:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471899/original/022956400_1768298129-WhatsApp_Image_2026-01-13_at_05.16.39.jpeg)
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kebudayaan, baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan dua institusi permuseuman terkemuka di Amerika Serikat, Smithsonian National Museum of Natural History dan The Metropolitan Museum of Art (MoMA). Penandatanganan ini, yang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menandai langkah strategis dalam memperkuat diplomasi budaya dan meningkatkan kapasitas pengelolaan museum Indonesia di kancah internasional. Perjanjian ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mentransformasi peran museum domestik menjadi wahana edukasi publik dan dialog sejarah, bukan hanya sebagai gudang artefak.
Langkah tersebut memperluas cakupan kerja sama permuseuman yang telah terjalin. Sebelumnya, pada November 2023, Indonesia telah meneken MoU dengan National Museum of Asian Art (NMAA), bagian dari Smithsonian Institution, yang berfokus pada pemajuan museum dan pelestarian warisan budaya. Implementasi dari MoU 2023 ini terus ditindaklanjuti, termasuk melalui kunjungan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo ke NMAA pada November 2025, yang membahas mentorship jangka panjang, program komunitas, dan rencana pameran bersama di Amerika Serikat pada tahun 2027. NMAA diketahui menyimpan 36 objek asal Indonesia dari total 46.000 koleksinya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya kerja sama ini untuk pengembangan benda cagar budaya dan revitalisasi museum di Indonesia. Ia juga menyoroti keberhasilan repatriasi koleksi penting seperti fosil Homo erectus milik Eugene Dubois ke Indonesia. Charge d'Affaires Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter M. Haymond, menyambut baik potensi kolaborasi budaya tersebut. Haymond menyebutkan adanya program-program AS yang dirancang untuk mendokumentasikan dan mendigitalisasi bahasa lokal, sebuah inisiatif yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem katalogisasi digital yang tengah dikembangkan. Ini sejalan dengan peluncuran program "Koleksi Kita" pada Juli 2025, yang didukung U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP), melibatkan 12 museum di Jakarta untuk memperkuat sistem dokumentasi dan akses publik terhadap warisan budaya Indonesia, dengan perhatian khusus pada kesiapan menghadapi bencana.
Data Kementerian Kebudayaan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kunjungan ke museum dan situs cagar budaya. Sepanjang tahun 2025, jumlah pengunjung mencapai 4.322.507 orang di 18 museum dan 34 cagar budaya yang dikelola oleh Museum dan Cagar Budaya (MCB), sebuah kenaikan sebesar 9,3 hingga 10,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Museum Nasional Indonesia menjadi kontributor terbesar dengan 700.000 pengunjung pada 2025, meningkat 400 persen dari tahun sebelumnya. Untuk mendukung keberlanjutan dan meningkatkan apresiasi, harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia juga mengalami penyesuaian, naik menjadi Rp50.000 untuk dewasa per 1 Januari 2026.
Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan bahwa kerja sama global ini esensial untuk mengatasi tantangan krusial di sektor warisan budaya, khususnya melalui pertukaran ilmu dan pengetahuan antar ahli. Fokus kerja sama meliputi pertukaran pengetahuan, pelatihan peningkatan kapasitas, penelitian bersama, serta pengembangan program museum termasuk edukasi publik dan pelestarian warisan budaya. Saat ini, terdapat 516 museum di seluruh Indonesia yang telah terdaftar dan distandardisasi oleh Kementerian Kebudayaan. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa tujuan ke depan adalah menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan pemersatu, alat penguat identitas, dan sumber kesejahteraan, yang tidak hanya berfokus pada perlindungan, tetapi juga pengembangan dan pemanfaatan budaya secara berkelanjutan. Upaya ini turut didukung oleh kembalinya enam artefak budaya Indonesia dari Amerika Serikat pada Desember 2024, yang diserahkan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan kini akan dipelajari lebih lanjut di Museum Nasional Indonesia. Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat menempatkan Indonesia pada posisi terdepan dalam diplomasi budaya global, memperkuat narasi identitas bangsa, serta menarik lebih banyak wisatawan dan peneliti internasional.