Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Horor di Rel Machu Picchu: Turis Ungkap Detik-detik Kecelakaan Kereta

2026-01-02 | 23:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T16:15:49Z
Ruang Iklan

Horor di Rel Machu Picchu: Turis Ungkap Detik-detik Kecelakaan Kereta

Ketika dua kereta pengangkut turis bertabrakan secara langsung di jalur tunggal yang menuju situs arkeologi Machu Picchu yang termasyhur di Peru pada Selasa, 30 Desember 2025, satu pekerja kereta api tewas dan puluhan penumpang, termasuk warga negara asing, terluka parah, memicu kekacauan dan menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan di salah satu koridor wisata paling vital di Amerika Selatan. Insiden itu terjadi pada sore hari, sekitar pukul 13.20, di dekat Qoriwayrachina, sebuah situs arkeologi di jalur yang menghubungkan Ollantaytambo dengan Aguas Calientes, kota di bawah benteng Inca.

Pemandangan di lokasi kecelakaan menggambarkan benturan brutal; gerbong-gerbong kereta tampak dengan jendela pecah dan sisi-sisi yang penyok, terjebak di jalur kereta api yang diapit hutan lebat dan dinding batu besar. Foto dan video yang beredar di media sosial segera setelah kecelakaan menunjukkan lokomotif yang rusak parah saling berhadapan, pecahan kaca berserakan, dan orang-orang terluka dirawat di sisi rel. Korban tewas diidentifikasi sebagai Roberto Cárdenas, seorang kondektur kereta. Sebanyak 30 hingga 40 orang mengalami luka-luka, dengan sekitar 20 di antaranya dilaporkan dalam kondisi yang relatif serius. Di antara para korban luka adalah sejumlah warga negara Inggris, Kanada, Tiongkok, dan Amerika Serikat, yang dikonfirmasi oleh kedutaan masing-masing negara.

Tabrakan melibatkan kereta yang dioperasikan oleh PeruRail dan kereta lain milik Inca Rail. Jalur kereta api menuju Machu Picchu dikenal sebagai jalur tunggal yang memerlukan koordinasi ketat untuk perjalanan dua arah, termasuk pemberhentian paksa dan pengalihan sesekali agar kereta dapat bergantian melintas. Belmond Ltd, anak perusahaan mewah LVMH yang memiliki kepentingan di PeruRail, secara eksplisit menyalahkan Inca Rail, menuduh bahwa kereta Inca Rail telah melaju melewati bagian jalur yang tidak diizinkan dan gagal berhenti di titik yang ditentukan. Menurut Belmond, kereta Inca Rail melaju sekitar 400 meter melewati batas area jalur yang diotorisasi sebelum menabrak. Inca Rail menanggapi dengan menyatakan bahwa menarik kesimpulan sebelum penyelidikan selesai dapat "menghasilkan interpretasi yang bias terhadap fakta yang masih diverifikasi".

Penyelidikan resmi telah diluncurkan oleh jaksa di Cusco untuk menentukan penyebab tabrakan, dengan kemungkinan kegagalan mekanis, kesalahan sinyal, atau kelalaian manusia. Ernesto Alvarez, seorang pejabat pemerintah, mengindikasikan bahwa kecelakaan itu kemungkinan disebabkan oleh kesalahan manusia, di mana seorang masinis diduga mengabaikan sinyal keselamatan. Sebagai bagian dari penyelidikan, empat karyawan PeruRail ditahan dan menjalani tes alkohol.

Insiden ini secara signifikan mengganggu perjalanan bagi ribuan turis. Sekitar 2.000 penumpang, terdiri dari 700 warga Peru dan 1.300 wisatawan internasional, dilaporkan terdampar di kota Aguas Calientes setelah layanan kereta api dihentikan tanpa batas waktu. Evakuasi darurat dan pemulihan layanan kereta api dilakukan secara bertahap pada 31 Desember 2025, untuk mengatasi penumpukan penumpang. Lokasi kecelakaan yang terpencil di Andes tanpa akses jalan langsung mempersulit upaya penyelamatan, dengan selusin ambulans dan personel medis harus dikirim ke lokasi.

Kecelakaan ini menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi di wilayah yang sangat bergantung pada pariwisata. Machu Picchu, Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1983, menarik rata-rata 4.500 pengunjung setiap hari, dengan total sekitar 1,5 juta pengunjung per tahun, yang sebagian besar tiba dengan kereta api. Meskipun angka pengunjung telah meningkat sekitar 25% dalam satu dekade terakhir, sektor pariwisata di wilayah tersebut juga rentan terhadap ketidakstabilan politik dan protes, yang terkadang menyebabkan pemblokiran jalur kereta api. Sejarah insiden di jalur ini, termasuk beberapa penggelinciran karena longsoran batu dan tabrakan sebelumnya pada Juli 2018 yang melukai 16 orang, menggarisbawahi tantangan geografis dan operasional yang dihadapi operator kereta api di Peru. Implikasi jangka panjang dari tragedi ini kemungkinan akan memicu evaluasi ulang protokol keselamatan yang ada dan mendorong investasi lebih lanjut dalam sistem pensinyalan dan koordinasi di jalur tunggal yang menantang ini.