
Jembatan Gantung atau Jembatan Juara di Alun-Alun Barat Depok (Albar), ikon utama destinasi wisata baru tersebut, ditutup sementara sejak 4 Desember 2025 menyusul kerusakan parah akibat cuaca ekstrem. Penutupan akses ini menyebabkan kekecewaan di kalangan pengunjung yang biasa menikmati fasilitas tersebut, sementara Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) tengah mengkaji langkah perbaikan yang diperkirakan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Kerusakan jembatan gantung sepanjang 168 meter yang melintasi Situ Tujuh Muara itu terjadi ketika hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Depok, khususnya Bojongsari dan Sawangan, pada awal Desember 2025. Sebuah pohon Rengas besar yang tumbuh di luar area pagar roboh menimpa tali sling penyeimbang di sisi kanan jembatan yang terhubung dengan tiang pancang sekunder. Muhammad Eza, seorang petugas keamanan di lokasi, menjelaskan bahwa insiden ini menyebabkan pondasi tiang pancang sekunder terangkat dan mengalami keretakan, menjadikannya tidak aman bagi pengunjung. Selain jembatan, tiang CCTV dan tenda-tenda UMKM di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa karena kejadian berlangsung menjelang jam operasional alun-alun berakhir.
Kepala DLHK Kota Depok, Abdul Rahman, menegaskan penutupan jembatan ini merupakan langkah pengamanan demi keselamatan warga dan pengunjung. Ia menyatakan bahwa kondisi ini murni akibat bencana alam, bukan kelalaian atau kesalahan konstruksi, dan meminta pengertian masyarakat. DLHK saat ini berkoordinasi dengan pihak pelaksana dan tim supervisi jembatan untuk mendapatkan rekomendasi teknis penanganan dan perbaikan. Meskipun demikian, area taman Alun-Alun Barat Depok lainnya tetap dibuka untuk umum.
Alun-Alun Barat Depok, atau yang akrab disapa Albar, diresmikan oleh Wali Kota Depok pada 19 September 2024. Pembangunannya menelan anggaran sebesar Rp 58 miliar, di mana Rp 13 miliar di antaranya dialokasikan khusus untuk pembangunan jembatan gantung tersebut. Lokasi ini didesain sebagai ruang terbuka hijau yang lebih alami dan minim gedung tinggi dibandingkan Alun-Alun Timur, menjadikannya destinasi favorit baru bagi warga Depok dan sekitarnya. Sebelum penutupan jembatan dan dipengaruhi cuaca buruk, Albar mencatat jumlah pengunjung yang signifikan, mencapai 15.000 orang di akhir pekan dan bahkan sempat menyentuh angka 17.000 hingga 18.000 pada puncak awal pembukaannya. Namun, setelah itu, jumlah pengunjung sempat menurun drastis hingga sekitar 5.000 orang pada akhir pekan cerah, terutama karena pengaruh musim hujan. Penurunan ini juga berdampak pada pendapatan pedagang UMKM yang beroperasi di sekitar area tersebut.
Meskipun bagian taman tetap dapat diakses, penutupan jembatan gantung sebagai ikon utama diproyeksikan akan terus mempengaruhi daya tarik Albar hingga perbaikan selesai. Ketidakpastian jadwal perbaikan menimbulkan kekhawatiran tentang dampak jangka panjang terhadap sektor pariwisata lokal dan ekonomi UMKM di sekitarnya. Terdapat harapan dari masyarakat dan pedagang agar pengelola dapat lebih kreatif dalam mengadakan kegiatan menarik, seperti lomba mewarnai atau senam zumba, untuk mempertahankan minat pengunjung di tengah kondisi ini. Sementara itu, diskusi mengenai kemungkinan pembukaan Alun-Alun Kota Depok selama 24 jam telah muncul sebelumnya, menunjukkan aspirasi masyarakat untuk aksesibilitas yang lebih luas terhadap ruang publik.