
Empat penerbangan maskapai Citilink terpaksa dialihkan pendaratannya pada Senin, 12 Januari 2026, menyusul cuaca buruk ekstrem yang melanda wilayah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang, Banten, yang menyebabkan jarak pandang minim di seluruh landasan pacu. Insiden ini, yang terjadi antara pukul 05.00 hingga 10.00 WIB, menjadi bagian dari total 31 pengalihan penerbangan dan 109 penundaan yang dialami Bandara Soekarno-Hatta pada hari yang sama.
Jarak pandang di ketiga landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta tercatat di bawah 1.000 meter, batas minimum yang diizinkan untuk prosedur pendaratan pesawat, demikian pernyataan EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro. "Langkah ini adalah bagian dari layanan navigasi yang harus kami lakukan, mengacu pada kondisi cuaca buruk yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan. Semua dilakukan berdasarkan aturan dan ketentuan, serta dengan satu alasan, yaitu untuk keselamatan penerbangan," jelas Hermana. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan penumpukan lalu lintas kedatangan (arrival traffic) di wilayah udara Jakarta, dengan sekitar 15 pesawat melakukan holding selama 40 menit hingga 1 jam sebelum mengambil keputusan pendaratan atau pengalihan.
Penerbangan Citilink yang mengalami pengalihan meliputi rute QG 937 dari Pekanbaru menuju Jakarta yang dialihkan ke Tanjung Karang, QG 301 dari Manado ke Jakarta dialihkan ke Bandara Halim Perdanakusuma, QG 325 dari Palu ke Jakarta dialihkan ke Tanjung Pandan, dan QG 913 dari Kualanamu ke Jakarta yang juga dialihkan ke Tanjung Karang. Selain Citilink, maskapai lain seperti Batik Air (10 penerbangan), Super Air Jet (3 penerbangan), dan AirAsia (1 penerbangan) juga mengalami pengalihan pendaratan pada hari yang sama ke berbagai bandara alternatif termasuk Halim Perdanakusuma, Yogyakarta, Palembang, Lampung, Semarang, dan Solo.
General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Heru Karyadi, menegaskan bahwa operasional bandara terus berkoordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem. Meskipun fasilitas sisi udara seperti apron, taxiway, dan keseluruhan runway tetap beroperasi normal tanpa genangan, akses jalan menuju bandara sempat terganggu akibat banjir di beberapa titik, memperlambat perjalanan penumpang. Heru mengimbau penumpang untuk tiba tiga jam lebih awal dari waktu penerbangan guna mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal dan kepadatan lalu lintas.
Insiden seperti ini bukan kali pertama terjadi di Bandara Soekarno-Hatta. Pada 28 Januari 2025, sebanyak 23 penerbangan, termasuk 4 penerbangan internasional, juga sempat dialihkan pendaratannya akibat cuaca ekstrem dan jarak pandang yang terbatas. Deputi GM Operasi 5 Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC), Didik Agus Suryono, saat itu menyatakan bahwa pengalihan merupakan prosedur standar keselamatan jika pesawat tidak dapat mendarat di bandara tujuan. Pola cuaca yang tidak menentu, terutama saat musim penghujan, secara rutin menantang operasional penerbangan di Indonesia.
Implikasi dari pengalihan dan penundaan penerbangan ini meluas. Bagi maskapai, pengalihan pendaratan berarti peningkatan biaya operasional yang signifikan, termasuk biaya bahan bakar tambahan, biaya pendaratan di bandara alternatif, dan penyesuaian jadwal kru serta pesawat yang rumit. Selain itu, reputasi dan kepercayaan pelanggan dapat tergerus akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Dari sisi penumpang, penundaan dan pengalihan berpotensi menyebabkan kerugian finansial akibat koneksi penerbangan terputus, pembatalan akomodasi, atau kehilangan janji penting. Maskapai biasanya menawarkan opsi pengembalian dana atau penjadwalan ulang sesuai kebijakan yang berlaku, namun hal ini tidak selalu mengkompensasi seluruh kerugian penumpang.
Secara jangka panjang, frekuensi kejadian serupa menyoroti kebutuhan berkelanjutan untuk peningkatan infrastruktur dan teknologi navigasi penerbangan di bandara-bandara utama, khususnya dalam menghadapi perubahan iklim yang dapat memperparah kondisi cuaca ekstrem. Pengembangan sistem prakiraan cuaca yang lebih akurat dan real-time, serta peningkatan kapasitas bandara alternatif, akan menjadi krusial untuk menjaga kelancaran dan keselamatan operasional penerbangan di masa depan. Manajemen lalu lintas udara yang proaktif, seperti penerapan ground delay di bandara keberangkatan, juga terbukti efektif mengurangi kepadatan di wilayah udara Jakarta saat cuaca buruk.