumah, menciptakan pengalaman yang mendebarkan bagi pengunjung. Lokasi ini semakin populer melalui media sosial dan situs perjalanan daring, menarik ribuan turis setiap tahunnya. Namun, pertumbuhan tidak terkontrol ini menimbulkan tantangan serius terhadap operasional kereta api nasional dan keselamatan publik. Otoritas kereta api telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran tentang lalu lintas pejalan kaki yang tinggi di sepanjang rel, yang secara teknis masih merupakan jalur aktif yang melayani kereta api penumpang dan kargo. Pada Oktober 2019, pejabat telah mencoba menutup kafe-kafe tersebut setelah beberapa insiden di mana turis terlalu dekat dengan kereta api yang melaju, dan operator kafe sering melanggar peraturan keamanan. Penutupan sementara sempat diberlakukan, namun banyak kafe yang secara diam-diam beroperasi kembali, mengindikasikan kesulitan penegakan hukum di lapangan.

Keputusan terbaru ini bukan tanpa preseden. Pada tahun 2022, otoritas Vietnam melakukan tindakan serupa dengan menutup banyak kafe dan toko di sepanjang "Jalan Kereta Api" setelah sebuah kereta harus melakukan pengereman darurat untuk menghindari tabrakan dengan turis yang berfoto di rel. Menteri Transportasi Vietnam, Nguyen Van Thang, telah menegaskan pentingnya menempatkan keselamatan di atas segalanya, mengutip laporan dan peringatan berulang dari Perusahaan Kereta Api Vietnam (VNR) tentang risiko kecelakaan. VNR sendiri telah mengidentifikasi setidaknya 30 pelanggaran keselamatan di sepanjang jalur tersebut. Otoritas lokal berencana untuk memasang barikade di jalur kereta api dan menerapkan denda yang lebih berat bagi operator bisnis yang melanggar peraturan.

Implikasi penutupan permanen ini akan terasa luas. Bagi puluhan pemilik kafe dan bisnis kecil yang menggantungkan hidup mereka pada industri pariwisata di Jalan Kereta Api, kebijakan ini berarti hilangnya mata pencarian secara tiba-tiba. Banyak dari mereka telah berinvestasi dalam renovasi dan pemasaran, dan kini menghadapi masa depan yang tidak pasti tanpa kompensasi yang jelas. Beberapa pemilik kafe, seperti Ibu Nguyen Thi Anh, seorang veteran penjual kopi di area tersebut, menyatakan kekecewaan mendalam atas kurangnya dialog dan solusi alternatif yang ditawarkan oleh pemerintah. "Kami mengerti masalah keamanan, tetapi ada cara lain daripada penutupan total," katanya.

Dari sudut pandang pariwisata, Jalan Kereta Api telah menjadi salah satu ikon Hanoi yang paling dikenal secara internasional. Penutupannya berpotensi mengurangi daya tarik kota bagi segmen turis tertentu yang mencari pengalaman unik dan otentik. Meskipun Hanoi menawarkan banyak situs bersejarah dan budaya lainnya, daya tarik yang dihasilkan dari interaksi unik antara kehidupan lokal dan jalur kereta api aktif akan sulit digantikan. Beberapa operator turis mengungkapkan kekhawatiran bahwa ini dapat mempengaruhi keputusan perjalanan bagi wisatawan yang menempatkan "Train Street" dalam daftar kunjungan utama mereka.

Namun, pejabat kota bersikeras bahwa langkah ini krusial untuk menjaga integritas sistem kereta api nasional dan mencegah insiden yang lebih serius. Mereka berargumen bahwa tidak ada jumlah pendapatan pariwisata yang dapat membenarkan risiko hilangnya nyawa atau cedera. Pemerintah Hanoi sedang menjajaki pengembangan alternatif wisata yang lebih terstruktur dan aman, meskipun rinciannya masih belum jelas. Penutupan kafe-kafe di Jalan Kereta Api ini merefleksikan tantangan yang lebih besar yang dihadapi banyak kota yang berkembang pesat: bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan pariwisata dan pelestarian identitas lokal dengan kebutuhan akan keselamatan, regulasi, dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Keputusan ini secara definitif akan mengubah lanskap wisata Hanoi, mengakhiri sebuah era bagi salah satu daya tarik paling tidak biasa di Asia Tenggara.