Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Influencer Soroti Akses Borobudur Kurang Inklusif Bagi Lansia dan Disabilitas, TWC Beri Tanggapan Resmi

2026-01-04 | 16:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T09:16:59Z
Ruang Iklan

Influencer Soroti Akses Borobudur Kurang Inklusif Bagi Lansia dan Disabilitas, TWC Beri Tanggapan Resmi

Kritik terhadap aksesibilitas Candi Borobudur bagi lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas kembali mencuat setelah seorang influencer membagikan pengalamannya di media sosial baru-baru ini. Influencer dengan akun Instagram @jalanbarengarief melaporkan adanya pengunjung lansia yang kelelahan dan dipaksa untuk terus berjalan oleh petugas saat hendak meninggalkan area pelataran Candi Borobudur. PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC) sebagai pengelola situs warisan dunia ini telah memberikan tanggapan atas kritik tersebut, menyoroti kompleksitas antara upaya pelestarian dan kebutuhan inklusivitas.

Isu aksesibilitas di Candi Borobudur bukanlah permasalahan baru. Sejak 2019, tuntutan untuk akses hingga ke puncak candi bagi kelompok dengan keterbatasan fisik telah muncul, namun belum ada tindak lanjut komprehensif hingga polemik pemasangan _stairlift_ menjelang kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden RI Prabowo Subianto pada Mei 2025. Pemasangan empat unit _stairlift_ portabel yang membentang dari lantai tiga hingga lantai tujuh candi ini bertujuan membantu lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang kesulitan fisik menikmati Borobudur hingga lantai tertinggi tanpa merusak struktur candi melalui teknik tanpa pengeboran. Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan bahwa semua komponen _stairlift_ bersifat portabel dan dapat dibongkar pasang tanpa meninggalkan bekas.

Candi Borobudur, sebagai monumen Buddha terbesar di dunia yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991, memiliki arsitektur punden berundak dengan 10 tingkatan yang melambangkan tahapan kehidupan manusia. Struktur ini, meskipun megah, secara inheren menimbulkan tantangan aksesibilitas bagi individu dengan mobilitas terbatas. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas secara eksplisit mengamanatkan pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin aksesibilitas terhadap fasilitas publik, termasuk situs keagamaan dan budaya, serta menyediakan akomodasi yang layak. Namun, implementasinya di lapangan, khususnya pada situs cagar budaya yang memerlukan perlindungan ketat, masih menjadi perdebatan.

Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA), Jhohannes Marbun, mengapresiasi penggunaan _chairlift_ portabel namun mendesak kajian lebih menyeluruh soal aksesibilitas jangka panjang. MADYA menekankan bahwa prinsip pelestarian tidak bertentangan dengan inklusivitas, bahkan keduanya dapat saling menguatkan. Komitmen pemerintah melalui InJourney (induk PT TWC) untuk memperkuat transformasi Candi Borobudur sebagai destinasi pariwisata kultural-spiritual dunia telah mengedepankan prinsip inklusivitas yang ramah lansia dan difabel. Beberapa situs warisan dunia lain seperti Acropolis Athena di Yunani dan Tembok Besar China juga telah mengadopsi solusi aksesibilitas serupa. Angkor Wat di Kamboja juga menyediakan tangga khusus dan rute yang lebih mudah diakses bagi kelompok lansia dan disabilitas.

Namun, kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang terhadap Outstanding Universal Value (OUV) Borobudur tetap ada. Pengembangan yang tidak sesuai dengan analisis dampak pusaka (Heritage Impact Assessment/HIA) dapat mengancam status warisan dunia UNESCO. Anggota Komite Eksekutif Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs (ICOMOS) Indonesia, Soehardi Hartono, pada tahun 2021 bahkan menyatakan bahwa status Borobudur terancam karena pembangunan yang dapat membahayakan potensi dan integritas situs. Permasalahan ini mencakup keausan batuan tangga akibat gesekan alas kaki pengunjung, tindakan vandalisme, dan kurangnya edukasi wisatawan.

Penelitian pada tahun 2024 menunjukkan bahwa Taman Wisata Candi Borobudur "cukup layak" dalam hal aksesibilitas disabilitas, tetapi masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Fasilitas seperti _ramp_ dianggap cukup layak, namun toilet disabilitas masih belum menyeluruh. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi, bahkan mengusulkan _stairlift_ sebagai fasilitas permanen untuk jangka panjang, berangkat dari semangat inklusivitas. Namun, politisi My Esti dari Fraksi PDI-Perjuangan mengingatkan bahwa Borobudur bukan hanya objek wisata, melainkan tempat ibadah dan pusat spiritual umat Buddha, sehingga fungsi religius harus menjadi prioritas utama. Ia berpendapat bahwa tidak semua harus naik hingga puncak; keindahan candi tetap bisa dinikmati dari kejauhan, dan mekanisme ibadah bagi lansia atau umat dapat diatur tanpa merusak struktur.

Ke depan, PT TWC dan pihak terkait menghadapi tantangan signifikan dalam menyeimbangkan konservasi ketat situs warisan dunia dengan tuntutan hak aksesibilitas bagi semua lapisan masyarakat. Pembatasan jumlah pengunjung pada waktu tertentu telah diterapkan untuk menjaga suasana kondusif dan kelestarian candi. Solusi yang berkelanjutan membutuhkan dialog multipihak, melibatkan pemerintah, pengelola, ahli konservasi, komunitas disabilitas, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk merumuskan strategi inklusif yang menghormati integritas Borobudur sembari memenuhi hak-hak dasar pengunjung.